Kembali Ke Gorontalo

FireShot Screen Capture #023 - 'e-paramata – Planet of introvert' - eparamata_com

laman eparamata.com

Membaca tulisan Erick Paramata di blognya eparamata.com membuat saya cukup terhibur dan sesekali melempar senyum simpul. Gaya penulisannya yang ringan dan mudah dicerna mampu menarik saya untuk menggali lebih dalam biodata pemuda yang saya taksir umurnya sekitar 20-an tahun.

Berawal dari retweet kemunitas Warung Blogger yang menginformasikan ajang giveaway, temanya embarrassing moment yang ia sponsori dengan hadiah sebuah buku plus tanda tangan penulisnya berjudul Majelis Tidak Alim (karya Soleh Solihun). Saya lalu menyambangi laman blognya dan membaca tulisan lain yang sudah ia publish.

Ternyata ia seorang blogger dari Gorontalo, kota yang pernah saya jejaki pada Januari 2013 hingga Januari 2014. Kota yang pada saat itu masih merupakan kota asing buat saya, kota pertama di luar kota Makassar yang saya tinggali selama setahun.

******

Ingatan saya pun menerawang ke tahun tersebut saat pertama kali menginjakkan kaki di kota yang juga menjadi nama provinsi baru di pulau Sulawesi. Sebagai orang yang gemar ngeblog tentu yang pertama saya cari di kota Gorontalo adalah komunitas blogger yang eksis dengan beragam kegiatan dan event. Namun saat itu tak mudah mencari komunitas-komunitas blogger di kota yang dulu menjadi bagian dari provinsi Sulawesi Utara.

Mulai bertanya ke para mahasiswa yang menjadi anak didik saya hingga menjelajahi media sosial berharap bisa menemukan komunitas yang punya passion sama dengan saya yang hobi ngeblog. Namun hasilnya nihil, ada sih tapi komunitas itu tak aktif. Saya pun menjalani hari-hari di kota Gorontalo dengan bekerja dan sesekali ngeblog jika punya waktu luang atau punya ide tulisan yang memaksa untuk ditumpahkan.

Menjelajah blog Erick Paramata membawa saya dan pengalaman hidup saya ketika menetap di Gorontalo, Kota yang luasnya hanya 64,79 km persegi bahkan lebih luas dari kota Pare-pare yang disebut-sebut sebagai meniatur kota Makassar. Namun Gorontalo menawarkan kedamaian dan kenyamanan bagi penduduknya yang tak dimiliki oleh Makassar ataupun Pare-pare.

Saya yang terbiasa dengan ingar-bingar kehidupan kota metropolitan sempat merasa shock dengan suasana kota Gorontalo yang tak jauh beda dengan keadaan desa-desa sekitarnya. Jalan protokol yang agak sempit belum lagi kondisi lalu lintas yang didominasi bentor (becak motor) dan menurut saya perlu dibuat aturan khusus agar bentor-bentor itu tertib.

Untuk urusan hiburan, Gorontalo punya satu-satunya mall yang berada di pusat kota. Namanya Gorontalo Mall, luas dan besar bangunan itu tak seberapa jika dibandingkan dengan mall-mall yang ada di Makassar namun setidaknya lumayanlah untuk sekadar jalan-jalan dan mencuci mata. Tapi yang hobi nonton di Studio 21 atau XXI seperti saya harus mengandalkan DVD dan laptop karena saat itu Gorontalo mall belum dilengkapi bioskop sehingga cukup membuat hari libur saya terasa hambar, meski kini Mall tersebut sudah dilengkapi bioskop namun disaat saya sudah tak menetap lagi di sana.

Bagi pecinta fast food juga seperti saya, KFC menjadi satu-satunya makanan cepat saji yang ada di sana. Saya yang terbiasa dengan CFC, McDonalds, Texas Chicken, Pizza Hut, dan lain-lain harus sering-sering mengelus-elus perut ketika masa ngidam makanan tersebut datang.

******

Sebagai provinsi yang sedang berkembang Gorontalo masih terus membangun dan menciptakan jati diri sebuah provinsi yang membanggakan. Setahun di kota tersebut sudah cukup bagi saya mengenal dan mempelajari beragam budaya dan kerakteristik penduduknya. Saya selalu ingin kembali ke sana melihat perubahan wujud kota yang perlahan mulai berbenah dan mempercantik diri agar semakin banyak investor dan pengusaha yang datang ke sana. Gorontalo merupakan kota yang unik, tulisan Erick seolah membawa saya kembali ke sana.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE