Inter Bangkitlah

hl-inter_34e191d

Tren negatif masih menaungi Inter sejak Stefano Pioli resmi ditunjuk sebagai suksesor Frank De Boer yang dipecat awal November silam.

Ekspektasi Inter terhadap Stefano Pioli memang sangat tinggi dan diharapkan sesegera mungkin memberi dampak positif bagi Icardi dan kawan-kawan yang kini sedang berada pada performa yang memprihatinkan. Berakhirnya era De Boer yang hanya seumur jagung setidaknya meniupkan angin segar pada penggantinya yang diyakini mampu membawa Nerazzurri ke tempat yang semestinya yakni berada di jalur persaingan juara. Namun pada kenyataannya jauh panggang dari api.

Pemecatan De Boer memang menyisakan pro dan kontra, sebagai fans layar kaca saya pun sangat menyayangkan pemberhentian sepihak pria asal Belanda tersebut sebelum ia mengerahkan semua kemampuan terbaiknya dalam meramu taktik yang sukses mengantar Ajax Amsterdam meraih empat gelar Eredivisie secara beruntun. Namun keputusan manajemen klub sepertinya lebih kuasa menentukan masa depan pelatih berusia 46 tahun tersebut yang harus berakhir dengan surat PHK.

Suksesor De Boer adalah Stefano Pioli yang menyisihkan nama-nama beken seperti Fabio Capelo, Leonardo, Laurent Blanc, hingga Manuel Pellegrini yang sebagian pihak menganggapnya sebuah blunder. Catatan kepelatihan Pioli jauh dari kata mentereng, sepanjang kariernya pria berusia 51 tahun tersebut hanya berkutat pada klub-klub medioker kecuali Lazio yang ia tangani dan berhasil mengantar Biancoceleste finish di peringkat tiga musim 2014/15.

Debut Kurang Manis

Dari dua laga yang telah dilakoni Pioli, hasilnya pun kurang meyakinkan dan itu seolah membenarkan anggapan bahwa menunjuk taktikan kelahiran Parma tersebut merupakan sebuah kesalahan. Ditahan imbang 2-2 oleh AC Milan pada laga Derby giornata 13 Serie A, dan paling anyar dikalahkah Hapoel Be’er Sheva 3-2 yang di atas kertas kualitas Inter lebih baik dari klub asal Israel tersebut. Dan ironisnya kekalahan itu sekaligus mendepak La Beneamata dari kompetisi Europa League yang menjadi satu-satunya kompetisi bagi Inter untuk bisa berbicara banyak di kancah Eropa.

Kekalahan yang dialami Inter pada match kelima babak penyisihan grup Liga Europa dini hari tadi cukup menyesakkan, Nerazzurri yang sempat unggul 2-0 berkat gol dari Mauro Icardi dan Marcelo Brozovic yang bertahan hingga turun minum, namun di babak kedua Hapoel berhasil bangkit dan menyamakan kedudukan jadi 2-2 berkat gol Lucio Maranhao dan Nwakaeme lewat eksekusi penalti plus Handanovic dihadiahi kartu merah oleh wasit.

Derita Inter makin lengkap ketika Ben Sahar mencetak gol saat laga memasuki injury time, skor 3-2 bertahan hingga laga usai. Inter pun pulang dengan tangan hampa dan menutup peluang melangkah lebih jauh di Liga Europa musim ini.

287035-800

Stefano Piolli

Secara permainan Inter ditangan Stefano Pioli sedikit lebih baik dibanding era De Boer yang terlihat memaksakan strategi ofensif dan keteteran saat menghadapi serangan balik cepat, ketika menghadapi AC Milan penguasaan bola dipegang oleh Inter meski secara efektivitas serangan Milan lebih mendominasi. Akibatnya dua gol Milan lahir dari kelengahan lini belakang yang kurang tanggap mengantisipasi counter attack yang dilakukan Milan, beruntung respon positif diberikan Inter dengan membalas dua gol hingga laga usai dan hasil imbang menjadi skor yang adil bagi kedua tim.

Performa impresif Inter coba dilanjutkan saat menghadapi Hapoel Be’er Sheva di Liga Europa, laga tersebut sejatinya merupakan laga hidup mati bagi La Beneamata mengingat kemenangan wajib diraih untuk menjaga napas mereka di kompetisi kasta kedua di Benua Biru tersebut. Namun takdir berkata lain, gol di masa injury time memaksa Inter pulang dengan kepala tertunduk.

Masa Transisi

Musim ini Inter sudah melakukan dua kali pergantian pelatih yang berimbas pada pola permainan yang sedikit banyak juga ikut berubah. Inkonsistensi Nerazzurri tentu saja akibat penerapan taktik dan strategi dari setiap pelatih yang belum maksimal, setiap pelatih membawa filosifinya masing-masing dan pemain butuh waktu untuk menerjemahkan apa saja yang diinginkan pelatih tersebut.

Awalnya Mauro Icardi Cs sudah cukup fasih menjalankan strategi Roberto Mancini, meski terlihat kaku dengan mengutamakan kekuatan di lini belakang dan serangan balik cepat mampu membawa Inter finish di peringkat empat musim lalu. Namun hasil buruk di laga pramusim dan perseteruannya dengan petinggi klub memaksa Mancio angat kaki dari Giuseppe Meazza.

Frank De Boer yang ditunjuk sebagai pengganti Mancini dan masih minim pengalaman melatih tim mapan sempat menjadi perdebatan, banyak yang meragukan kapasitas mantan pemain timnas Belanda tersebut kala menangani tim sekaliber Inter dan membawa Handanovic dkk keluar dari masa sulit.

Hasilnya memang sesuai perkiraan banyak pihak, ketatnya persaingan di Serie A, minimnya laga pramusim buat meneer, hingga dikabarkan bersitegang dengan beberapa pemain membuat kinerja De Boer kurang maksimal. Akhirnya masa depan Frank De Boer berakhir setelah kurang dari tiga bulan menukangi La Beneamata.

Kini Inter harus kembali beradaptasi dengan pola permainan ala Stefano Pioli, pelatih yang digadang-gadang sesuai dengan filosifi permainan Inter yang indentik dengan lini pertahanan yang solid namun memiliki serangan yang mematikan. Dari dua laga yang telah dijalani Inter bersama Pioli terlihat skema permainan Antonio Candreva Cs lebih hidup dan lebih banyak penguasaan bola, namun selain itu Pioli dituntut untuk mengembalikan mental bertanding Inter yang kini mudah rapuh.

Laga Derby menghadapi AC Milan menunjukkan mental pantang menyerah Inter di tangan Pioli, setiap pemain mengerahkan semua kemampuannya demi hasil yang terbaik. Meski bermain imbang hal tersebut tak menyurutkan rasa optimis bagi Inter di laga selanjutnya. Namun saat kalah dari Hapoel, allenatore Inter malah menyoroti mental bertanding Mauro Icardi  yang kurang fokus khususnya di babak kedua.

Apapun itu ini baru awal dari perubahan yang dibawa Stefano Pioli, meski kabar menyebutkan bahwa penunjukannya hanya untuk jangka pendek sebelum Inter mengontak Diego Simeone sebagai target utama, Pioli tak merasa terusik dan tetap profesional pada tugasnya. Dua laga yang telah dijalani Inter bersama Pioli bukan acuan dari performa Inter yang sedang menurun, kompetisi masih panjang dan peluang Inter untuk bangkit pun masih terbuka lebar. Kita lihat saja sepak terjang Stefano Pioli bersama Inter. Forza INTER.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE