Loyalitas dan Kesetiaan Sang Presiden

Kecintaan manusia terhadap apa yang dimilikinya kadang hadirkan loyalitas tanpa batas, loyalitas dalam kesetiaan yang menuntut kita untuk menjaga dan merawatnya hingga tiba suatu masa kita harus melepasnya. Rasa cinta yang begitu dalam kadang merabunkan logika dan menyisihkan ego yang melekat tujuannya hanya satu demi kebahagiaan apa yang kita miki. Apapun akan kita lakukan demi sesuatu yang kita miliki, apapun akan kita korbankan demi kebahagiaan orang yang kita cintai. Meski kita yang harus jatuh bangun dan menderita asalkan orang yang kita cinta bahagia itu merupakan kepuasan batin yang tak ternilai.

Loyalitas dalam kesetiaan itu ada dalam diri sang Presiden Kehormatan Massimo Moratti, kecintaannya pada klub Inter Milan sudah tidak diragukan lagi. Ia adalah seorang pemimpin kharismatik dan bijaksana serta royal terhadap klub kebanggaan interisti itu. Inter adalah sebagian dari hidupnya, totalitas dalam memimpin dan berusaha semaksimal mungkin membangun klub yang berjuluk La Beneamata sejajar dengan klub-klub besar baik dari kualitas pemain ataupun dari raihan titel juara. Sang Presiden tak sungkan-sungkan mendatangkan pelatih top, mendaratkan pemain bintang demi satu tujuan yaitu melihat klub tercintanya berjaya.

Sejak umur 10 tahun, Moratti kecil sudah menjadi seorang interisti kala itu Inter ditangani oleh ayahnya, Angelo Moratti yang menjadi pemilik Inter dari tahun1955 hingga 1968. Pada masa itu Inter telah menjadi salah satu klub terbaik eropa, tiga kali scudetto dan dua kali jadi kampium Eropa diraih Inter hanya dalam empat tahun. La Grande Inter, The Great Inter julukan yang diberikan orang-orang pada masa itu. Moratti tumbuh dan dekat dengan pemain-pemain yang membawa Inter jaya, ia berbicara akrab dengan mereka, menyaksikan mereka meraih piala demi piala. “Tak ada masa paling indah buat Inter, kecuali masa kepemimpinan ayah saya dan kepelatihan Helenio Herrera. Mereka membuat seluruh tifosi Inter bahagia, ” kata Moratti.

Pada tahun 1995, Moratti kemudian membeli Inter dari tangan Ernesto Pellegrini, seakan ingin menegaskan jika Inter di bawah kepemimpinannya tak kalah digdaya dibanding masa kekuasaan Ayahnya, Moratti pun menjadikan Inter sebagai pembuktian bahwa klub biru hitam itu bisa menjadi klub besar. Namun di awal-awal kepemimpinannya Inter masih mencari jati diri, berapa banyak uang yang telah ia gelontorkan untuk membeli pemain, mengotrak pelatih top namun raihan gelar Inter masih sebatas level lokal, Inter belum bisa berbicara banyak di Eropa. Pemain-pemain bintang yang ia beli gagal bersinar, pelatih yang dianggapnya tak mampu mengangkat prestasi tim didepak, tentu Moratti tak ingin klub kesayangannya terpuruk.

Usaha Moratti mengulang kesuksesan Inter seperti saat kekuasaan Ayahnya terwujud di tahun 2010, Inter meraih trebble winner dengan menjadi juara Serie-A, juara liga Champions, dan juara Coppa Italia dalam satu musim. Di bawah kepelatihan Jose Mourinho kala itu, Inter disebut-sebut sebagai reinkarnasi La Grande Inter di masa kejayaan ayahnya. Inter meraih prestasi yang belum pernah dilakukan oleh klub-klub Italia lainnya. Namun prestasi Inter di lapangan tak berbanding lurus dengan prestasi Inter dari sisi finansial, banyak membeli pemain bintang dan gonta-ganti pelatih top tak sebanding dengan nilai kontrak komersil yang Inter dapatkan, hal ini membuat kondisi keuangan Inter berada pada level krisis.

Moratti mengeluarkan kebijakan menjual pemain bintang yang bergaji “Wah” demi menekan biaya, aktivitas di pasar transfer pun fokus pada pemain yang masa kontraknya habis dan mengoptimalkan pemain muda yang belum sarat pengalaman. Akibatnya, Inter tak mampu bersaing dengan klub-klub yang punya dana lebih untuk membeli pemain berkualitas. Musim 2012/2013 adalah musim terburuk Inter di masa kekuasaan Moratti, saat itu Inter finish diposisi sembilan dan tak meraih tiket berlaga di Eropa. Tentu seluruh interisti kecewa dengan merosotnya prestasi Inter, Moratti sebagai pimpinan klub merasa bertanggung jawab dan Moratti pun merelakan klub kesayangannya berganti kepemilikan.

Moratti melepas saham mayoritas Inter pada investor asal Indonesia, Erick Thohir. Bukan hal yang mudah untuk Moratti merelakan Inter yang sudah dianggap sebagai putrinya yang cantik jelita jatuh ke tangan orang lain. Dinasti Moratti yang bertahan selama delapan belas tahun kini berakhir, berganti dengan babak baru di bawah kepemimpinan pengusaha muda Erick Thohir. Meski Moratti tak lagi menjabat sebagai presiden Inter, kecintaan dan loyalitasnya untuk mendukung Inter tak akan pernah padam. Moratti adalah ayah bagi seluruh interisti, ia akan selalu menjadi bagian dari cerita kejayaan Inter. Moratti mengajarkan kita arti sebuah loyalitas tanpa batas, arti mencintai tanpa harus memiliki, arti kehidupan yang tak selamanya menjadi milik kita suatu saat kita akan merelakannya pergi kembali kepada yang Maha Abadi.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE