Makassar Belum Smart City

foto0021

Anjungan Pantai Losari jadi landmark kota Makassar

Kota-kota besar di Indonesia berlomba-lomba mempercantik diri demi menyandang sebutan Smart City.

Sebutan kota yang menjadi acuan smart city masih terpaku pada negara-negara maju yang memang secara infrastruktur, teknologi, dan ekonomi selalu mengalami peningkatan. Penerapan teknologi informasi di negara tersebut untuk menopang pengimplementasian kota pintar sudah dirancang jauh-jauh hari agar berdampak positif bagi kesejahteraan masyarakat. Bagaimana dengan Indonesia?

Beberapa kota-kota di Indonesia masih meraba-meraba akan seperti apa penerapan smart city di kota mereka, bagi setiap kepala daerah tentu memiliki visi misi tersendiri terkait wujud kota pintar yang sesuai dengan kebutuhan dan anggaran. Namun khusus kota Makassar sampai sejauh mana pembangunan yang berbasis teknologi informasi tersebut, sudahkan membawa manfaat bagi masyarakat?

Sejak tampuk pimpinan kepala daerah dipegang Ilham Arif Sirajuddin, wali kota Makassar dua periode terdahulu. Gaung smart city mulai kencang berhembus namun hingga jabatan wali kota berganti ke Moh. Ramdhan Pomanto, Makassar masih memprioritaskan pembangunan infrastruktur untuk menarik wisatawan. Revitalisasi Pantai Losari sekaligus reklamasi yang menjadi pondasi smart city kini masih menyisakan kontroversi.

Di bawah arahan pak wali kota yang baru, Makassar coba berbenah dan kembali melanjutkan rencana penerapan kota pintar. Sejak dilantik pada 8 Mei 2014, Danny (sapaan akrabnya) menggambarkan bagaimana desain smart city yang merupakan program yang mengintegrasikan beragam pelayanan masyarakat secara online. Sehingga masyarakat tak lagi terpaku pada pelayanan konvensional yang menyita banyak waktu, tenaga, dan biaya.

Mulai dari e-goverment menyatukan beberapa SKPD di lingkup pemkot Makassar agar memudahkan komunikasi dan distribusi surat-surat antar SKPD, hingga layanan kesehatan yang bisa diakses via SMS untuk mendaftar dan berkonsultasi dengan dokter, meski kenyataan di lapangan khususnya yang menjadi peserta BPJS sering mengalami banyak kendala.

Bagi masyarakat yang ingin mengurus KTP, KK, surat ahli waris, surat keterangan domisili, hingga surat keterangan tidak mampu bisa dilayani dengan sistem online. Kedengarannya sangat indah dan mencirikan kota pintar yang semua berjalan dengan dukungan teknologi, namun sayang dari sekian banyak program smart city yang pak wali kota canangkan mungkin yang terealisasi masih bisa dihitung jari.

Smart city, contohlah Bandung

Tak hanya Makassar yang terobsesi menjadi kota pintar dengan segudang program dan layanan berbasis digital, ada beberapa kota di Indonesia yang mulai menerapkan smart city, salah satunya Bandung. Dengan beragam inovasi yang diimplementasikan sang wali kota, Ridwan Kamil membawa Bandung menjadi kota yang memiliki koneksi terintegrasi ke berbagai layanan publik. Seperti kesehatan, pendidikan, transportasi, bisnis, pengelolaan pemerintahan, dan pariwisata.

Pencanangan program 100.000 wifi dan menerbitkan smart card merupakan beberapa implementasi wujud dari kota pintar di kota Bandung, tujuannya tentu saja untuk memudahkan pemanfaatan berbagai layanan publik dan pemantauan kinerja pegawai pemerintah. Dengan sederet inovasi yang dilakukan Kang Emil untuk mengimplementasikan smart city membawa Bandung sebagai salah satu finalis World Smart City Award 2015.

Tak salah jika Makassar mencontoh Bandung yang lebih siap dari segi mental dan fisik untuk menerapkan program smart city, warga Makassar pun sepertinya masih butuh proses untuk bisa menjajal beragam layanan publik secara online meski tak dipungkiri segala aktivitas warga kini tak bisa lepas dari peran perangkat elektronik.

Sebelum kota Makassar menjelma sebagai kota pintar sebaiknya perbaiki dulu tata kelola, prosedur, dan kualitas pelayanan publik yang selama ini banyak mengalami kendala, jika untuk perpanjang KTP atau mengurus surat nikah saja warga sering dipersulit, dan kantor-kantor pemerintah masih ada yang belum maksimal memanfaatkan teknologi untuk melayani masyarakat. Mungkin harapan warga Makassar untuk bisa menikmati kemudahan yang ditawarkan smart city harus dipendam lebih lama lagi.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply to Irwin Andriyanto Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE