Lawan Bullying Pada Anak

Apapun jenis bullying atau perundungan sudah seharusnya dihentikan penyebarannya sejak dini, pelakunya harus dihukum berat untuk memberi efek jera.

Aksi bullying kerap dilakukan oleh orang-orang yang merasa dirinya kuat, paling benar, atau merasa lebih baik dari orang lain. Makanya orang tersebut tak segan-segan mem-bullying orang lain untuk menegaskan bahwa dia lebih dari segalanya dibanding orang itu. Menurut KBBI bullying atau perundungan (rundung) adalah menyakiti orang lain secara fisik maupun emosional dalam bentuk kekerasan verbal, sosial, dan fisik berulang kali dan dari dari waktu ke waktu.

Mungkin tujuan awal seseorang melakukan perundungan hanyalah sebatas iseng atau bercanda namun jika dilakukan secara terus menerus tentu akan berdampak buruk bagi si korban. Seperti merasa rendah diri, depresi, kesepian, selalu cemas, bahkan bisa berujung pada upaya bunuh diri. Begitu besar dampak yang ditimbulkan oleh bullying membuat kita khususnya orangtua untuk selalu proaktif terhadap pola pergaulan anak.

Video Bullying yang Viral

Beberapa hari ini di media sosial sedang viral video seorang anak berkebutuhan khusus (ABK) atau difabel yang menjadi korban aksi bullying teman-temannya, kejadian tersebut tentu saja memancing respon netizen yang geram terhadap aksi mahasiswa tersebut. Terlebih lagi kejadian itu terjadi di salah satu universitas di Jawa Barat, tentu banyak yang menyayangkan kelakuan generasi penerus bangsa yang seharusnya memberi contoh teladan bagi orang lain justru menjadi aktor di balik aksi tak patut seperti bullying.

Jika dibandingkan dengan anak-anak normal memang peluang difabel menjadi korban bullying ternyata lebih besar. Laporan The National Autistic Society di Inggris menyatakan, sebanyak  40 persen anak autis dan 60 persen anak-anak dengan sidrom Asperger melaporkan telah menjadi korban intimidasi. Hal senada juga dikatakan oleh The Anti-bullying Charity, Ditch the Labe (2015) kemungkinan intimidasi kepada difabel didapati sebanyak 40 persen. Jumlah ini bertambah besar untuk anak dengan cacat fisik sebanyak 58 persen, dan anak dengan ketunaan belajar 62 persen (sumber: tirto.id).

Tentu sangat disayangkan aksi bullying tersebut terjadi di sebuah lembaga pendidikan yang mana segala aturan, etika, dan tata krama harusnya lebih terkontrol serta berada dalam pengawasan para tenaga pendidik. Atau mungkin saja mereka, para pelaku aksi tersebut tidak tahu jika penderita disabilitas juga punya hak yang sama untuk memperoleh akses pendidikan. Bahkan dilindungi Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.

Bullying di Media Sosial

Secara tak langsung peran media sosial turut menyuburkan aksi bullying yang sebagian besar dialami oleh anak-anak ABG dan perempuan. Anak baru gede yang labil kadang bertindak tanpa memikirkan apa dampaknya, jika yang dilakukannya dianggap aneh dan bertentangan dengan teman-temannya maka teman-temannya tak segan-segan melakukan bullying. Sedangkan perempuan kerap dipandang sebelah mata mulai dari penampilan fisik hingga mengusik kehidupan pribadinya.

Faktor lain yang menyebabkan aksi bullying tumbuh liar di masyarakat modern yakni karena online disinhibition effect atau tidak ada pencegahan dari efek kebebasan internet. Internet menawarkan kebebasan bagi penggunanya, seperti  anonimitas, beriteraksi tanpa perlu bertatap muka, minimnya otoritas melahirkan budaya-budaya menyebar fitnah, kebencian, hingga bullying yang kini semakin akrab di telinga.

Kemudahan mengakses internet tak sejalan dengan etika penggunaan yang baik dan benar, khususnya di kalangan anak-anak. Hal tersebut menjadi salah satu faktor maraknya aksi bullying yang melibatkan anak-anak, dari 75 juta pengguna internet di Indonesia usia 12 sampai 18 tahun tercatat sebagai kelompok yang paling sering menggunakan internet. Jadi tak heran jika anak-anak sangat rentan menjadi korban atau pelaku bullying.

Solusi Menghambat Laju Bullying

Video penyandang disabilitas yang dibullying teman-temannya hanya satu dari sekian banyak aksi perundungan yang melibatkan anak-anak, ramaja, dan perempuan. Video tersebut seolah memberi gambaran bahwa para pelaku bullying kini tak perlu malu dan merasa bersalah ketika melakukan aksi yang menyimpang itu bahkan terlihat sangat menikmatinya. Pikiran para pelaku tak sampai ke dalam perasaan orang yang mereka bullying, perasaan orangtuanya, dan masa depannya.

Pencegahan seharusnya sejak dini dilakukan guna menekan korba pembullyan agar tak terus bertambah, pemahaman tentang penggunaan internet dan media sosial meliputi etika serta pentingnya menjaga data pribadi agar tak disalahgunakan orang lain untuk melakukan perundungan, sudah seharusnya diterapkan sejak dini. Peran orangtua mutlak diperlukan dalam tumbuh kembang anak terlebih lagi di era internet seperti sekarang ini.

Pemberian sanksi tegas pada para pelaku bullying juga bisa menjadi solusi untuk menekan pertumbuhannya sekaligus memberi efek jera agar tak terjadi hal serupa di tempat lain, baik sanksi secara perorangan, sanksi institusi, ataupun sanksi bagi penyelenggara pendidikan yang tidak membentuk Unit Layanan Disabilitas seperti yang diatur undang-undang.

Dalam penelitian yang dilakukan Kaspersky Lab dan iconKids & Youth bertajuk “Growing Up Online-Connected Kids” ditemukan bahwa Cyber bullying menjadi ancaman yang jauh lebih berbahaya bagi anak-anak daripada yang banyak orangtua perkirakan. Waspadalah!

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE