Dia yang Terpilih

Namaku Seruni. Gadis pendiam dan sabar dengan semangat meraih cita-cita yang tinggi, setinggi langit yang harus aku gapai dan aku capai. Perjalanan itu sungguh sulit, menghirup sejenak cinta sejati pun sangatlah tak mudah. Terlalu banyak cinta yang aku sia-siakan, tak sedikit waktu aku hambur-hamburkan hanya untuk memuaskan hati yang lengang. Semua cinta itu aku anggap angin lalu, tak pernah meninggalkan kesan yang indah. Sungguh aku sebagai wanita yang normal dan merasa sempurna tak layak mendapatkan perlakuan seperti ini, namun aku sadar kalau selama ini aku terlena dan tak peduli dengan perasaan orang lain.

Tak sedikit pria yang telah mengorbankan segalanya hanya untuk mendapatkan cintaku, bermacam kriteria pria membuat aku tak pernah kehabisan kasih sayang. Namun semua itu tak mampu membuka pintu hatiku yang telah lama terkunci karena penghianatan dan kekecewaan. Terketuk pun tak pernah aku rasakan, apakah aku wanita yang mati rasa? ah, itu hanya ilusi perasaan yang sesaat dan akan hilang dengan sendirinya. Aku tetap Seruni gadis yang egois dan hanya ingin menikmati indahnya dunia, tak ada yang bisa merubahku dan tak ada yang memaksaku untuk memilih cinta itu.

Sekian bulan, sekian tahun berlalu tanpa ada perubahan yang berarti. Aku tetap Seruni yang dulu, sampai suatu ketika datang seorang lelaki. Parasnya biasa dengan penampilan sederhana, tutur katanya santun dan dia mengingatkanku pada seseorang yang dulu aku kenal. “Seruni?” katanya lembut dengan dialeg Solo yang kental. Aku hanya mengangguk dan tak tahu harus berkata apa. “Janjiku telah aku tepati, bertemu denganmu ditempat ini.” kata pria itu pelan. Seketika pikiranku menerawang kemasa lalu, mencoba mereka-reka kisah dan kenangan yang indah ataupun yang gelap.

“Ijinkan aku melamarmu, sebagai janji yang pernah aku ucapkan.” tiba-tiba dia menggenggam erat tanganku. Aku hanya terdiam, dan seketika aku teringat sosok Ryo. Kekasih yang telah membuatku tega membunuh cinta sejati yang telah lama menjadi impian. Karena dia, aku berubah menjadi cewek egois dan anti kasih sayang dari lelaki lain, karena dia hingga aku mengunci hati dan tak ada yang bisa membukanya. “Tunanganmu?” kataku singkat. “Kamulah yang aku pilih” jawabnya. Diapun memelukku dengan pelukan kasih sayang dan membuat pintu hatiku kembali terbuka, dan menerima cinta sejatinya.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE