Hidup Tanpa Sinyal Bukan Kiamat

ece448edfe91e27e9e32aa379aa9fb38

Foto: Ilustrasi

Kebutuhan manusia modern pada sinyal selular sudah seperti kebutuhan pokok , sehari tanpa sinyal selular apalagi koneksi internet ibarat sehari tanpa makan nasi tentu ada yang kurang dan serasa hidup di jaman tempoe doeloe.

Membaca tulisan Daeng Ipul “Hidup Tanpa Sinyal, Bagai Taman Tak Berbunga” membuat pikiran saya menerawang dan membayangkan andai tiba-tiba sinyal selular hilang, koneksi internet terputus dalam jangka waktu yang tak ditentukan. Apakah saya masih bisa melewati hari-hari dengan senyum, tawa, dan rasa bahagia? Atau bagaimana jika saya dipindahtugaskan ke daerah yang belum terjamah oleh jaringan selular untuk waktu yang lama, apakah saya sanggup bertahan hidup di sana? Mungkin saya bisa bertahan hidup tapi hidup dalam kekakuan semua akan berjalan datar dan terasa membosankan.

Seperti itulah yang dialami Daeng Ipul ketika menjelajahi daerah-daerah di Kalimantan, masih banyak kawasan di pelosok Kalimantan yang belum ter-cover sinyal selular. Kalaupun ada, kekuatan sinyal yang muncul di layar handphone kadang timbul tenggelam, jangankan untuk berselancar di dunia maya, melakukan panggilan suara saja dibutuhkan usaha ekstra bahkan dukungan dewi fortuna. Namun hidup tanpa sinyal tak selamanya berdampak abnormal bagi orang yang terbiasa dengan limpahan jaringan selular, selalu ada hal unik dan menarik seperti yang ceritakan Daeng Ipul.

Saya pernah ke salah satu desa di Tombolo Pao, Tombolo Pao merupakan kecamatan di Kabupaten Gowa hasil pemekaran dari kecamatan Tinggimoncong. Butuh waktu sekitar dua jam dari kota Malino untuk sampai ke sana, jalan yang dilalui pun berkelok-kelok melewati pegunungan dan harus berhadapan dengan jurang yang mengintai sepanjang jalan. Di sana tak ada sinyal selular, listrik pun masih mengandalkan genset dan pembangkit listrik tenaga air sederhana. Sekitar tiga jam saya berada di sana bisa dipastikan saya sudah tak merasa betah dan ingin segera pulang.

Saya termasuk orang yang ketergantungan pada sinyal apalagi sinyal internet, mulai dari bangun tidur sampai mau tidur pun mata tak bisa lepas dari layar smartphone, bermain game, eksis di media sosial, chatting hingga membaca artikel semua saya lakukan kadang tanpa jeda. Namun harus diakui kebiasaan tersebut bisa berdampak buruk bagi diri sendiri dan orang lain, keasyikan becengkerama di dunia maya kadang mengabaikan keberadaan orang-orang di sekitar kita. Kurang peduli dan tak lagi tanggap dengan hal-hal nyata yang ada di hadapan kita merupakan nilai minus dari era digital.

Sesekali hidup tanpa sinyal selular itu perlu, ibarat komputer yang butuh penyegaran dengan menekan tombol restart. Hidup juga butuh penyegaran, tak perlu jauh-jauh masuk hutan, berlelah-lelah naik ke puncak gunung atau berpanas-panas di tepi pantai untuk merasakan hal tersebut. Cukup matikan handphone kemudian ngobrol lepas dengan orang-orang tercinta, bertegur sapa dengan para tetangga atau berbagi cerita bersama keluarga itu lebih berharga dari sekadar update status dan berbalas komentar via jejaring sosial.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE