Kita

Waktu begitu cepat melaju, enam bulan pun terasa singkat berlalu. Pertemuan kita enam bulan yang lalu saat suasana ramadhan yang suci penuh rahmat seakan menjadi moment spesial, meski menyisakan kerikil rindu yang menikam kalbu. Setelah itu tak ada lagi canda tawa menghias hari, tak ada lagi kalimat penyemangat dikala pagi, semua kenangan indah tenggelam bersama mentari yang bersinar dalam hening dan diam. Dua manusia yang telah lama berteman dekat, kini berjarak seperti samudera yang membentang luas dan membelah gugusan pulau tak berpenghuni. Ada yang lenyap, sesuatu yang dulu sangat melekat meski hanya seutas senyuman namun kehilangannya begitu terasa. Meski itu hanya ucapan ‘selamat pagi’ namun sangat membekas di hati, semua seperti mimpi hingga akhirnya mentari menyadarkanku dengan sinarnya yang menyengat.

Malam itu, kita dipertemukan lagi oleh waktu, di suatu tempat yang semua orang pasti merasa enggan berlama-lama di sana. Tempat yang mengungkung senyum bahagia, tempat yang mengguratkan kecemasan di wajah orang-orang yang melintas, namun kehadiranmu di tempat itu membuatku betah berlama-lama berbagi cerita dan melepas ‘rindu’ meski hanya sesaat. Kau di sana menjaga ayahmu yang sedang terbaring lemah di ruang ICU, selang infus dan berbagai peralatan medis melekat disekujur tubuh ayahmu. Kau tampak sigap jika sewaktu-waktu ayahmu membutuhkan sesuatu. “Dua hari sejak masuk rumah sakit, jantung ayah drop,” Katamu, sambil memperbaiki letak bantal agar ayahmu lebih nyaman berbaring. “Mungkin karena kelelahan.” Suaramu serak, matamu sembab jelas sekali kalau kau kurang terlelap.

Sudah hampir seminggu ayahmu dirawat intensif di rumah sakit, awalnya ayahmu di tempatkan di ruang perawatan, setelah dua hari tiba-tiba jantungnya drop hingga dokter memindahkan ayahmu ke ruang ICU agar dapat dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. “Syukurlah sekarang keadaannya sudah agak baikan, tidak seperti dua hari yang lalu,” Seru mamamu. Itu juga kali pertama sejak enam bulan terakhir aku bertemu mamamu, wajahnya tampak lesu, lelah namun tetap ramah dan bersahaja. “Mudah-mudahan besok sudah bisa kembali ke kamar perawatan.” sambung mamamu kemudian. Aku hanya mendoakan semoga ayahmu diberi kekuatan dan kesembuhan agar bisa berkumpul kembali di tengah-tengah keluarga besarmu dan tersenyum bahagia.

Pertemuan kita pun harus berakhir saat aku beranjak pulang dan kau mengantarku hingga ke pelataran parkir. Dalam langkah yang singkat, tak banyak kata yang terucap, hanya sesekali canda tawa dan gurauan sisa kenangan kita di masa lalu. Entah kenapa semua bisa berubah sedemikian drastis hingga untuk berkata pun harus menyisakan sedikit jeda, atau untuk sekadar menghela nafas pun terasa berat penuh sesak. Aku merindukan masa-masa indah kita dulu, masa di mana pertautan hati dua insan manusia yang berjabat erat dalam jalinan persahabatan, tak bersekat bahkan saling mengikat. Tapi, hari ini? Tak ada yang patut disesalkan, jalan yang kita lalui tak berhenti di persinggahan yang sama dan tujuan akhirnya pun tak pernah sama.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE