Firasat 2

Teman-teman kos yang lain masih bertahan di kamar masing-masing, air mengalir deras seperti arus sungai. Kami jalan perlahan meninggalkan kos mencari tempat yang lebih tinggi untuk menyelamatkan diri, “Astagfirullah, Astagfirullah,” Suara mama terdengar parau, matanya berkaca-kaca. Aku memeluk erat ponakanku, langkah kami terasa berat karena kaki kami melawan arus yang deras, nampak orang-orang di sekitar perumahan ikut menyelamatkan diri dengan membawa barang-barang. Air sudah setinggi paha orang dewasa, teman-teman kosku akhirnya ikut mengungsi dengan menenteng tas travel dan barang berharga lainnya.

Kami numpang di rumah tetangga yang cukup tinggi, rumah itu sudah direnovasi sehingga air tak sampai merendam rumah itu, rumah itu menjadi tempat pengungsian sementara kami bersama warga perumahan yang lain sambil menunggu bantuan dari tim SAR. Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari, hawa dingin merasuk hingga ke tulang, air masih mengalir dan belum ada tanda-tanda akan surut. Ada sekitar lima belasan warga yang mengungsi di rumah itu, anak-anak dan ibu-ibu berkumpul di ruang tamu yang agak luas, dan bapak-bapak berjaga di teras sambil menunggu jika saja masih ada warga lain yang membutuhkan bantuan.

Tak berapa lama tim SAR datang dengan membawa perahu karet, aku lalu mengajak mama, kakak dan ponakan naik ke atas perahu karet untuk mencari tempat yang lebih aman. Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari, tak mungkin aku dan keluarga menunggu hingga air surut untuk kembali ke mes, syukurlah ponakanku yang berumur lima tahun tidak rewel, sepertinya dia tahu kalau daerah ini sedang dilanda musibah, dengan pakaian seadanya ponakanku masih sempat bertanya tentang apa yang sedang terjadi.

Setelah sampai di tempat yang aman, aku segera menumpang mobil kampus yang kebetulan datang meninjau keadaan banjir di tempat itu, aku mencari penginapan untuk menenangkan diri sekaligus beristirahat dan berkemas-kemas mengingat esok siang, mama, kakak dan ponakanku akan pulang kembali ke Makassar. Syukurlah tak berapa lama kami mendapatkan penginapan jadi keluargaku masih bisa beristirahat sambil mempersiapkan barang-barang yang masih bisa diselamatkan dan dibawa esok hari.

Sekitar jam tujuh pagi, aku dan kakak perempuanku kembali ke mes untuk melihat keadaan dan mengambil barang-barang yang kiranya masih bisa diselamatkan, seperti sandal, karena semalam aku dan keluarga tak satupun yang memakai sandal saat mengungsi. Air masih menggenang hingga betis orang dewasa, keadaan mes sunyi karena semua teman-teman mengungsi ke rumah dosen lain yang tak terkena banjir. Aku melihat kamarku yang berantakan, air yang bercampur lumpur masih terjebak di halaman kamar, barang-barang yang tak terselamatkan masih berserakan di lantai, kamarku seperti habis terkena banjir bandang yang meluluh-lantakan seisi kamar.

Ponakanku saja berfirasat, malam itu sebelum bajir menerjang, ponakanku yang biasanya cerewet tiba-tiba jadi pendiam dan setiap eyangti atau ibunya bercerita, ponakanku selalu bilang “sstt, jangan ribut.” Dia melarang siapa saja yang ingin bercerita, ponakanku juga tidur lebih awal mungkin karena kelelahan setelah seharian jalan. Keadaan malam itu memang sunyi senyap, hujan memang sudah reda. Tapi satu jam setelah itu, datanglah banjir hebat dan menyapu semua yang dilaluinya.

Aku merenung tentang musibah yang terjadi semalam, malam itu cobaan datang selih berganti dan sedikitpun aku tak punya firasat apapun, kejadian-kejadian yang aku alami sebelum banjir hebat itu melanda, aku anggap sebagai musibah biasa yang bisa terjadi pada siapa saja. Namun seketika aku sadar jika akhir-akhir ini aku semakin jauh dari Allah, aku terlena dengan kesibukan yang membutakan, terbuai dengan aktivitas dan mengorbankan ibadah.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE