Listrik Padam, Pelanggan PLN Mengecam

Ilustrasi-Mati-Lampu

Ilustrasi (sumber : http://fajar.co.id)

Sejak selasa, 19/01/2016 khususnya sebagian kota Makassar dilanda pemadaman listrik. Dalam sehari tiga hingga empat kali terjadi pemadaman listrik yang tentu saja menghambat aktivitas masyarakat yang banyak bergantung pada pasokan listrik. Pihak PLN yang diwakili oleh bagian Humas wilayah Sulsel, Sulbar, dan Sulteng telah mengonfirmasikan bahwa terjadi gangguan di Gowa, juga gangguan transmisi (blackout) di PLTU Jeneponto sehingga pasokan listrik belum masuk.

Pemadaman listrik tak hanya terjadi di kota Makassar, beberapa kabupaten di provinsi Sulsel semisal Takalar, Gowa, Maros, dan Pangkep juga tak luput dari pemadam bergilir. Kejadian ini merupakan yang pertama sejak beberapa tahun lalu PLN juga rutin melakukan pemadam listrik bergilir dengan dalih musim kemarau yang membuat pasokan listrik menjadi terbatas akibat debit air yang kurang.

Untuk mencegah kejadian serupa PLN segera membangun pembangkit listrik baru untuk memenuhi kebutuhan pelanggannya, namun pemadaman listrik tetap terjadi selama dua hari berturut-turut meski kejadian kemarin diakibatkan masalah teknis pelanggan tetap kecewa dengan pelayanan yang diberikan perusahaan plat merah tersebut.

Dampak dari pemadaman listrik bagi kebutuhan rumah tangga tentu tak se-urgent dengan kebutuhan pelayanan publik yang sangat bergantung pada pasokan listrik khususnya Rumah Sakit Pemerintah, kebetulan saat pemadaman listrik terjadi ibu saya sedang dirawat di RSUD Daya karena terkena DBD yang belakangan ini melanda hampir seluruh wilayah di kota Makassar.

Bagi masyarakat yang terdaftar sebagai peserta BPJS berobat di rumah sakit pemerintah memang menjadi prioritas, meski pelayanan RSUD dalam menangani pasien peserta BPJS kadang lambat dan berbelit-belit namun hal itu dianggap lebih baik dibanding rumah sakit swasta yang katanya menerima pasien peserta BPJS tapi pelayanan yang diberikan ibarat langit dan bumi jika dibandingkan dengan pasien umum.

Jangan tanya bagaimana kualitas pelayanan pasien yang menggunakan BPJS dengan pasien umum yang tentu saja sangat jauh berbeda. Jika di rumah sakit swasta pasien peserta BPJS seperti dianaktirikan dengan beragam aturan dan persyaratan yang harus dipenuhi agar segera mendapat perawatan, di rumah sakit pemerintah pasien BPJS sedikit bernapas lega karena bisa segera ditangani dokter dan perawat jika pasien mengalami keadaan darurat.

******

Pemadaman listrik yang terjadi dua hari berturut-turut tentu saja mengganggu pelayanan kesehatan di rumah sakit. Tak hanya pasien yang protes, pelanggan PLN pun turut mengecam penanganan pemadaman listrik oleh PLN yang terkesan lamban. Ungkapan kekesalan pelanggan PLN banyak bertebaran di media sosial.

Pelanggan yang mengklaim selalu membayar tagihan listrik tepat waktu bahkan tak bisa berbuat banyak ketika tarif dasar listrik naik dan tetap mengikuti aturan yang berlaku, namun saat listrik padam dan merugikan pelanggan pihak PLN terkesan abai terhadap keluhan pelanggan. Bandingkan jika pelanggan terlambat melakukan pembayaran maka sanksi dendan hingga pemutusan aliran listrik tanggap diberikan oleh PLN.

eksis25001

di RSUD Daya Dokter harus memeriksa dalam gelap

Saat terjadi pemadaman Di RSUD Daya peralihan dari listrik utama ke genset butuh waktu hampir lima belas menit, hal tersebut tentu berisiko mengingat aktivitas di rumah sakit yang membutuhkan asupan listrik seperti tindakan operasi atau pasien yang butuh penanganan lain bisa berakibat fatal jika tiba-tiba listrik padam.

Kapasitas genset yang tak sebanding dengan kebutuhan listrik di RSUD Daya juga menjadi catatan, pasien yang berada di ruang perawatan harus menahan pengap dan gerah ketika AC harus dimatikan untuk mengimbangi kapasitas genset yang terbatas, tak hanya itu pasokan air bersih juga ikut terhenti ketika terjadi pemadaman listrik membuat keadaan pasien makin memprihatinkan.

Saya hanya bisa mengurut dada melihat kondisi seperti ini, kualitas pelayanan kesehatan di kota yang katanya ingin mentransformasikan diri sebagai ikon smart city justru membuat masyarakatnya jauh dari kata nyaman ketika berada di rumah sakit. Mungkin dalih pemerintah yang mengatakan masih dalam proses untuk memberikan pelayanan publik yang terbaik untuk warganya, tapi sampai kapan?

Mungkin bukan hanya kualitas pelayanan kesehatan, beberapa lini publik yang bersinggungan dengan pemerintah sudah saatnya dilakukan pembenahan demi terwujudnya kenyamanan dan kepuasan bagi masyarakat dalam memanfaatkan fasilitas publik. Warga selama ini cukup sabar menanti usaha pemerintah tersebut, andaipun pelayanan publik masih sering merugikan masyarakat setidaknya ada kompensasi yang diberikan pemerintah sebagai bentuk ganti rugi dan permohonan maaf.

Tulisan ini sekaligus catatan buat rumah sakit pemerintah untuk meningkatkan kualitas pelayanannya, sehingga seluruh masyarakat khususnya pasien peserta BPJS bisa benar-benar merasakan pelayanan kesehatan yang maksimal.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE