KPPS, Pengabdi Demokrasi Tanpa Pamrih

Indonesia baru saja menyelesaikan proses pesta demokrasi yakni pemilihan presiden dan wakil presiden serta anggota legislatif baik di tingkat pusat, provinsi, dan kabupaten/kota periode 2019/2024.

Di balik kesuksesan pemilu lima tahunan ini ada peran Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, mulai dari tingkat kelurahan, kecamatan hingga kabupaten/kota yang bertugas melakukan penghitungan dan perekapan surat suara pemilih yang jumlahnya dikutip oleh Kompas.com mencapai 809.563 TPS.

Menjadi anggota KPPS memang bukan pengalaman baru buat saya, namun untuk pemilu pilpres tahun ini jadi yang terberat di banding pemilu pilpres sebelumnya dan pilkada terdahulu yang kontestan dan pemilihnya tak sebanyak sekarang. Pemilu 2019 ini diikuti beberapa partai baru yang mencoba peruntukan untuk duduk di Senayan, ditambah calon legislatif yang jumlahnya tentu juga jauh lebih banyak.

Sebelum hari pencoblosan lingkungan kita sudah lebih dulu dibanjiri poster, baliho, hingga billboard caleg-celeg yang berasal dari partai peserta pemilu. Beragam visi dan misi pun dijanjikan oleh para caleg demi meraup banyak suara, meski menurut saya penyampaian visi misi para caleg lewat alat peraga kampanye berwujud poster dkk tidak terlalu efektif. Saya lebih familiar dengan caleg yang banyak beredar di grup-grup WhatsApp, Facebook, dan media sosial lainnya dibanding yang tertempel di pohon atau baliho-baliho pinggir jalan.

Kurang Persiapan

Entah karena miss komunikasi atau pihak terkait yang kurang sosialisasi, persiapan pemilu kali ini terkesan kurang siap menyambut hajatan demokrasi lima tahunan ini. Sejatinya jadwal pemilu di mulai pukul 07.00 waktu setempat, saya dan anggota KPPS lainnya sudah ada di TPS pukul 06.30 namun belum menerima logistik pemilu yang biasanya sudah ada beberapa jam sebelum waktu pencoblosan.

Kabarnya logistik pemilu tersebut harus dijemput sendiri oleh anggota KPPS di kantor kecamatan. Tentu aneh, mengingat pemilu dan pilkada sebelumnya Panitian Pemungutan Suara selalu mengantarkan logistik pemilu ke TPS-TPS yang dikawal oleh aparat kepolisian.

Setelah berkoordinasi dengan panitia akhirnya logistik pemilu pun diantar ke TPS-TPS namun waktu sudah menunjukkan pukul 07.30 saat logistik tiba, yang berarti pemilih baru bisa mencoblos kurang lebih jam 08.00 karena anggota KPPS harus memeriksa kembali logistik yang meliputi surat suara dan berkas-berkas pendukung lainnya. Padahal saat itu calon pemilih sudah berdatangan sesuai dengan jadwal yang tertera di undangan pemilu yakni pukul 07.00.

Anggota KPPS memeriksa kembali logistik pemilu

Antusias minat calon pemilih pada pemilu kali ini memang cukup tinggi, mungkin mereka sadar jika nasib bangsa ini ditentukan oleh para pemilih yang akan memilih pemimpin negara untuk lima tahun ke depan. Dari 203 daftar pemilih tetap di TPS tempat saya bertugas, ada 184 pemilih yang menggunakan hak pilihnya, jumlah tersebut lebih banyak dibanding pilkada dan pilpres sebelumnya yang tak sampai 50 persen dari daftar DPT di tempat yang sama.

Selesai Jam Dua Dini Hari

Pemilu tahun ini memang sangat menyita tenaga dan pikiran khususnya para patugas KPPS yang harus ekstra teliti saat menghitung dan merekap jumlah suara, belum lagi menulis salinan hasil perhitungan suara yang akan diberikan ke saksi partai dan panwaslu yang jumlahnya berlembar-lembar. Pemilu kali ini bukan saja memilih presiden dan wakil presiden, namun juga anggota DPR RI, DPD RI, DPRD Provinsi, dan DPD kabupaten/kota. Jadi tak heran jika waktu yang dibutuhkan mulai dari proses perhitungan, perekapan, dan menulis salinan pemilu sangat lama.

Pencoblosan berakhir pukul 13.00 waktu setempat kemudian dilanjutkan dengan penghitungan suara Presiden dan Wakil Presiden. Durasi menghitung suara pasangan nomor urut satu dan dua ini tak butuh waktu lama mengingat hanya ada dua kandidat yang bersaing memperebutkan kursi nomor satu di Indonesia. Syukurlah di TPS saya perhitungan suara presiden dan wakil presiden berjalan lancar tanpa ada protes dari saksi masing-masing calon.

Yang lama itu saat penghitungan suara calon anggota legislatif untuk DPRD Provinsi dan DPD kabupaten/kota. Partai peserta pemilu yang berjumlah 16 yang masing-masing menyetor belasan caleg, tentu butuh waktu yang tak sebentar untuk menghitung perolehan suara masing-masing caleg. Hingga menjelang magrib, TPS saya baru menyelesaikan perhitungan dua dari total lima kotak suara yang tersedia.

Daftar nama-nama caleg di pemilu tahun ini

Pukul 23.30 proses perhitungan suara selesai meski ada beberapa kekeliruan dalam perhitungan namun sejauh ini semuanya bisa berjalan cukup lancar. Menyalin rekapitulasi surat suara serta memeriksa kembali kelengkapan berkas untuk diserahkan ke Panitia Pemungutan Suara juga bukan pekerjaan yang mudah, bahkan butuh waktu cukup lama agar semua persyaratan penyerahan kembali logistik pemilu ke PPS tingkat kecamatan terpenuhi.

Jam 02.45 saya baru tiba di rumah dan bisa beristirahat, meski di TPS lain kabarnya ada yang pukul 04.00 bahkan sampai pukul 07.00 pagi baru menyelesaikan semua proses rekapitulasi surat suara.

Pangabdi Demokrasi

Menjadi bagian dari perhelatan pesta demokrasi tanah air adalah salah satu wujud dari nasionalisme, anggota KPPS hadir sebagai bagian dari perhelatan akbar tersebut. Mereka turut andil menyukseskan pemilu kali ini dengan mengorbankan segalanya, tenaga, pikiran, bahkan nyawa. Ya, di beberapa daerah ada anggota KPPS yang meninggal dunia saat menjalankan tugas. Jumlahnya mencapai 100 orang lebih. Tentu itu sebuah pengabdian luar biasa yang mereka berikan untuk bangsa ini.

Mereka yang kembali ke hadapan Tuhan telah berjuang semaksimal mungkin agar pemilu tahun ini berjalan lancar, meski mereka tahu imbalan yang mereka dapat tidak sesuai dengan apa yang telah mereka korbankan namun mereka tetap bekerja sepenuh hati. Itulah wujud tanggung jawab dan nasionalisme yang sebenarnya, berjuang tanpa pamrih.

Ini bisa jadi pembelajaran untuk pemilu yang akan datang, pemerintah harus lebih memperhatikan nasib anggota KPPS. Selain menambah jumlah honor, sebaiknya disertakan juga jaminan kesehatan mengingat waktu kerja yang dibutuhkan khususnya untuk Pilpres dan Pileg ini hampir 24 jam. Semoga tak ada lagi korban jiwa di pesta demokrasi yang sejatinya jadi kebahagiaan kita semua karena memilih calon pemimpin bangsa untuk lima tahun mendatang.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE