Inter, Tim Raksasa Yang Tak Lagi Perkasa

249677-800

Eder mencari Gol perdana untuk Inter (Foto: inter.it)

Kekalahan 2-0 atas Juventus pada giornata ke-27 semakin menegaskan jika kini Inter berada dalam krisis, kekalahan itu pun menguak spekulasi tentang masa depan sang allenatore Roberto Mancini meski telah dibantah Wakil Presiden Inter Javier Zanetti, legenda Il Nerazzurri itu menegaskan jika Erick Thohir masih percaya pada pria berkebangsaan Italy itu untuk menukangi Inter hingga masa kontraknya berakhir.

Lupakan laju impresif Inter di awal musim yang membukukan lima kemenangan beruntun dan sempat memuncaki klasemen Serie A selama empat pekan, memasuki paruh kedua tepatnya sejak pergantian tahun dimana para rival mulai menampakkan jati diri dengan menunjukkan performa mumpuni, laju si Biru Hitam malah tertatih dan seolah letih untuk berlari. Dampaknya tentu saja posisi di tangga klasemen yang terus merosot.

Dari 10 laga Serie A di tahun 2016 yang telah dilakoni Mauro Icardi dkk hanya tiga kemenangan yang bisa diraih armada Biru Hitam, torehan yang terbilang buruk untuk tim sekelas Inter. Menghadapi tim yang berada satu level di bawahnya saja Inter kerap kesulitan menang, bahkan berakhir dengan kekalahan. Seperti halnya ketika La Beneamata nyaris kalah sebelum akhirnya memaksa hasil imbang 3-3 kala bersua tim juru kunci Hellas Verona.

Belum lagi hasil-hasil minor lainnya yang di atas kertas Inter memiliki keunggulan dan peluang besar untuk meraih kemenangan namun selalu gagal. Jika melawan tim-tim yang secara kualitas berada satu tingkat di bawahnya saja sudah kerepotan, bagaimana jika bertemu dengan tim-tim mapan yang punya mental juara? Penampilan inkonsisten Ular Besar seolah menegaskan jika kini Inter merupakan tim raksasa yang tak lagi perkasa.

Buruknya performa Inter tentu menyeret satu nama yang harus bertanggung jawab, siapa lagi kalau bukan Don Mancio. Taktikan Inter itu terlalu “kreatif” meramu formasi di setiap pertandingan. Saking kreatifnya, para lawan sampai tak perlu usaha keras untuk membongkar benteng pertahanan dan dengan mudah menjebol gawang Samir Handanovic.

Ketiadaan formasi baku dan pemilihan strategi yang disesuaikan dengan lawan yang akan dihadapi awalnya sukses membawa Inter tampil konsisten di papan atas meski kerap menang dengan hasil yang kurang meyakinkan yakni hanya unggul 1-0, dan ajaibnya gawang Handanovic saat itu hanya kebobolan 12 kali dari 19 laga awal Serie A.

Predikat tim dengan pertahanan terbaik pun tersemat untuk Il Nerazzurri di awal musim hingga di penghujung tahun 2015. Memasuki paruh kedua atau sejak kekalahan 1-2 atas Lazio pada 21 Desember 2015 predikat tersebut seakan hilang tak berbekas. Inter semakin akrab dengan kekalahan dan kebobolan banyak seperti saat digebuk 3-0 oleh Juventus di ajang Coppa Italia pada 28 Januari 2016 dan tak lama berselang giliran Milan yang memberondong gawang Handanovic dengan skor yang juga sama 3-0. Di bulan Februari 2016 dari enam laga Inter sudah kebobolan 11 kali.

Jelang Semifinal Leg Kedua Coppa Italia Kontra Juventus

Mungkin saat ini manajemen Inter dan Interisti masih bisa bersabar dengan penurunan performa skuat Nerazzurri beberapa pekan terakhir ini. Terlebih dengan target tiga besar yang dicanangkan pemilik Inter Erick Thohir yang masih realistis untuk dicapai, hanya berjarak lima angka dari AS Roma yang kini menempati posisi tiga. Masih ada 11 laga Serie A yang harus dimaksimalkan Inter untuk mewujudkan mimpi tampil di kompetisi bergengsi di daratan Eropa musim depan.

Ujian pertama Inter untuk bangkit ketika dini hari nanti skuat Roberto Mancini akan menghadapi Juventus (lagi) pada leg kedua semifinal Coppa Italia, perjuangan La Beneamata untuk menembus final terbilang berat setelah di leg pertama kalah 3-0 di Juventus Stadium. Banyak  yang menilai Inter butuh keajaiban untuk lolos dan masuk final namun berbekal semangat dan dukungan puluhan ribu suporter yang memadati Giuseppe Meazza, Inter mau tak mau harus bermain ofensif untuk membalikkan defisit tiga gola atau empat gol tanpa balas agar lolos ke final.

Tak mudah memang, terlebih Juventus masih menjadi lawan yang susah ditaklukkan Inter. Dari 12 pertemuan terakhir di berbagai kompetisi, Mauro Icardi dkk hanya sekali menang yakni pada November 2012 silam. Misi Il Nerazzurri kala menjamu Juventus selain untuk lolos ke final Coppa Italia meski sangat berat, setidaknya Inter harus menang demi memperbaiki rekor pertemuan dan meningkatkan mental para pemain.

Cukuplah bulan Januari hingga Februari menjadi bulan yang kelam dan tak bersahabat untuk skuat La Beneamata. Memasuki bulan Maret 2016 diharapkan peruntungan Inter akan berbuah manis dengan memenangkan banyak pertandingan, meski berat namun berbekal semangat juang yang tak kenal lelah sarta dihuni pemain-pemain berkualitas skuat asuhan Roberto Mancini diyakini mampu merealisasikan target untuk finish di posisi tiga bersar. Forza Inter.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE