Gantung


Melayang dan mengambang, mungkin itulah gambaran dari perasaan yang menggantung saat hati berada pada fase yang samar dan buram. Memang tak mudah menjalani perasaan yang menggantung, butuh ketegaran dan kekuatan mental yang lebih untuk melewati fase krusial itu. Saat dimana kita ‘dipaksa’ menjadi pilihan kedua disaat peluang untuk menjadi yang pertama sangatlah kecil dalam hatimu yang hanya cukup untuk satu raga. Ya, hati ini hanya untuk satu raga, satu jiwa dan tidak untuk dibagi dengan raga yang lain hingga menimbulkan rasa kecewa dan kesedihan. Ada harga yang harus dibayar saat kita mengambil sebuah keputusan atau pilihan, ada yang harus dikorbankan saat kita memilih untuk menjalani rasa yang menggantung. Rasa rindu yang terbunuh oleh cemburu bahkan rasa sayang yang tak pantas untuk dipendam.

Cinta selalu memberi rasa sejati pada setiap kesan dan harapan, ada impian untuk diraih, ada kenyataan yang membentang dan harus dilalui. Pun begitu dengan hati dan perasaan, kadang sulit diungkap dengan kata-kata meski hanya untuk mengungkapkan alasan mengapa hati ini rela digantung, mengabaikan ‘status’ yang sebenarnya memiliki makna prioritas dalam suatu hubungan yang bisa menjadi bomerang dan hambatan untuk melangkah ke depan. Memang status hanya untuk mereka yang butuh pengakuan, namun begitu banyak keraguan dan tanda tanya yang menggelayut dalam pikiran saat status masih menggantung. Situasi kadang memaksa kita untuk memilih hal yang bertentangan dengan kata hati, ingin melupakan tapi tak ingin melepaskan, tak ingin mengikat namun tak ingin jauh.

Ada saatnya kita berada pada fase yang labil, fase dimana hati dan pikiran masih tak stabil. berusaha meyakinkan perasaan agar tak salah dalam mengambil langkah. Memang tak mudah meyakinkan hati dan meyakinkan orang-orang terdekat kita atas pilihan yang telah kita ambil, namun bukan berarti solusi itu tidak ada selama keyakinan itu tertanam kuat dalam hati, selalu berdoa dan tak henti berusaha mencapai apa yang sudah diimpikan. Keyakinan hati ini tak akan berubah kecuali jika kita sendiri yang ingin merubahnya, tak pernah terbesit sedikitpun rasa sesal ketika perasaan ini memilih untuk menjadi pilihan kedua, toh biarpun menjadi pilihan pertama tapi bila tak ada rasa cinta dan sayang sebaiknya lupakan saja.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE