Hoax di Tengah Bencana

Seperti sudah sepaket, di mana ada bencana pasti sebaran hoax juga ikut merajalela.

Warganet yang malas mengonfirmasi dan mengecek kebenaran informasi sebelum membagikannya entah itu via media sosial atau grup messenger memang masih sangat banyak, akibatnya berita hoax pun menyebar liar ketika terjadi bencana di suatu daerah.

Jumat kemarin, Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah diguncang gempa beserta gelombang tsunami dan diikuti pergeseran tanah yang merenggut ratusan korban jiwa. Bencana alam tersebut tentu jadi duka kita semua setelah Lombok yang juga mengalami kejadian serupa. Dampak yang ditimbulkan khususnya gempa di Palu dan Donggala sangat luar biasa memorak-porandakan beberapa wilayah padat penduduk di kawasan Sulawesi Tengah tersebut.

Seperti yang sudah-sudah, sesaat setelah bencana gempa dan tsunami Palu, beredar informasi yang belum jelas sumbernya jika bencana alam serupa diprediksi akan terjadi di beberapa daerah sekitar Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan. Berita hoax tersebut seketika berkembang liar di ranah media sosial dan grup-grup messenger.

Di Pinrang, Beberapa puluh warga terpaksa harus mengungsi ke hutan akibat informasi gempa dan tsunami yang akan melanda wilayah mereka. Dan yang terbaru, warga pesisir Kabupaten Bone berhamburan ke luar rumah dan mencari perlindungan di dataran tinggi pasca gempa 3.1 skala richter yang mengguncang wilayah pesisir Sinjai.

Isu tersebut sudah dibantah oleh pihak BMKG Makassar dan menghimbau agar warga kembali ke rumah masing-masing, karena setelah gempa Palu dan Donggala sejauh ini tidak ada potensi pergeseran gempa ke daerah lain. Termasuk ke Bone. Hingga saat ini belum ada teknologi yang mampu memprediksi kapan gampa terjadi, bahkan sampai menentukan waktu kejadiannya. Demikian pernyataan dari BMKG, namun warga dihimbau untuk tetap waspada.

Terkait penyebaran hoax yang masif tersebut memaksa pihak BMKG mengeluarkan himbauan agar masyarakat tidak menanggapi isu-isu terkait prediksi gempa dan gelombang tsunami dan lebih mengutamakan informasi resmi yang dikeluarkan oleh BMKG.

Bijaklah bermedia sosial ataupun berbagi informasi meski sejatinya untuk membantu orang lain, namun jika berita tersebut belum terjamin kebenarannya sebaiknya cari tahu dulu ke pihak-pihak terkait sebelum menyebarnya di media sosial atau grup-grup messenger.

Kadar kepedulian netizen dalam menyikapi penyebaran hoax saat ini memang sangat memprihatinkan. Tak ada rasa bersalah dan berdosa ketika informasi yang ia sebar hanyalah berita hoax yang berpindah dari satu grup ke grup yang lain, dari satu akun media sosial ke akun media sosial yang lain. Dengan entengnya si penyebar hoax berdalih jika informasi tersebut ia copy dari grup sebelah.

Pemerintah sejatinya rutin menggalakkan aksi agar penyebaran hoax tak semakin merajalela khususnya saat terjadi bencana, namun hal itu menjadi tak berguna jika pengguna internet sendiri yang tak ingin mengubah perilaku mereka saat berinteraksi di dunia maya. Jadilah netizen yang dewasa dan tahu tata krama karena etika dan moral pun berlaku di jagat maya.

Semoga korban gempa dan tsunami Palu dan Donggala diberi kekuatan dan ketabahan, serta keikhlasan dalam menghadapi musibah ini.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE