Indonesia Latah 4G?

(Image : azzrule.wordpress.com)

Peluit panjang tanda dimulainya era mobile 4G LTE (Long Term Evolution) di Indonesia telah ditiupkan oleh pemerintah melalui Menkominfo, itu artinya pengguna internet tanah air yang merindukan koneksi data super cepat bisa merasakan sensasi menjelajah dunia maya di atas 100 Mbps. Desember 2014, tiga operator besar tanah air yakni Telkomsel, XL Axiata, dan Indosat resmi mengkomersilkan layanan 4G LTE meski hanya dibeberapa kota sebagai permulaan.

Telkomsel dengan jumlah pelanggan mencapai 140 juta memilih Jakarta dan Bali sebagai kota peluncuran layanan 4G LTE, XL Axiata melakukan kick off 4G LTE di tiga kota yakni Medan, Yogyakarta, dan Bogor sedangkan Indosat memusatkan layanan 4G LTE di Jakarta menyusul Yogyakarta dan Bali di akhir Januari 2015. Diharapkan hingga akhir tahun 2015 layanan 4G LTE akan merata di seluruh kota-kota besar di Indonesia.

Namun apakah komersialisasi layanan 4G LTE yang terkesan dipaksakan memang sudah dibutuhkan oleh pengguna internet tanah air? Bagaimana nasib layanan 3G yang belum merata dan tak semua penduduk Indonesia bisa menikmatinya atau bahkan jaringan 2G yang jumlah penggunanya mencapai 70 persen. Sejak tiga tahun lalu, negara-negara maju seperti Cina, Jepang, Amerika, Korea Selatan sudah mengadopsi layanan broadband super cepat 4G LTE.

Ditunjang dengan infrastruktur jaringan yang dikelola secara matang, ketersediaan perangkat (handset) dengan harga yang terjangkau serta beragam aplikasi lokal yang mampu memaksimalkan penggunaan layanan generasi keempat. Usaha pemerintah untuk sejajar dan mengikuti jejak sukses negara-negara maju dalam hal perkembangan teknologi dan informasi patut diapresisasi, namun terlalu naif jika layanan 4G LTE ini digelar hanya untuk mengejar gengsi dan tak ingin dikatakan tertinggal oleh negara-negara yang memang secara infrastruktur dan ekosistem dipersiapkan secara terencana.

Apakah Indonesia latah dengan layanan mobile 4G LTE? istilah “kalau bukan sekarang, kapan lagi? Menjadi pemicu digebernya layanan 4G LTE akhir tahun 2014 (yang rencananya akhir tahun 2015) meski secara infrastruktur jaringan, kesiapan alokasi spektrum, dan ketersediaan handset yang me-support 4G masih menjadi kendala. Toh, operator dan pemerintah sepertinya menutup mata akan hal itu dan tetap mengkomersilkan layanan generasi keempat di tengah keterbatasan.

Kita tak bisa melawan derasnya arus perkembangan teknologi dan informasi yang semakin pesat, mengikuti dan mengaplikasikan teknologi tersebut untuk menunjang aktivitas keseharian adalah mutlak dilakukan namun tanpa persiapan yang matang bukankah hal tersebut malah akan merugikan?

Tak ada salahnya jika pemerintah menunggu kesiapan operator untuk menyediakan kualitas jaringan yang stabil dan merata di seluruh Indonesia sambil menunggu ketersediaan handset yang mendukung layanan 4G LTE yang saat ini masih terbatas dan harganya pun mahal. Sebelum pemerintah dan operator memasuki era 4G sebaiknya benahi dulu layanan 3G bahkan layanan 2G yang masih banyak menemui masalah di lapangan.

Banyak pengguna 3G yang mengalami disconnect ketika sedang online, panggilan telepon yang tiba-tiba putus di tengah jalan, susahnya mencari jaringan seluler ketika berada di pelosok atau daerah-daerah terpencil dan masih banyak lagi permasalahan yang harus diselesaikan oleh operator sebagai penyedia layanan telekomunikasi. Tak usahlah memaksakan koneksi internet super cepat sekelas 4G LTE jika layanan setara 3G bahkan 2G belum bisa dinikmati sembari ngopi dan membaca koran pagi.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE