Inter, Ada Apa Denganmu

279439-800

image by inter.it

Inter Bak Roller Coaster

Performa Inter di bawah polesan Frank De Boer masih belum berkilau, penampilan Mauro Icardi dkk baik di liga domestik ataupun di kompetisi Eropa masih jauh dari kata memuaskan. Di Serie A La Beneamata kini menghuni posisi sembilan dengan koleksi 11 poin hasil dari tiga kemenangan, dua hasil imbang, dan dua kali kalah.

Si Biru Hitam sempat merangkai tiga kemenangan beruntun yakni Pada giornata ketiga saat mengungguli Pescara 2-1 lalu dilanjutkan dengan perfoma impresif saat menjungkalkan Juventus 2-1 di Giuseppe Meazza, selanjutnya melibas Empoli 2-0 sebelum akhirnya rentetan kemenangan Inter terhenti saat ditahan imbang Bologna 1-1. Penampilan Inter pun semakin jeblok setelah dibabat AS Roma 2-1 di Olimpico.

Di kancah Eropa nasib tim peraih treble winners 2010 itu lebih tragis lagi, digadang-gadang sebagai tim unggulan. Inter malah tampil melempem setelah di laga perdana penyisihan grup dikalahkan tim antah berantah Hapoel Be’er Sheva 0-2 di hadapan puluhan ribu pendukungnya. Lalu di laga kedua Nerazzurri kembali menelan kekalahan dari Sparta Prague dengan skor 3-1, alhasil untuk sementara Inter harus puas sebagai juru kunci di grup K tanpa mampu meraih poin.

Dengan penampilan Inter yang naik turun bak roller coaster beragam rumor mencuat mulai dari jadwal pra musim yang terlalu padat hingga perseteruan sang pelatih dengan salah seorang pemain yang sedikit banyak turut mempengaruhi performa La Beneamata di lapangan. Sejauh ini presiden Erick Thohir dan manajemen tim masih memberi kepercayaan pada allenatore asal Belanda itu mengingat tongkat kepelatihan yang ia emban dari tangan Roberto Mancini hanya berjarak dua minggu sebelum liga Serie A resmi bergulir.

Tentu pelatih yang baru pertama kali merasakan kerasnya persaingan di tanah Italia itu butuh waktu dan proses agar taktiknya mampu diterjemahkan oleh pemain. Selain itu adaptasi para pemain-pemain yang baru didatang pada transfer musim ini pun butuh kesempatan yang lebih untuk saling mengerti, namun apakah alasan-alasan klasik seperti itu bisa diterima oleh seluruh suporter?

Tak Ada Sukses Yang Instan

Sebagai Interisti layar kaca, saya pun cukup kecewa dengan penampilan Si Ular Raksasa di awal musim ini, namun banyak faktor yang membuat penampilan Samir Handanovic dkk naik turun. Peralihan skema permainan pragmatis cenderung defensive ala Reberto Mancini ke strategi offensive ala Frank De Boer bukanlah hal yang mudah.

Pemain-pemain yang sempat didatangkan Mancio pun sebagian bertipikal bertahan dan punya skill standar yang belum teruji kemampuannya, hal tersebut tentu untuk mendukung taktiknya seperti musim lalu. Bermain monoton dan terkesan bertahan serta sesekali melancarkan serangan balik cepat.

Sedangkan De Boer adalah sosok pelatih yang mengutamakan penguasaan bola dan bermain menyerang, tentu membutuhkan sosok pemain dengan kemampuan dan skill mumpuni di sektor penyerang. Untunglah manajemen Inter bergerak cepat, pemain sekelas Antonio Candreva, Joao Mario, Ever Banega, dan Gabriel Barbosa berhasil di daratkan sebelum transfer musim panas ditutup. Setelah skuat dirasa lengkap barulah sang meneer menerapkan formasi 4-3-3 atau 4-2-3-1 untuk mendukung strategi idamannya.

Di era Mancini, Inter yang terbiasa dengan formasi 4-3-1-2 pun tentu kelimpungan jika harus berganti formasi secara mendadak. Belum lagi para pemain yang mengisi starting line up sebagian besar merupakan pemain baru, tentu butuh waktu untuk bisa menerjemahkan keinginan pelatih dengan formasi yang berbeda.

Tak ada sukses yang diraih dengan instan, lihat saja perjuangan Sir Alex Ferguson kala membangun MU dari tim semenjana menjadi sebuah tim bergelimang gelar. Juventus yang butuh empat musim untuk bangkit sejak terpuruk dan terlempar ke Serie-B karena kasus Calciopoli, dan kebangkitan Atletico Madrid di tangan Diego Simeone yang kini sukses mengganggu dominasi Real Madrid dan Barcelona.

Inter sejatinya berada di jalur yang tepat, meski tak selalu menang setidaknya skuat Biru Hitam pun tak melulu menderita kekalahan. Semua elemen-elemen penunjang tim masih beradaptasi untuk menjadi sebuah kesatuan yang utuh. Tugas kita sekarang sebagai fans layar kaca untuk terus memberi dukungan meskipun disaat tim sedang terpuruk.

Bernostalgia dengan masa lalu, boleh saja. Inter pernah berjaya di Eropa dengan merengkuh treble winners pada musim 2009/2010 dan membuat Il Biscione sebagai satu-satunya tim Italia pertama yang mampu melakukannya. Namun setelah itu performa Inter jeblok dan hingga kini masih puasa gelar, apakah Inter terlena dengan kesuksesan masa lalu? Hanya Anda (Interisti) yang bisa menjawabnya.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE