Edrika In Memorial

Waktu tak bisa berputar kembali, dan masa lalu akan menjadi sebuah bingkai dalam kehidupan. Kita belajar dari masa lalu, tahu tentang segala sesuatu dari masa lalu. Namun aku tidak akan larut dalam nostalgia masa lalu, yang hanya akan membuatku berjalan di tempat. Kadang aku berkata sendiri dalam hati “Hei.. Lupakan dia, tak mungkin dia datang dalam dunia nyata sekalipun.” Tapi dilain hati aku pun berkata “Dia yang terindah buatmu, sekarang atau nanti dia pasti akan kembali.” Perang batih semakin berkecamuk, dentuman perasaan jiwa meluluh lantakan logika, sampai kapan ini harus tejadi? Andai pilihan itu segera aku ambil mungkin ini tak akan terjadi. Aku akui dia yang terindah setelah sekian lama aku berpetualang mencari secerca sinar biru, dan harapan mulai tumbuh saat dia datang dengan wujud makhluk setengah bidadari. Aku tak menyangkal kalau aku memujanya dengan segenap jiwa dan raga, kutepikan semua hal yang membuatku jauh darinya.

Awal tak selamanya indah tapi akhir tak harus berakhir sedih, mencoba mengais sisa-sisa mimpi yang belum selesai terajut. Segalanya tertata dengan rapi, diletakkan pada tempat yang semestinya, hingga menunggu saat-saat akan digunakan. Hari belomba dengan waktu mengikuti alur cerita alam, Sang Pencipta menunjukkan kekuasaannya dengan memberi manusia cobaan. Aku merasa tak sanggup melalui cobaan ini, kekuatanku belum sampai pada tahap itu. “Tuhan, Aku percaya dengan kekuasaanMU maka beri aku petunjuk untuk bisa melalui cobaanMU.” Dengan tertatih-tatih dan wajah penuh kerutan seolah menyesal kenapa Aku harus sayang dia. Akhirnya segalanya porak-poranda, harapan dan impian sirna di tengah badai kekecewaan. Tak ada yang tersisa dan tak ada yang bisa digunakan lagi.

Ku yakinkan hati, itu bukan suatu kesalahan, bukan suatu penyesalan, walau dengan hati berdarah-darah meratapi kepergiannya. Bukan dirinya yang salah namun cara dia menyelesaikan masalah hati yang salah, bersembunyi dibalik kepura-puraan, bersikap ramah dalam kegalauan. Ku yakinkan hati, ini bukan akhir dari segalanya, bukan penutup dari sebuah cerita kolosal. Namun ku akui memang dia bisa membuat aku berfikir tanpa sempat menghela nafas, dan berhenti untuk mengatur ritme denyut jantung yang dinamis.

Selamat tinggal “Edrika”. Serpihan masa lalu yang terlalu indah untuk dilupakan. Sekeping harapan tinggal harapan, dan impian hanya tinggal impian. Semoga Tuhan membukakan jalan yang terbaik buatku dan masa depanku.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE