Kertas Bentuk Hati

“Baiknya kau melepas diriku.. Yang tak pernah bisa mencintaimu… Seharusnya tak ku simpan iba ini dan membuatmu terluka,” Iringan lagu Naff mengantar Aldo menuju kampus. Mobil sedan silver melaju di bawah guyuran hujan saat waktu menunjukkan pukul 07.35 Wita. Pikirannya terus melayang seolah-olah mencari jalan keluar, lagu itu seakan menggambarkan apa yang dia rasakan.

Langkah Aldo pun terhenti ketika Ike menarik tangannya. “Do.. Dengarkan aku dulu, tolong beri aku waktu untuk bicara” langkah Aldo semakin cepat menuju ruang kuliah, seakan tak memperdulikan Ike. “Aku sayang kamu Do, aku tak mau kehilangan kamu. Percayalah, kabar pertunangan itu nggak benar, aku nggak ingin melupakan semua kenangan indah kita selama ini. ” Suara Ike tersengal-sengal mengikuti langkah Aldo. Aldo menatap tajam mata Ike yang berkaca-kaca, senyumnya sedikit merekah saat Aldo menggenggam tangannya. “Apakah benar yang kamu katakan?, tentang pertunangan itu?, tentang perasaanmu padaku?” Aldo bertanya dengan penuh tanda tanya. Ike menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Seketika Aldo memeluk Ike dengan perasaan bahagia, serasa melepas sejuta beban pikiran yang selama ini menggelayuti pikirannya. “Makasih sayang,, aku tak tahu bagaimana hati ini jika pertunangan itu benar-banar terjadi. Aku tak ingin kehilangan orang yang aku cinta untuk yang kesekian kalinya.” Mareka pun melangkah pasti menuju ruang kuliah yang berbeda, ditemani udara dingin yang merasuk hingga pori-pori.

Malam itu hujan tak henti-hentinya membasahi bumi, Suara binatang malam hampir tak terdengar. Aldo terlihat sibuk mempersiapkan keberangkatannya ke Surabaya.“Halo.. Iya ma, aku dah mau berangkat, pesawatnya jam 9, nenek dah baikan ya ma? Oiya.. Mudah-mudahan nenek baik-baik saja” Aldo mengakhiri percakapan di telfon. Tak lama berselang, terdengar suara ketukan pintu. “Ike.. Ada apa malam-malam kamu kesini?” Aldo kaget melihat kedatangan Ike yang tiba-tiba. Raut wajahnya pucat, rambutnya basah. “Udah mau berangkat Do..?” Suara Ike serak hampir tak terdengar. “Ada yang mau aku berikan sebelum kamu pergi” Ike tertunduk lesu, seakan tak berani menatap Aldo yang berdiri diantara pintu. Segera Ike mengulurkan tangannya dari balik jaket pinknya. Secarik kertas tebal berbentuk hati terbungkus pelastik diberikan pada Aldo. Aldo pun membuka dan membaca isi kertas itu. Terlihat jelas kesedihan Aldo, kekecewaan batih yang tak bisa diungkapkan. Gemuruh guntur dan kilatan petir seakan mengukuhkan kesedihan Aldo, matanya tak mau lepas dari kertas itu. “Maaf Do.. Aku dah berusaha mempertahankan hubungan kita, namun akhirnya aku tak berdaya. Perjodohan adalah jalan yang terbaik buat aku, kamu, dan keluargaku.” Sesekali Ike menyeka air mata, suaranya terbata-bata penuh luka. “Aku berharap kamu tabah dan bisa menerima semua ini, kamu bisa mendapatkan yang lebih dari aku. Aku bahagia bisa mengenalmu dan menjadi bagian dari kisah cintamu.” Akhirnya Ike pergi, melangkah di tengah riuh hujan yang membasahi tubuhnya.“Selamat tinggal cinta.. Sampai kapanpun kau ada dalam hatiku, walau luka dan sedih tak akan mampu melunturkannya” ujar Aldo dalam hati.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE