Kereta Terakhir

Selalu ada rindu yang tersemat saat melewati stasiun itu, stasiun kereta api yang tak begitu ramai. Rindu yang menggelayut manja dalam benak hingga aku tak kuasa menahan derasnya jiwa yang berontak. Aku hanya wanita biasa yang memiliki rasa gusar dan gundah menanti kabar kekasih yang tak kunjung datang. Langkahku pun terhenti di depan gerbang stasiun kereta tempat terakhir aku mendengar suara khasnya yang lugas, menyentuh jemarinya yang tegas, menterjemahkan bahasa tubuhnya seperti mengguratkan isyarat jika perpisahan bukanlah keinginan kita. Derai air mata tak kuasa terbendung, perlahan jatuh meninggalkan jejak di pipi sungguh kenangan yang menyedihkan namun hatiku harus kuat bertahan meski ragu melemahkan ragaku.

“Doakan semoga mas sukses di kota. Mas akan selalu merindukan Dinda di sana,” Ucapnya waktu itu sambil mendekapku hangat. Aku hanya mengangguk, degup jantungnya membius kesadaranku hingga aku terbawa ke alam mimpi bersama senyum yang terkulum. Demi kebahagiaan kami di masa depan, demi meraih cita-citanya menjadi Dokter seperti keinginan kedua orantuanya, aku merelakan dia pergi meski hati bergejolak penuh ketidaksetujuan. Toh di desa ini dia bisa meneruskan usaha pupuk ayahnya yang sudah sukses atau membuka jasa pemotretan yang sejak dulu merupakan hobinya mengabadikan gambar setiap bertemu moment yang unik dan indah.

Seperti tiga tahun yang lalu, selepas pengumuman kelulusan SMA saat teman-teman yang lain sibuk dengan ritual corat-coret baju seragam, konvoi keliling desa dengan deru suara motor yang menguak amarah pengguna jalan. Aku dan Bima lebih memilih pergi ke stasiun kereta api tempat di mana dia menyatakan isi hatinya padaku, waktu itu kami masih duduk di kelas 1 SMA. Kami pun mencari lokasi yang pas untuk mengambil gambar dan rangkaian kereta yang terparkir menjadi latar foto-foto kenangan yang kini masih tertata rapi di meja kamarku. Hingga mentari perlahan tenggelam, kami masih setia duduk di pinggir rel sembari menikmati sinar senja yang kemilau, “indah ya mas?” kataku lirih. “Pasti lebih indah jika mas bisa memotret Dinda di sana,” sambil menunjuk sinar sunset yang mengintip dari balik gerbong.

Lamunanku seketika sirna oleh klakson kereta api suaranya menggelegar memekakan telinga. “Kereta terakhir hari ini,” batinku. Sambil melihat jam tangan sudah tiba waktu Ashar, aku harus segera pulang. Sejenak aku usap sisa air mata yang meleleh di pipi agar ibu tak tahu kalau aku habis menangis lagi, ya akhir-akhri ini aku terlalu mudah mengumbar air mata mungkin hatiku terlalu rapuh dan tak setegar dulu saat mas Bima masih bersamaku. Langkahku gontai bersama hiruk-pikuk suasana desa yang mulai ramai, saat warga desa kembali ke istana mereka setelah seharian bekerja, hewan ternak pun di kandangkan setelah seharian di ladangkan.

***
Pagi ini terasa indah seperti suasana hatiku yang sangat bahagia, mentari bersinar dengan cerah berpayung awan berwarna ceria. Penantianku selama delapan tahun pun berakhir hari ini, mas Bima akan pulang setelah menyelesaikan kuliahnya dan meraih gelar Dokter. “Mas berangkat sore ini naik kereta terakhir. Dinda jangan sampai lupa, jemput mas.” Pesan singkat yang aku terima pagi ini membuat ragaku seakan tergugah dari tidur panjang, risau dan galau yang selama ini merangkulku kini lenyap berganti senyum simpul yang tersungging dari bibir tipisku. “Iya mas,” balasku segera.
Ingin rasanya memutar waktu agar sore segera menyapa. Aku sudah tak sabar ingin bertemu dengan lelakiku, lelaki yang menjadi semangat hidupku disaat aku jatuh dan rapuh, karena dia hingga aku bisa sabar menanti selama delapan tahun sungguh bukan waktu yang singkat. Terlebih beberapa minggu sebelum kepulangannya, dia berkata melalui telepon, “Sesampainya mas di desa, mas akan segera melamar Dinda.” Aku tersentak, jantungku seakan berhenti berdetak. Seperti mimpi namun aku sadar dia menelepon saat hari mulai senja, dia memang suka dengan senja ketika sinar mentari tak lagi garang dan berubah jingga sangat meneduhkan hatinya, begitu katanya. Dan kabar bahagia itu dia sampaikan menjelang petang, entah dia sengaja mencari moment seperti ini atau tidak, aku hanya bisa mengiyakan sebagai tanda jika aku bersedia dilamar.
Sore, stasiun nampak lengang. Seorang petugas terlihat hilir-mudik di ruangan kerjanya. Aku duduk di ruang tunggu bersama pak tua pedagang asongan, di depanku penjual mainan menggelar dagangannya di lantai. Cukup lama aku menunnggu, “harusnya kereta api yang membawa mas Bima sudah tiba sejam yang lalu,” pikirku dalam hati. Namun nyatanya stasiun masih sepi tak ada isyarat kereta akan datang. Aku meraih handphone mencoba menghubungi mas Bima, “ah handphone-nya tak aktif,” gumamku. Suara adzan Magrib berkumandang, lelah mulai merasuk kalbu suasana stasiun pun makin sunyi senyap hanya ada aku dan petugas stasiun. “Stasiun dua, stasiun dua..” suara petugas dari ujung telepon terdengar samar di telingaku. “Jalur rel utama telah di tutup, mohon instruksi selanjutnya!” kali ini nada suara petugas itu makin tinggi dan terdengar jelas. Aku melangkah ke arahnya, wajahnya pucat, bibirnya gemetar. “Ada apa pak?” tanyaku. Petugas itu menatapku sejenak, “Kereta terakhir yang harusnya tiba dua jam yang lalu anjlok dan jatuh ke jurang.” Aku terhenyak, jantungku seakan berhenti mendadak, pandanganku seketika gelap.

“Dinda, Dinda, sadar Dinda.” Suara ibu menggugahku, penglihatanku buram namun aku rasakan tangan ibu mengusap-usap keningku. “Mas Bima, bu!” Aku memeluk ibu erat, air mataku tumpah ruah di pundak ibu, hatiku sakit sesakit-sakitnya. Tangisku pun pecah saat tahu mas Bima bersama belasan penumpang lainnya telah dinyatakan tewas. “Ya Allah, begitu berat cobaan yang Engkau berikan pada hamba. Jika ini memang takdir-Mu maka kuatkanlah hamba,” Doaku terpanjat dalam keheningan. Kini impian tinggal mimpi, harapan menyisakan luka hati yang tersayat pilu. Kebahagiaan yang kita rajut tanpa lelah kini sirna bersama senja yang merenggut ragamu, kereta terakhir yang membawamu keharibaan Ilahi dan tak akan pernah kembali.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE