Duka Sepakbola Indonesia

Agak ngilu sih bayangin tidak ada sepak bola di Republik, tapi saya setuju

Bambang Pamungkas

Saya pun setuju dengan BP jika sepakbola Indonesia sebaiknya dihilangkan saja jika hanya melahirkan duka dan air mata. Bagi para suporter sepakbola, mendukung tim kesayangan yang sedang bertanding adalah sebuah kebahagiaan, kesenangan, dan juga kebanggaan. Namun buat apa menyaksikan pertandingan klub tercinta jika pulang hanya tinggal nama.

Lini masa media sosial dan dunia maya kini sedang ramai pemberitaan suporter Persija Jakarta, Haringga Sirila yang tewas akibat dikeroyok oknum pendukung Persib Bandung. Rivalitas dua suporter klub besar tanah air itu memang dikenal sengit dan sering berakhir bentrok.

Puncaknya tentu saja korban jiwa yang terus berjatuhan kala Persib dan Persija bertanding, Haringga Sirila menjadi korban panasnya rivalitas suporter Bobotoh dan The Jak Mania dalam lanjutan Liga 1 2018 pekan ke-23. Pemuda 23 tahun itu rela mendukung tim kesayangannya meski harus menyambangi kandang lawan di Bandung, dan nahas nyawanya tak tertolong saat gerombolan Bobotoh menyerangnya dengan brutal.

Semua pihak mengecam kejadian tersebut, sangat disayangkan jika dukungan untuk tim tercinta yang seharusnya menjadi sebuah kebahagiaan dan kebanggaan kini bisa berakhir petaka yang semua orang tentu tak menginginkan peristiwa itu terjadi.

Fans Layar Kaca

Sebagai fans layar kaca meski bukan pendukung tim lokal, saya selalu senang melihat totalitas suporter yang menonton di stadion. Sejak dulu saya selalu mengidamkan menonton pertandingan sepakbola di stadion, namun hingga saat ini keinginan itu belum pernah terwujud. Sensasi mendukung tim favorit langsung di stadion tentu euforianya berbeda ketika hanya menyaksikannya di layar kaca.

Salah satu alasan yang membuat saya kurang antusias nonton di stadion kala menyaksikan tim lokal berlaga di kompetisi Indonesia karena sering terjadinya bentrok atau kerusuhan jika tim tuan rumah kalah, kejadian tersebut sering dialami oleh tim sepakbola Indonesia dengan basis pendukung yang besar. Tim tuan rumah yang suporternya tidak terima jika klub kebanggaannya kalah biasanya melampiaskan kekecewaannya pada suporter lawan atau merusak fasilitas stadion.

Peristiwa bentrok antar pendukung tim sepakbola memang sudah menjadi hal yang lumrah, apalagi di Indonesia. Meski tak semua suporter berperilaku anarkis namun kejadian yang terus berulang seolah menegaskan jika sepakbola Indonesia tak bisa lepas dari kekerasan dan brutal.

Hal-hal seperti itulah yang membuat saya lebih senang menjadi suporter tim Eropa meski hanya menyaksikan pertandingan di layar kaca. Saya pun tak peduli dengan hasil yang diraih tim lokal tempat tinggal saya atau siapa juara liga Indonesia tiap musimnya. Kecuali saat timnas yang bertanding tentu saja jiwa nasionalisme saya akan mendukung secara otomatis.

Saya dan juga suporter sepakbola lainnya pasti menginginkan kompetisi liga Indonesia yang benar-benar profesional. Bukan saja pro dari segi format liganya, namun juga dari aturan dan sanksi tegas bagi klub yang melanggar. Kapan sepakbola kita bisa maju jika para pendukungnya tak pernah akur?


Pemerintah harus bertindak tegas menyelesaikan masalah sepakbola di negeri ini, khususnya mengatasi kerawanan bentrok yang melibatkan pendukung tim-tim yang punya sejarah kelam saat bertemu seperti Persib dan Persija. Atau sebaiknya kompetisi Liga Indonesia dibekukan saja agar tak ada lagi korban jiwa yang terenggut sia-sia, semoga kejadian ini jadi yang terakhir dan ada solusi dari pemerintah agar suporter bisa kembali menyaksikan tim kebanggaannya bertanding dengan aman dan nyaman.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE