Kado Istimewa Buat Ibu

Sinar mentari menyusup di antara sela-sela jendela kamar, aku merasakan hangatnya menerpa kulit jemari dan sekejap saja aku benamkan lagi ke dalam selimut agar tak terasa menyengat. Mataku memicing, mengintip secara perlahan jam dinding yang melekat di samping bingkai foto saat acara wisudaku setahun yang lalu. Foto bersama keluarga dengan senyum yang merekah memancarkan raut wajah bahagia. Jarum jam menunjuk angka tujuh, masih terlalu pagi untuk bangun disaat hari libur seperti ini.

Aku mengalah, tak mampu memaksa mata ini terpejam lagi, hari ini ternyata aku punya janji dengan Rianty. Aku segera bangkit meraih handuk dan perlengkapan mandi sambil mengumpulkan nyali agar tak mudah ditaklukkan air ledeng yang terasa lebih menggigit. Setelah berganti pakaian, aku menyapa teman-teman kos yang tampak sibuk membereskan kamar masing-masing, diiringi alunan musik dangdut koplo membuat suasana seperti di lapak VCD/DVD kaki lima. “Aku sudah telat setengah jam,” batinku. Motor bebek yang terparkir sekejap saja aku pacu membelah pagi yang sunyi.

Tak berapa lama, aku tiba di depan rumah Rianty. Wajahnya manyun bercampur kesal, pandangannya menatapku tajam. “Telat bangun lagi?” Aku hanya mengangguk, tak mampu membalas tatapannya yang seakan ingin menelanku bulat-bulat. “Kamu tahu kan hari ini kita mau nyariin kado buat ibu, apa kamu lupa?” Di atas motor, Rianty masih saja mencecarku dengan omelannya. “Iya, maaf. Semalam aku begadang nonton bola.” Kami terdiam, hanya hembusan angin yang terdengar. Motor melaju perlahan menuju toko kain yang menjadi langganan Rianty.

Sesampainya di toko kain dan memilah-milah kain apa yang cocok buat ibunya, Rianty pun memilih kain warna hijau tua. “Kain ini cocok dibuat baju kebaya,” kata penjaga toko, disambut senyuman hangat kami  berdua. Setelah itu kami beranjak pergi dari toko kain menuju rumah sakit. Sudah hampir sebulan ini, ibunya Rianty dirawat di rumah sakit. Gagal ginjal kronis masih bersemayam dalam tubuhnya, hari ini bertepatan dengan hari ibu namun tak ada senyum yang tersungging dari bibir pucat ibunya. Yang ada hanya wajah sendu karena menahan sakit hingga terkadang jejak air mata tampak jelas di pipinya.

Saat kami datang, ibunya sedang terlelap. Rianty mengucup kening dan mengusap rambut ibunya yang mulai memutih. Di samping ibunya ada tante Lily adik dari ibunya Rianty. “Gimana persiapan pernikahan kalian?” Tanya tante Lily. Seketika aku dan Rianty saling memandang, seolah kehilangan kata-kata untuk menjawabnya. Sebenarnya tak pantas jika kami membicarakan pernikahan disaat ibunya Rianty sedang berjuang melawat sakit. “Ibu kamu berpesan agar pernikahan kalian dipercepat,” sambung tante Lily sambil menggenggam jemari ibu.

“Apa tidak bisa pernikahan kami ditunda dulu sampai ibu ke luar dari rumah sakit?” Jawabku menawarkan solusi dari kegelisahan aku dan Rianty selama ini. Meski persiapan pernikahanku dan Rianty sudah mendekati tahap akhir tapi kami selalu diselimuti rasa resah dan gelisah, tak sampai hati kami mengadakan hajatan besar tanpa melibatkan sang ibu tercinta. “Iya bude, Rianty pengen nungguin ibu sembuh dulu, baru kami menikah.” Rianty coba meyakinkan tante Lily. “Kata dokter, sakit ibumu memerlukan waktu yang lama untuk sembuh, kecuali jika ada pendonor ginjal yang cocok dan itu tak mudah. Ibumu sangat ingin melihat kalian menikah meski hanya sesaat.”

Keputusan sulit harus kami ambil untuk mewujudkan harapan ibu melihat kami menikah. Esok adalah hari bersejarah buat aku dan Rianty, persiapan sudah matang hanya menyisakan sedikit hal-hal kecil yang perlu diselesaikan. “Mas, aku ke toko kain dulu. Masih kurang beberapa meter untuk baju seragam keluarga.” Pesan singkat dari Rianty. Aku membacanya sekilas karena siang itu aku masih sibuk menyelesaikan kerjaan kantor sebelum esoknya aku cuti. Aneh memang, harusnya aku mempersiapkan diri untuk akad nikah besok tapi tugas dan tanggung jawab tak bisa aku abaikan.

Selepas magrib, dering telepon kantor menggugahku, seharian bergelut dengan rutinitas kantor hingga tak sadar aku terlelap di meja kerja. “Dimas!! Rianty kecelakaan.” Suara tante Lily bergetar di ujung telepon. Detak jantungku serasa berhenti, deru nafas pun seakan menguap lalu lenyap. Aku segera menyambar jaket dan bergegas ke rumah sakit. Seperti mimpi buruk, aku sempat berfikir seharusnya menjelang pernikahan kami tak boleh ke mana-mana. Entah itu hanya mitos atau ada makna di balik cerita orang tua dulu.

Di depan ruang unit gawat darurat tampak tante Lily duduk sambil mengusap air mata. “Gimana keadaan Rianty, tante?” Tanyaku cemas. “Dokter masih melakukan operasi, kepalanya terbentur aspal. Motornya ditabrak mobil box yang remnya blong. Rianty terpental kemudian…” Tante Lily tak sanggup melanjutkan ceritanya. Aku hanya berdoa semoga Tuhan masih menyayangi Rianty, esok harusnya menjadi hari yang bahagia buat aku dan Rianty tapi sekarang? Aku tak sanggup menahan derai air mata, terbayang perjuangan ibunya melawan sakit dan kini dia pun harus berjuang untuk bertahan hidup.

Dua jam berlalu dalam hening, tak pernah putus untaian doa mengalun dalam hati. Pintu ruang UGD terbuka perlahan, aku dan tante Lily menyambut dokter dan beberapa asisten. “Maaf, kami telah berusaha sekuat tenaga tapi Tuhan berkehendak lain, Rianty telah tiada.” “Rianty, .. Rianty…” teriak tante Lily tak berapa lama ia jatuh pingsan, aku dan beberapa suster segara memindahkan tante Lily ke ruang perawatan. Tubuhku seketika lunglai, seakan tak berdaya melihat Rianty terbaring di ruang jenazah. Degup jantungku berdetak hebat ketika aku melihat wajahnya yang terbalut perban, bibirnya pucat dan senyumnya hilang tak berjejak.

Kehilangan anak semata wayang yang bersiap untuk menikah tentu menyisakan luka batin yang sangat dalam, seperti itulah perasaan ibunya Rianty. Kondisinya sempat drop ketika tahu Rianty telah kembali kepelukan Ilahi, air matanya tak pernah kering hingga aku dan tante Lily harus menemaninya semalam suntuk agar kondisinya tenang. Ketika malam kian larut, aku masih belum bisa terlelap. Di kamar kos yang senyap aku coba menjelajah blog Rianty, ia sangat gemar menulis puisi dan aku rindu dengan puisi-puisi yang dulu menjadi kisah hidupnya. Aku terhenyak ketika membaca puisi yang ia tulis beberapa hari sebelum kecelakaan maut merenggut nyawanya, puisi untuk menyambut hari ibu berjudul,

“Kado Istimewa Buat Ibu”

Ibu..
hati pilu melihatmu terbaring lemah tak berdaya.
Gurat senyum kini menjauh dari bibirmu yang kelu.
Aku anak yang tak tahu membalas rindu.
Mengabaikan inginmu,
Agar aku segera menjadi sepertimu.
Menjadi seorang ibu
Yang merawat anaknya tanpa mengenal peluh.

Maafkan aku ibu,
senyummu adalah anugerah.
Harapanmu adalah doa.
Tak sepatutnya aku membalasnya dengan air mata.
Aku rela menebus sakitmu dengan ginjalku,
Sebagai kado istimewa di hari ibu,
Agar engkau kembali tersenyum bahagia selalu.

Selesai.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE