Kamu Penipu

Perang kata-kata mengawali pagi yang masih biru. Bagai dilanda bencana alam beberapa tahun yang lalu, dan memorak-porandakan semua isi dunia. Entah itu mimpi atau nyata, masih buram karena mata yang terpaksa untuk dibuka. “Aku capek, merasa tak dianggap sebagai kekasih. Apakah pengertianku selama ini kurang? apa kasih sayang yang ku umbar selama ini masih kau rasa kurang?” Suaranya memecah keheningan pagi buta, seakan ingin mendahului sang fajar. “Kau tak pernah mengerti perasaanku sebagai wanita, kau terlalu egois dengan mengorbankan cinta yang selama ini kita bina.” Mungkin itu nada suara paling sengit yang pernah aku dengar, mulutku seakan terkunci, entah harus berkata apa karena penjelasan dariku terasa sia-sia. Suaranya sedikit sendu dengan sesekali isakan tangis menyertai, itulah luapan emosi dari wanita yang selama ini aku anggap sabar dan pendiam.

Tak beberapa lama, keadaan makin reda. Suasana pun hening dan yang terdengar hanya daru hela nafas yang saling berpacu. Aku berusaha tenang dan mengatur detak jantung yang sedari tadi berguncang tak menentu. “Maaf, aku hanya ingin melihatmu tersenyum bahagia. Tak tega aku melihatmu menangis, walau aku sadar kalau semua yang aku lakukan tak sama dengan apa yang aku rasakan.” Terasa berat kata ini terucap, bergetar bibir ini karena rasa bersalah yang teramat sangat dalam. “Maaf, bila dalam hubungan cinta ini, aku selalu bermain dengan ketidak jujuran. Itulah resiko yang harus aku terima, merasa bersalah dan berdosa.” Dari kejauhan tangisnya makin merajalela, seperti ingin tenggelamkan dunia ini dengan air matanya. aku tak akan mampu menatap matanya, karena kali ini suaranya sudah cukup membuatku lemah lunglai.

“Sudahlah, tak mungkin saling mencintai tapi hanya dengan satu hati. Tak mungkin rasa kasih sayang ini aku serahkan pada hati yang sudah mati rasa. Aku lelah kau tipu dengan perasaan palsu berkedok kebahagiaan yang semu, mungkin kata jodoh masih jauh dari pelukan cinta kita. Jadi aku harap kau jangan banyak berharap.” Kata-katanya begitu menusuk jantung, membuat aku tak bisa berkutik sedikitpun. Tanpa sadar air mata yang sedari tadi terbendung, kini terhempas bebas. Ingin aku mengecupnya untuk yang terakhir kalinya, namun aku sadar itu tak mungkin. Penyesalan seketika itu menjelma jadi rasa pesimis akan masa depan yang telah menjadi mimpi. Jauh dari lubuk hatiku terbesit kata “Aku masih mencintaimu.”

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply to triadicl Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE