Jogja Tujuan Wisata Istimewa

Mengunjungi Yogyakarta tidak lengkap tanpa merasakan sendiri sensasi tempat-tempat wisata nun unik, menarik dan sarat kisah bersejarah. Yogyakarta terkenal sebagai kota dengan peradaban budaya yang terjaga kelestariannya hingga kini, sebuah kota yang wajib disambangi oleh wisatawan asing maupun domestik sebagai tujuan wisata yang istimewa. Saya pun berkesempatan menjajal beragam tempat wisata yang ada di kota Jogja, didampingi oleh seorang sahabat yang sudah cukup lama bermukim di kota yang biasa disebut kota pelajar ini membuat rasa penasaran saya makin membuncah untuk segera merasakan suasana Jogja.

Minggu sore di kota Jogja cuaca cukup bersahabat, meski siang hari hujan sempat mengguyur sesaat namun itu tak menyurutkan niat saya untuk berkeliling di pusat kota Jogja. Dengan motor kepunyaan sahabat, kami memulai perjalanan menuju Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Akses jalan menuju Keraton sudah mulai padat oleh masyarakat yang ingin menghabiskan waktu liburan, tampak di alun-alun utara Keraton dipenuhi beragam arena permainan dan pedagang beserta lapak-lapaknya. Seperti suasana pasar malam yang selalu ramai dikunjungi warga sekitar.

Suasana Keraton Yogyakarta

Karena pintu utama Keraton ditutup (memang tidak terbuka untuk umum), sahabat saya memberi solusi dengan melewati pintu samping yang memang diperuntukkan bagi wisatawan dan pengunjung yang ingin melihat dari dekat suasana Keraton. Di jalan masuk Keraton ada sebuah tugu jam yang merupakan persembahan dari paguyuban, pegawai pemerintahan dan masyarakat Tionghoa yang bertempat tinggal di wilayah Keraton dalam rangka memperingati hari penobatan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Setelah memasuki area samping Keraton, kita bisa berfoto-foto dengan background pintu gerbang Keraton atau rumah adat jawa.

Selanjutnya, saya menuju alun-alun selatan Keraton Yogyakarta. Alun-alun yang terkenal dengan pohon beringin kembar, konon katanya hanya orang yang berhati bersih yang bisa lewat diantara pohon beringin itu dengan mata tertutup. Banyak orang yang sudah mencoba melewatinya dengan mata tertutup tapi malah berbelok ke berbagai arah menjauh dari tujuan. Makin sore suasana alun-alun selatan Keraton semakin ramai, anak-anak dan remaja yang bermain gelembung sabun, penjaja makanan bertebaran di tepi jalan, dan odong-odong dengan beraneka warna lampu berjejer di bahu jalan.

Alun-alun selatan Keraton Jogja

Hari beranjak gelap, tujuan selanjutnya adalah jalan Malioboro. Jalan yang tak pernah sepi, jalan yang menjadi identitas kota Jogja, jalan yang menjadi pusat cinderamata dan pernak-pernik khas Jogja. Menyusuri setiap lapak dagangan di jalan Malioboro sepertinya saya ingin memborong semua cinderamata yang menjadi ikon kota Gudeg ini, ukiran tangan, kain batik yang eksotik hingga camilan khas macam bakpia Ruminten. Saya lalu diajak sahabat ke toko bernama Morita Batik, toko yang cukup luas berisi pernak-pernik khas Jogja mulai dari gantungan kunci, wayang kulit hingga koleksi batik yang lengkap. Yang unik, di dalam toko itu ada ibu paruh baya yang sedang membatik lengkap dengan canting, lilin malam dan pemanas. Jadi saya bisa melihat proses membatik secara langsung.

Marita Batik

Tak terasa waktu semakin larut malam, saya dan sahabat bergegas pulang. Jalan Malioboro memang ramai saking ramainya, ruas jalan khusus pejalan kaki juga digunakan oleh moda transportasi semisal sepeda, becak dan andong. Tentu ini mengganggu kenyaman pengguna jalan kaki, saya harus ekstra waspada jangan sampai tertabrak. Langkah kaki saya terhenti ketika melihat sekumpulan orang berdiri di tepi jalan, ternyata orang-orang itu sedang menyaksikan pertunjukan musik yang dibawakan secara atraktif oleh muda-mudi diiringi drum, gendang dan alat musik tradisional lainnya. Saya cukup terhibur melihat atraksi mereka dan paduan musik seperti itu tak hanya satu tapi ada beberapa kelompok musik yang menggunakan trotoar sebagai panggung pertunjukan mereka.

Paduan Musik Malioboro

Sungguh perjalanan wisata yang istimewa, waktu berlalu begitu cepat hingga saya tak sempat mengunjungi seluruh tempat-tempat wisata yang ada di Yogyakarta karena harus segera pulang ke kota Makassar. Semoga suatu hari nanti saya bisa kembali menginjakkan kaki di kota yang berslogan ‘Never Ending Asia’ dan melengkapi kunjungan saya sebelumnya. Salam Blogger..!

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE