Madrid Ukir Sejarah, Juve Spesialis Runner Up

The Winner Of European Champion League 2017

Final Liga Champions jadi milik Real Madrid dan jadi tim pertama yang mampu juara dua kali secara beruntun.

Seperti musim-musim sebelumnya, saya tak terlalu mengikuti hasil pertandingan Liga Champions, apalagi kalau bukan karena tak ada Inter yang ikut berpartisipasi di kompetisi paling elit di Benua Biru itu. Namun saya selalu antusian menantikan laga final yang mempertemukan dua tim hebat yang tentu saja sudah terbukti ketangguhannya sejak fase grup hingga bisa melaju hingga ke partai puncak.

Madrid Tim Pertama Juara UCL Beruntun

Musim ini tak ada kejutan terjadi di Liga Champions, tim yang berlaga di final adalah tim yang sudah akrab dengan euforia partai akhir dan langganan juara. Madrid misalnya, sebelum melakoni laga final musim ini, Los Blancos adalah tim juara bertahan yang musim lalu mengalahkan Atletico Madrid dan telah mengoleksi 11 trofi Liga Champions. Hasil tersebut menjadikan Madrid sebagi tim tersukses di kompetisi yang diikuti klub-klub elit Eropa.

Sedangkan Juventus meski telah merasakan sembilan kali final Piala/Liga Champions namun Bianconeri hanya merasakan dua kali juara yakni pada 1985 dan 1996. Musim ini Juve berharap bisa mengangkat trofi Liga Champions sekaligus melengkapi dua gelar sebelumnya scudetto dan Coppa Italia yang sebelumnya telah diraih tim asuhan Massimiliao Allegri. Namun mimpi Juventus untuk merengkuh treble pertamanya pun harus kandas karena kalah 1-4 dari Real Madrid.

Kemenangan atas Juventus mencatatkan Real Madrid sebagai tim pertama yang mampu mempertahankan gelar Liga Champions dua kali secara beruntun, sejak format kompetisi berganti ke Liga Champions pada musim 1992-1993 belum ada satu tim pun yang mampu masuk dua final beruntun dan jadi juara. MU pernah merasakan dua final Liga Champions beruntun yakni pada 2008 dan 2009 namun hanya bisa juara di tahun 2008.

Tak ada yang menyangka Juve bakal diberondong empat gol, dua gol Ronaldo dan masing-masing gol dari Casemiro dan Marco Asensio. Saya termasuk orang yang tak mengira penampilan Juve bakal jadi antiklimaks mengingat sejak fase grup gawang Gianluigi Buffon hanya kebobolan tiga gol, belum pernah kalah, dan mampu mengandaskan perlawanan Bercelona di babak perempatfinal menjadi modal menterang Juve melangkah ke partai puncak.

Bahkan trennya dalam 10 tahun terakhir, tim yang bisa mengalahkan Barca dipercaya punya peluang lebih besar untuk jadi juara seperti yang dilakukan Inter (2009-2010), Chelsea (2011-2012), dan Bayern Muenchen (2012-2013). Namun sayang tren tersebut tak berlaku bagi Nyonya Tua yang harus mengubur impiannya meraih titel Liga Champions dan juga raihan treble mengikuti jejak Inter pada 2010 lalu.

Kado Pahit Sang Legenda

Laga Final Liga Champions musim ini jadi spesial bagi kiper sekaligus kapten Juventus, Gianluigi Buffon. Di penghujung kariernya, pria asala Italia yang kini berusia 39 tahun pun berharap bisa mengakhirinya dengan trofi Liga Champions yang selama ini belum pernah ia rasakan. Ketangguhan Buffon menjaga lini akhir pertahanan Juventus memang tidak diragukan lagi, statistik mentereng kiper yang bergabung dengan Juventus sejak tahun 2001 itu membuatnya jadi andalan dan kartu truf Bianconeri meraih beragam titel juara.

Selama kariernya di Liga Champions, Buffon hanya kebobolan 97 gol dari 107 pertandingan atau jika dirata-ratakan 0,91 per laga. 47 cleas sheet telah ditorekah Supergigi Barzagli (julukan Buffon) dengan rasio kemenangan mencapai 47 persen membuatnya cukup percaya diri bisa meredam serangan-serangan Real Madrid. Meski gagal di Eropa, Buffon masih bisa berbangga di tanah kelahirannya, bersama Juve ia berhasil tampil impresif dan mambawa Juve jadi penguasa Serie A enam kali secara beruntun.

Mungkin ini jadi musim terakhirnya berseragam Putih Hitam dan kegagalan di Liga Champions menjadi kado pahit yang akan selalu ia sesali, namun jika pun ia memilih untuk melanjutkan kariernya dengan mimpi meraih trofi Liga Champions di musim depan. Sepertinya perjuangannya akan lebih berat, selain usia yang tak lagi muda. Bomber-bomber baru dan haus gol akan bermunculan dan kembali menguji kepiawaiannya di bawah mistar gawang yang tentu saja sudah tak setangguh dulu. Apa pun keputusan yang diambil Buffon di akhir musim nanti, ia akan tetap dikenang sebagai salah satu kiper terhebat di zamannya.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply to Aang verianto Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE