Macet, Camilan Warga Kota Metropolitan

Jangan mengaku orang kota kalau tak akrab dengan macet, kesemrawutan lalu lintas dan kurangnya kesadaran pengguna jalan dalam menaati aturan lalu lintas. Itu hanya sedikit dari sekian banyak penyebab timbulnya kemacetan di kota-kota besar, macet sudah menjadi hal yang wajar terjadi dan pemerintah seakan frustasi mencari solusi jitu untuk mengatasi kemacetan yang semakin kronis. Jangankan mengatasi, untuk mengurangi kemacetan saja pemerintah setempat bahkan harus memeras keringat dan memutar otak. Tak usahlah memikirkan kemacetan di Jakarta yang sudah memasuki level fantastis, Makassar yang luas kotanya tak seberapa jika dibandingkan dengan ibu kota negara Indonesia itu sangat sulit melepaskan diri dari belenggu macet. Pergantian kepala daerah tak lantas mengubah ketidaknyamanan warga saat berkeliling di kota Anging Mammri menjadi lebih baik.

Tugu Adipura (foto : http://www.geocities.ws)

Baru-baru ini pemerintah kota Makassar merubuhkan tugu Adipura yang menjadi simbol kesuksesan kota Makassar menyabet predikat kota bersih, kala itu masih bernama Ujung Pandang. Tugu yang letaknya berada di tengah pertigaan jalan Perintis Kemerdekaan, jalan Urip Sumoharjo dan jalan DR. Leimena sekaligus menjadi akses warga menuju pusat kota Makassar membuat tugu itu sangat dikenal, namun seiring waktu ketika jumlah pengguna jalan semakin sesak dan kendaraan yang lalu-lalang bertambah banyak menjadikan tugu Adipura sebagai salah satu titik kemacetan parah khususnya pada jam pergi dan pulang kantor. Pemerintah kota Makassar sudah melebarkan jalan di sekitaran tugu tersebut untuk mengurai kemacetan namun belum ada perubahan yang berarti, kemacetan masih kerap terjadi disepanjang jalan Perintis Kemerdekaan menuju jalan Urip Sumoharjo.

Mengatasi kemacetan di kota-kota metropolitan khususnya Makassar yang tak lama lagi akan menjadi kota megapolitan tentu bukan perkara mudah, pemerintah kota dan pihak-pihak terkait sedang mencari solusi untuk meredam kemacetan yang hampir setiap hari terjadi. Dirubuhkannya tugu Adipura yang selama ini dianggap sebagai biang kemacetan merupakan salah satu cara yang diambil oleh pemerintah kota Makassar, namun apakah meruntuhkan bangunan adalah jalan keluar yang terbaik untuk mengatasi kemacetan? Bukankah menyediakan sarana transportasi massal yang aman dan nyaman, membuat jalur alternatif agar kendaraan tak terpusat pada satu akses saja atau mengatur kembali perizinan ruko-ruko yang tak memiliki lahan parkir bisa dijadikan opsi untuk mengurangi kemacetan tanpa merubuhkan dan menghilangkan bangunan yang menjadi landmark kota Makassar.

Eksekusi tugu Adipura (sumber: www.bebmen.com)

Konsekuensi sebuah kota besar yang warganya sangat mobile serta menjamurnya ruko-ruko tanpa area parkir yang memadai sama saja dengan merampas hak pengguna jalan sehingga mengakibatkan macet dan ketidaknyamanan warga untuk beraktivitas, menganggap kemacetan adalah hal yang mustahil untuk diatasi juga merupakan pemikiran yang berlebihan. Bercerminlah pada negara-negara maju yang penduduknya lebih banyak namun tata ruang kotanya diatur sedemikian apik dan yang paling penting kedisiplinan tinggi pengguna jalan dalam berlalu lintas membuat warganya nyaman beraktivitas tanpa perlu menghabiskan banyak waktu di jalan akibat macet. Di kota-kota metropolitan macet merupakan masalah klasik yang membuat kenyamanan pengguna jalan terusik, khusus di Makassar beragam cara dilakukan oleh pemerintah kota untuk mengurangi titik rawan kemacetan, namun tanpa dukungan warga dan kedisiplinan tinggi para pengguna jalan, sepertinya kemacetan akan tetap menjadi camilan yang tak tergantikan.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE