Icardi, From Hero to Zero

Mauro Icardi resmi jadi rekrutan anyar tim kaya asal Prancis, Paris Saint-Germain di detik-detik akhir bursa transfer musim 2019/2020. Kepergian Pemain berusia 26 tahun itu bukanlah sebuah kejutan mengingat banyaknya kasus yang menimpa suami model Wanda Nara itu sejak pertengahan musim lalu dan membuat petinggi Inter geram. Dicabutnya ban kapten, tak disertakan dalam latihan dan tak masuk dalam skuat yang bertanding, serta beralihnya nomor punggung sembilan ke Romelu Lukaku jadi puncak perang antara Inter dan Icardi.

Sejak didaratkan dari Sampdoria dengan banderol 13 juta euro pada April 2013, Icardi datang dengan predikat pemain muda potensial dengan torehan 10 gol dari 38 penampilannya bersama Sampdoria. Untuk pemain yang masih berusia 20 tahun, pencapaian tersebut terbilang cukup oke apalagi di kompetisi Serie A yang terkenal keras dan sangat mengandalkan skill serta kekuatan fisik. Ia pun digadang-gadang sebagai bomber muda paling menjanjikan dan diharapkan mampu membawa Inter meraih banyak trofi.

Di musim perdananya bersama La Beneamata yakni musim 2013/2014, Icardi hanya menyumbang sembilan gol yang dibuatnya dalam 31 penampilan. Tentu torehan gol tersebut masih jauh dari harapan mengingat ia bermain di klub besar dan ditopang oleh pemain-pemain berkelas yang membuatnya bisa lebih ganas di depan gawang lawan.

Musim berikutnya yakni 2014/2015, Icardi mulai mengeluarkan taji. Tiga kompetisi yang diikuti Inter di musim itu yakni Europa League, Coppa Italia, dan Serie A Icardi mampu mencetak total 27 gol. Sebuat raihan yang istimewa untuk pemain muda yang bermain di tim sekelas Inter. Meski di musim berikutnya yakni musim 2015/2016 koleksi golnya hanya 16 yang ia peroleh dari 35 penampilan.

Selanjutnya di musim 2016/2017 Icardi kembali mencetak dua digit gol atau 24 gol dalam 34 penampilannya di musim tersebut, plus dua gol di Liga Europa. Tentu kembali tajamnya Icardi tak lepas dari kondisi fisiknya yang prima dan usianya yang semakin matang untuk seorang penyerang tengah.

Pundi-pundi gol Icardi pun melambung di musim 2017/2018, 29 gol ia lesakkan dan menahbiskan dirinya sebagai top skor Serie A bersama Ciro Immobile yang mencetak jumlah gol yang sama. Torehan gol tersebut menjadi pencapaian yang luar biasa bagi Mauro Icardi dan berkat gol-golnya di musim itu, Inter berhasil finish di posisi empat yang artinya tiket Liga Champions di musim berikutnya sudah ada di tangan.

Musim 2018/2019 sejatinya jadi musim yang menyenangkan bagi pria dengan tinggi 181 cm itu. Setengah musim berjalan, Icardi sudah mengoleksi 11 gol. Namun perseteruannya dengan Inter yang kabarnya perihal perpanjangan kontrak baru yang tak juga menemui titik terang membuat kedua belah pihak perang komentar di media. Pernyataan sang agen yang juga istrinya, Wanda Nara dituding sebagai biang kerok permasalahan antara Icardi dan Inter.

Wanda Nara terlalu banyak menuntut dan sering mengeluarkan komentar-komentar yang menyudutkan Inter seputar kontrak baru dan tentu saja kenaikan gaji yang dianggapnya Inter sengaja membuatnya rumit. Situasi tersebut tentu saja membuat manajemen Inter geram, bahkan Direktur Inter, Giuseppe Moratta sampai berkata “Wanda telah memecah belah Inter”

Sejak itu nasib Icardi terkatung-katung. Jadi pesakitan, tak diikutkan tour pra musim, ditepikan saat berlatih, dan tak dimasukkan dalam skuat yang bertanding. Masa depannya pun dispekulasi akan segera berakhir di Inter. Hingga detik-detik akhir bursa transfer pemain, ada PSG yang berminat membawa Icardi ke Prancis dengan status pinjaman dan opsi pembelian di akhir musim dengan banderol 70 juta euro.

Terlepas dari polemik yang berakhir dengan konflik antara agen sekaligus istrinya Wanda Nara dengan manajemen Inter yang sampai saat ini masih simpang siur penyebabnya, Mauro Icardi tetap menjadi striker Inter yang banyak berjasa dengan 124 gol dan 36 assist dalam 219 penampilan selama enam musim berseragam Nerazzurri. Dengan usianya yang masih 26 tahun tak banyak striker yang bisa melakukan itu, terlebih lagi di kompetisi Serie A yang terkenal keras dan kompetitif.

Tapi sayang, sikapnya yang terlalu menuruti keinginan sang agen memicu kontroversi bahkan konflik yang merambat ke ruang ganti pemain hingga petinggi klub harus turun tangan. Interisti pun ikut bereaksi mengecam tindakan sang agen yang sepertinya terlalu memaksakan kehendak. Permasalah ini sebenarnya bisa diselesai secara baik-baik jika kedua belah pihak duduk bersama dan mencari jalan tengah terbaik, tapi sepertinya petinggi Inter sudah hilang kesabaran.

Kehilangan sosok Icardi tak perlu disesali oleh para fans karena Inter sudah mendatangkan striker yang tak kalah hebat pada diri Romelu Lukaku dan yang terbaru Alexis Sanchez yang hadir di menit-menit akhir bursa transfer musim ini. Memang keduanya dicap sebagai pemain “gagal” selama merumput di Old Trafford namun bagaimana pun keduanya masih punya nama besar dan tentunya reputasi yang baik di mata petinggi klub dan juga Interisti.

Inter akan mengarungi musim 2019/2020 dengan banyak pemain baru, Inter seolah ingin menghapus identitas musim lalu yang sebagian diisi pemain-pemain bermasalah. Kini mereka bersiap menjalani musim baru dengan wajah baru serta semangat baru di bawah arahan pelatih baru. Forza Inter.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE