Entah Apa yang Merasukimu, Inter

Perlahan tapi pasti, Inter menjelma sebagai tim yang patut ditakuti oleh lawan-lawannya. Bukan lagi tim angin-anginan yang kadang permainannya bikin pendukung fanatiknya jantungan, entah apa yang merasuki pemain-pemain Inter sehingga mampu menyapu bersih lima laga awal Serie A musim 2019/2020 dengan kemenangan.

Sebelum genderang kompetisi paling prestisius di ranah Italia yakni Liga Serie A musim 2019/2020 digelar, Inter sudah jauh-jauh hari sesumbar akan merombak total skuad demi meraih hasil yang lebih baik dibanding musim sebelumnya. Janji manajemen Inter ternyata bukan sekadar janji, gerak cepat dilakukan Inter demi mendokrak gengsi dan nama besar Nerazzurri yang beberapa musim ini memang tenggelam oleh tim-tim lain semisal Juventus, Napoli, bahkan Lazio yang musim lalu jadi penantang serius Inter saat memperebutkan satu tiket ke Liga Champions.

Inter ibarat raksasa yang tertidur atau lebih tepatnya raksasa yang kebanyakan minum obat tidur sehingga sulit untuk bangun. Beberapa musim belakangan saat tim lain bersolek dengan mendatangkan pemain-pemain top, Inter malah membeli pemain standar bahkan pemain yang reputasinya masih meragukan seperti Borja Valero dan Dalbert.

Namun sialnya, beberapa pemain pinjaman yang tak terpakai di klubnya masing-masing malah berhasil unjuk gigi di Inter seperti Joao Cancelo, Rafinha, Yan Karamoh, dan Roberto Gagliardini tapi hanya Yan Karamoh dan Gagliardini yang mampu ditebus Inter. Sedangkan Cancelo ditebus oleh Juventus dan Rafinha harus kembali ke Barcelona setelah masa pinjamannya berakhir.

Terbatasnya ruang gerak Inter ketika jendela transfer pemain dibuka memang jadi dilema bagi tim Biru Hitam, dituntut meraih hasil terbaik namun punya banyak masalah yang harus diselesaikan. Seperti sulitnya mendatangkan pemain berkualitas karena beberapa musim lalu Inter masih dalam pengawasan UEFA terkait Financial Fair Play Regulation (FFP), juga karena memang daya beli Inter masih kalah dibanding tim-tim besar lainnya.

Di satu sisi, Inter ingin mendatangkan pemain berkelas namun tak ingin gegabah mengeluarkan dana besar untuk membeli pemain dengan gaji yang besarnya juga bekali-kali lipat. Tapi di sisi lain Inter ingin meraih trofi yang sudah enam musim tak dirasakan oleh tim berjuluk Ular Besar, atau sekadar memperbaiki predikat yang dulu hanya kontestan perebut posisi empat besar menjadi pesaing yang memperebutkan titel juara.

Tentu saja membeli pemain standar atau pemain muda yang belum terkenal jadi solusi kilat mengatasi masalah itu, namun hasilnya bisa ditebak. Permainan Inter seperti roller coaster kadang bagus tapi lebih banyak tak bagusnya.

Musim ini Inter sepertinya belajar banyak dari pengalaman. Pergantian pemilik dari Erick Thohir ke Suning Group sebuah perusahaan investasi asal Cina jadi awal kebangkitan si Ular Besar. Suning Group seolah paham betul bagaimana caranya mengelola sebuah bisnis khususnya di industri sepakbola. Mereka tak serta-merta menggelontorkan dana besar untuk memoles Inter menjadi tim penuh bintang, seperti yang dilakukan Manchester City atau PSG.

Suning mereparasi kondisi Inter yang ‘sakit’ dimulai dari jajaran manajemen, penunjukan Giuseppe Moratta jadi direktur olahraga Inter merupakan langkah awal Suning membawa Inter kembali ke habitatnya. Siapa yang tak kenal dangan mantan juru transfer Juventus itu, Moratta sukses mendatangkan pemain top seperti Andrea Pirlo, Patrice Evra, Daniel Alves, hingga Paul Pogba.

Kepiawaiannya mendaratkan pemain-pemain berkelas diharapkan mampu menular di Inter, dan terbukti skuad Inter musim ini dihuni nama-nama besar seperti Romelu Lukaku, Alexis Sanchez, serta talenta-talenta muda seperti Nicolo Barella dan Stefano Sensi yang sejauh ini tampil apik membawa Inter melaju mulus dengan lima kemenangan beruntun di Serie A.

Polesan tangan dingin Antonio Conte pun jadi pembeda pada penampilan La Beneamata sejauh ini. Perbedaan terlihat jelas dari formasi, taktik, dan skema permainan yang sebelumnya memang terlihat biasa saja. Namun di tangan Antonio Conte, permainan Inter berubah drastis. Suporter tak akan melihat lagi Inter dengan umpan-umpan lambung di kedua sisi lapangan atau taktik umpan satu dua sentuhan di area pertahanan sendiri.

Inter ala Conte bermain dengan sigap serta karakter yang lebih ngotot. Padahal mayoritas pemain Inter musim ini dihuni pemain-pemain baru yang tentu saja butuh waktu agar bisa klop dengan keinginan Conte yang melihat Inter bermain secara tim, namun sejauh ini Inter bisa bermain kompak dan menikmati setiap pertandingan yang mereka jalani. Tak hanya saat melawan tim-tim medioker, ketika bertemu AC Milan di Derby pekan lalu dan mengalahkan Lazio dini hari tadi, Inter menunjukkan permainan yang gemilang.

Telalu dini memang jika menyebut Inter jadi kandidat juara musim ini atau sebagai penantang serius sang juara bertahan Juventus pun sepertinya masih terlalu pagi. Liga Serie A baru memainkan lima laga masih ada 33 lagi untuk membuktikan kualitas Conte sebagai pelatih top dan membawa Inter meraih hasil terbaik musim ini. Tentu Interisti tak ingin melihat tim kesayangannya bernasib seperti musim-musim sebelumnya, berlari kencang di awal namun tertatih-tatih jelang akhir. Forza Inter.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE