Ksatria Tak Selalu Harus Menang

Foto : KPU

Melihat perkembangan situasi politik belakangan ini, saya pun cukup antusias mengikuti jalannya pesta demokrasi yang sepertinya pemilu tahun ini lebih heboh dibandingkan dengan pemilu-pemilu sebelumnya. Saya termasuk orang yang angin-anginan jika mengikuti berita politik khususnya pemilu, setiap tiba masa pemilu baik itu pileg hingga pilpres dan ketika masa kampanye yang menandakan pesta demokrasi segera dimulai, saya selalu merasa biasa-biasa saja saat pesta lima tahunan itu digelar. Namun untuk pemilu tahun 2014 saya cukup banyak menyimak dan mengikuti perkembangan berita politik meski tidak intens, mungkin karena saya bukan orang yang ahli dalam bidang politik ataupun orang yang senang berbicara tentang politik. Saya cukup tahu saja keadaan politik dalam negeri itu seperti apa dan ogah mengomentari atau turut memberi analisis lebih jauh tentang situasi politik yang terjadi di negeri ini.

Pemilu tahun 2014 menjadi pengalaman pertama saya ikut serta mengawal jalannya pesta demokrasi di Indonesia agar berjalan sukses, aman, lancar dan damai. Untuk pertama kalinya saya diberi amanat menjadi anggota KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara) tingkat kelurahan, dimulai saat pemilihan calon legislatif hingga pemilihan calon presiden. Dari situ saya belajar bagaimana ribetnya menyelenggarakan pesta demokrasi yang melibatkan seluruh elemen-elemen bangsa, antusias warga dalam menyambut pemilu juga beragam ada yang penuh semangat namun ada juga yang menganggap pemilu itu hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu jadi buat apa mereka repot-repot ke TPS. Sosialisasi pemilu yang dilakukan oleh KPU memang belum maksimal, namun masyarakat pun tidak bisa menutup mata terhadap kondisi perpolitikan bangsa ini yang tentu akan berdampak pada bisa atau tidaknya Indonesia menjadi lebih baik di masa yang akan datang.

Anggota KPPS saat Pilpres 2014

Pilpres 2014 telah usai, seluruh masyarakat larut dalam euforia pesta demokrasi yang semakin dewasa. Pertarungan dua pasang kandidat memang memicu gejolak politik yang kian memanas, itu hal wajar mengingat masyarakat kita masih dalam taraf pembelajaran berdemokrasi. Calon presiden yang berduel pun bukan orang sembarangan, mereka punya track record dalam bidang kompetensi masing-masing. Cukup lama masyarakat dibuat jengah dengan situasi politik menjelang hari pencoblosan, masa kampanye yang dimanfaatkan oleh relawan dan para pendukung kedua calon presiden hadirkan beragam polemik, saling melempar isu hingga menjurus perbuatan anarkis. Saya saat itu cukup bingung menilai mana calon yang benar-benar pantas memimpin bangsa ini untuk lima tahun yang akan datang.

22 Juli kemarin, KPU telah menetapkan Jokowi – JK sebagai pemenang pilpres 2014 meski dibarengi aksi protes dari kubu Prabowo – Hatta, KPU tetap mengsahkan keputusan tersebut, tim sukses nomor urut 1 itu mengatakan jika pemilu kali ini sarat kecurangan dan menginginkan KPU melakukan pemilu ulang, hal itu diamini oleh Prabowo dalam konfrensi persnya menjelang pengumuman hasil perhitungan suara oleh KPU. Purnawirawan Jenderal itu mengatakan dengan tegas menolak pilpres dan menarik diri dari proses atau tahapan yang sedang berlangsung di KPU. Sebagai sosok yang tumbuh di lingkungan militer tentu Prabowo lebih berjiwa ksatria menerima kekalahan, ibarat dalam perang tentu ada kalah dan menang. Kalaupun kubu Prabowo merasa keberatan dengan keputusan yang ditetapkan KPU, mereka bisa menempuh jalur yang telah ditentukan namun harus menghargai apapun hasil yang telah dikeluarkan oleh KPU.

Kubu Jokowi cukup bijaksana dengan menginstruksikan pendukungnya agar tidak merayakan kemenangan secara berlebihan, hal tersebut untuk menciptakan kondisi politik agar tetap aman dan terkendali. Masyarakat Indonesia telah memilih pemimpinnya sendiri, dengan harapan yang tinggi menjulang tentu semua pihak menginginkan Indonesia yang lebih baik. Marilah bersama-sama mendukung pemerintahan yang baru dengan saling menghargai dan tidak menonjolkan perbedaan karena yang lebih utama dari perhelatan pesta demokrasi ini adalah kesatuan dan keutuhan NKRI. Prabowo adalah sosok yang berjiwa ksatria, dalam dirinya mengakar naluri kebangsaan yang tinggi, niatnya dalam membangun dan memajukan bangsa tidak perlu diragukan lagi. Seorang ksatria selalu menginginkan kemenangan dalam setiap peperangan, namun ksatria sejati selalu berjiwa besar menerima kekalahan. Selamat buat Jokowi – JK.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply to Triadi C Laksono Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE