Informasi Data Pribadi Mudah Dicuri

Smartphone-Security

Kenyamanan dan keamanan bagi konsumen saat berbelanja online menjadi hal yang fundamental dan harus dipenuhi jika ingin melihat industri e-commerce tanah air terus menggeliat.

Isu keamanan informasi data pribadi pengguna internet belakangan ini mulai terusik setelah beberapa akun konsumen online shopping ternama dibobol, akibatnya terjadi transaksi tanpa sepengetahuan pemilik akun yang mengakibatkan kerugian materi yang tak sedikit. Tentu kejadian tersebut membuat kepercayaan konsumen online shopping kembali tercoreng terlebih lagi yang mengalaminya merupakan e-commerce sekelas Lazada.

Jika keamanan data pengguna e-commerce sebesar Lazada begitu rentan terhadap aksi pencurian, lalu bagaimana dengan nasib e-commerce lokal atau industri toko online yang sedang membangun reputasi agar terhindar dari aksi serupa dan dilirik oleh calon konsumen. Apa yang mereka tawarkan meski dengan kualitas dan harga yang lebih bersaing jika tak diimbangi dengan jaminan keamanan, tentu sulit bagi e-commerce tersebut untuk berkembang.

20 April diperingati sebagai Hari Konsumen Nasional, di era digital seperti saat ini yang menawarkan beragam kemudahan bagi pengguna yang gemar berbelanja online tak serta merta mengorbankan keamanan khususnya mengenai data pribadi konsumen. Kasus pembobolan akun yang menimpa konsumen Lazada patut dijadikan alarm bagi calon konsumen lain atau pemilik e-commerce agar meningkatkan sistem keamanan data pribadi penggunannya.

Indonesia sudah seharusnya memiliki Undang-undang yang berkaitan dengan perlindungan data pribadi konsumen jika menilik kasus seperti yang dialami pemilik akun Lazada. Seperti halnya Undang-undang tentang perlindungan informasi dan transaksi elektronik yang semestinya tak bisa berjalan sendiri-sendiri.

Ketika konsumen melakukan transaksi secara elektronik ada data pribadi yang tersimpan pada server penyedia layanan jasa atau barang, hal tersebut menjadi riskan jika ada oknum yang tak bertanggung jawab menyalahgunakan data pribadi konsumen yang telah melakukan transaksi. Syukur-syukur jika pihak perusahaan punya iktikad baik dengan memberi ganti rugi, namun jika tidak? Ke mana konsumen harus mengadu.

Kabarnya rancangan RUU Perlindungan Data Pribadi ini baru akan dibahas pada Program Legislasi Nasional (Prolegnas) tahun 2016. Itu artinya hingga tahun depan pengguna internet yang gemar berbelanja dan bertransaksi secara online belum memiliki undang-undang yang melindungi data pribadi bagi konsumen.

Tentu sangat disayangkan sebagai salah satu negara terluas dengan jumlah pengguna internet terbanyak belum memiliki undang-undangan yang mengatur tentang perlindungan data-data pribadi. Khusus di kawasan ASEAN hanya Indonesia yang belum memiliki undang-undang perlindungan data pribadi, sehingga tak heran jika bayang-banyak pencurian data pribadi yang telah tersimpan di berbagai server-server perusahaan atau penyedia layanan digital akan selalu menghantui.

Berkaca Pada Fitur Enkripsi WhatsApp

Aplikasi messaging Whatsapp consern dengan isu keamanan data pribadi pengguna yang mudah dibobol. Sebagai bentuk tanggung jawab terhadap keamanan privasi penggunanya, Whatsapp meningkatkan sistem keamanan aplikasinya ke level yang lebih tinggi. Yakni dari sistem pengaturan enkripsi default menjadi enkripsi end to end.

Enkripsi end to end merupakan metode pengamanan data dengan cara mengirim kode yang dihasilkan saat pesan dikirim. Jadi data yang dienkripsi dengan sistem end to end hanya bisa diakses oleh orang yang memiliki kode, normalnya adalah pengirim dan penerima pesan. Sehingga kecil kemungkinan bagi orang lain untuk mendecrypt (membuka enkripsi) agar dapat dibaca, tak terkecuali bagi pembuat aplikasi itu sendiri.

Jika diterapkan dengan benar, teknik enkripsi end to end sangat aman dan dapat melindungi privasi penggunanya namun juga menimbulkan pro dan kontra. Beberapa ororitas di negara maju mengingatkan bahwa penjahat dan kelompok-kelompok bersenjata dapat memanfaatkan fitur keamanan tersebut untuk menyembunyikan jejak mereka, seperti dalam kasus Apple kontra penegak hukum Amerika.

Pihak Apple menolak untuk membuka pengaman data di iPhone milik tersangka kasus teroris di San Bernardino, Syed Rizwan Farook meskin itu perintah langsung dari pengadilan Amerika. Pihak berwajib Amerika terus menekan Apple dalam perkembangan penyelidikan penembakan di San Bernardino tersebut. Namun pihak Apple tetap menolak upaya pelemahan sistem enkripsi miliknya, Apple kekeuh menolak karena ingin tetap melindungi pivasi data penggunanya di perangkat iPhone.

Tentu ini menjadi sebuah pelajaran, jika ingin memiliki konsumen yang loyal tentu memberikan pelayanan yang prima merupakan sebuah kewajiban. Konsumen mempercayakan informasi data pribadinya pada kita tentu harus kita jaga sebagai bentuk tanggung jawab, menjaganya dari para kriminal di dunia maya, para hacker, dan para penjahat cyber. Selamat Hari Konsumen Nasional.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE