Cinta Dalam Cerpen

Minggu pagi, Dimas sudah mondar-mandir depan cermin, sesekali merapikan rambutnya yang disisir belah dua mirip jalan tol. Badannya diputar kanan kiri hanya untuk sekadar memastikan kalau baju kemeja dan celana jeans yang baru dibelinya dari Matahari Plaza dua hari yang lalu udah pas dan matching, waktu itu Dimas nggak sengaja belanja niatnya hanya ingin jalan-jalan sekalian nyuci mata tapi karena terhipnotis harga diskon dan promo akhirnya Dimas pun tergoda.

Dimas baru tersadar ketika menyusuri kios dan toko yang berjejer di mall kalau dua hari lagi akan ada acara tingkat nasional bertajuk kumpul “Blogger Nusantara” yang tentunya akan dihadiri oleh para Blogger-blogger dari berbagai daerah, tentunya ia dan teman-teman sebagai peserta tuan rumah harus terlihat keren, cool dan trendy agar memberi kesan yang baik. Namun ada hal lain yang membuat Dimas semangat 45 untuk menyambut acara tersebut, apalagi kalau bukan karena kehadiran seorang cewek misterius yang sangat ia nanti-nantikan.

Dimas mengenal cewek itu hampir dua tahun tapi belum sekalipun mereka bertemu dan bertatap muka. Mereka hanya bertegur sapa via pesan Facebook, berbagi kabar lewat sms atau telepon dan bercanda tawa di mention Twitter, dunia maya seakan menjadi dunia nyata buat mereka. Cewek itu bernama Destia, cewek yang punya hobi sama seperti Dimas, mereka sama-sama gemar ngeblog dan suka berbagi pengalaman dengan menulis. Destia suka menulis puisi jadi nggak heran kalau tulisan di blognya berisi kata-kata khiasan sarat penuh makna.

Destia berada jauh di seberang pulau tepatnya di pulau jawa, sedangkan Dimas ada di pulau antah berantah yang nggak ada di peta dunia, Dimas dulunya tersesat ketika sedang bermain di hutan belakang rumah. Dan tiba-tiba ia diculik oleh gerombolan penjahat namun akhirnya bisa diselamatkan oleh seekor gorilla, kemudian gorilla itu yang merawat Dimas hingga besar, Loh? Dimas Tarzan donk..hehe. (hanya intro).

Jarak yang jauh tak menyurutkan pertemanan mereka bahkan mereka semakin dekat seperti sahabat bagaikan kepompong hingga akhirnya waktu jualah yang akan mempertemukan mereka di acara kumpul Blogger Nusantara yang diadakan di kota Anging Mammiri tempat Dimas tumbuh dan besar. Destia akan datang sebagai perwakilan dari komunitas Blogger di kotanya, Semarang.

Dimas masih bersemedi dalam kamar, kali ini ia udah bolak-balik toilet tiba-tiba perutnya mules mungkin pengaruh grogi karena nggak lama lagi akan bertemu teman dunia mayanya.
“Udah cakep!!” batin Dimas. Langkah kakinya beradu menuruni tangga, sarapan udah disiapkan mamanya sejak pagi buta.
“Mau ke mana, Dimas,” Tanya mamanya.
“Biasa lah Ma, mau ke acara anak muda.”
“Anak muda apaan? Teman-teman kamu yang lain udah pada punya anak, lah kamu? pacar aja nggak ada.” Suara Mamanya nyaring bak speaker 10.000 watt terdengar jelas oleh Dimas.
“Uhuukk, uhuuk,” Dimas keselek nugget yang berisi tulang ayam.
“Ada kok Ma, nanti deh aku kenalin. Aku pergi dulu ya, Ma. Assalamu alaikum.” Dimas pun menyambar tas ransel dan jaket yang ada di atas meja. Motor kesayangannya udah parkir di teras rumah dan siap mengantar sang pemiliknya ke tempat acara.

Setelah menerobos macet dan menerjang keramaian pasar tumpah yang menyesaki jalan, akhirnya Dimas tiba di lokasi acara. Gedung serba guna milik lembaga penelitian pemerintah menjadi tempat pagelaran acara, gedung yang mampu menampung kira-kira ratusan orang itu nampak udah ramai dijejali oleh para peserta yang datang dari berbagai kota. Setelah Dimas melakukan registrasi, ia segera masuk ke dalam gedung dengan hati yang dag, dig, dug, jegeer. Matanya lirik kanan kiri, atas bawah, depan belakang mencari sosok Destia yang selama ini gentayangan di pikirannya.

“Dia di mana ya? Orang sebanyak ini gimana nyarinya.” Kata Dimas dalam hati. Segera diambilnya hape dari saku celana lalu mencari nama Destia didaftar kontak kemudian, call.
“Nggak diangkat. Sms aku yang semalam juga nggak dibales.” Dimas lemes, tenaganya tiba-tiba lumer mirip permen cokelat yang kena laser.

Acara akan segera dimulai, ruangan gedung sudah semakin sesak. Dimas duduk di kursi agak depan, sesekali ia berdiri dan menoleh ke belakang dengan harapan menemukan orang yang ia cari, tapi usahanya nihil. Padahal ia sengaja mengosongkan kursi yang ada di sebelahnya buat Destia andai ia benar-benar datang. Saat Dimas dengan hikmat mengikuti acara yang sedang berlangsung, tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya.

“Dimas?” kata orang itu yang ternyata cewek berjilbab, kulit kuning langsat mateng, sorot matanya tajam dan senyum yang berbinar-binar.
“Destia?” Dimas segera beranjak dari duduknya, hatinya berdebar-debar, bibirnya gemetar kayak orang sakit meriang. Mereka pun bersalaman.
“Maaf ya aku telat, soalnya hotel tempat aku nginap lumayan jauh dari sini, mana macet pula.”
“Iya nggak apa-apa, duduk di sini aja acaranya udah mulai tuh.”

Dimas masih tak bisa berkata-kata. Cewek yang hampir tiap hari disapanya lewat sms dan jejaring social, kini benar-benar nyata ada di sampingnya. Sesekali Dimas melirik Destia, dan sesekali pula ia bentur-benturin jidatnya dengan hape hanya untuk memastikan kalau ini bukan mimpi.
“Dia memang manis, semanis kata-kata puisi yang selalu ia tulis.” Dimas ngebatin. Ia tak kuasa menyembunyikan kekagumannya dan kekaguman itu telah berubah menjadi rasa suka. Dimas seperti menemukan seseorang yang paling mengerti dengan perasaannya. Perhatian-perhatian kecil yang kadang terlontar dari obrolannya dengan Destia membuat hati Dimas meleleh dan benih-benih cinta pun tumbuh subur.

“Eh Mas, tarian tradisional itu namannya apa?” Tanya Destia sambil memotret kumpulan penari yang lagi beraksi di atas panggung.
“Itu namanya tari Paraga, tarian empat etnis yang terkenal di daerah ini.”
“Ow, keren ya?”
“Iya, kayak cowok yang disebelah kamu ini,”
“Ih, Maleess banget..” Mereka berdua tampak menikmati beragam acara yang disajikan. Acara tersebut selain sebagai ajang bertemunya para blogger juga ada talk show interaktif bertema internet serta pameran budaya dan komunitas. Tak terasa waktu udah menunjukkan pukul lima sore tak terasa pula sudah seharian acara ini berlangsung dengan meriah.

Tiba di rumah, Dimas merebahkan diri di atas kasur, matanya menerawang ke langit-langit kamar, pikirannya tertuju pada Destia.
“Besok Destia akan balik ke Semarang, Aku harus bilang ke dia kalau aku suka sama dia.” Tekat Dimas sudah bulat. Ia nggak ingin kehilangan orang yang ia sayangi untuk kesekian kalinya, atau ia akan menyandang status jomblo tersukses abad ini.

“Destia, Besok kamu berangkat jam berapa?” Suara Dimas terdengar gugup dari ujung telepon.
“Jam 8 pagi, emang kenapa? Kamu mau nganter aku ke bandara?”
“Hmhmhm, iya sih kalau kamu nggak keberatan.”
“Yang berat itu barang bawaan aku, kalau kamu mau bantu bawain kan lumayan bisa ngirit ongkos porter,” “Yee, mana ada porter keren kayak aku.”
“Mulai deh narsisnya kumat, tiba-tiba perut aku mules banget dengernya, haha.” tawa Destia seketika memecah sunyinya malam. Obrolan ringan yang membuat pikiran Dimas mengawang-awang, Dimas pun tertidur sambil senyam-senyum padahal ia lupa cuci kaki dan gosok gigi. Cinta kadang membuat orang jadi jorok.

Pagi yang cerah. Dimas berdiri di depan pintu keberangkatan yang ramai, dihadapannya ada Destia dengan setelan jaket biru yang serasi dengan warna jilbabnya putih cerah dan tas travel yang bersandar di kakinya.
“Makasih ya, kamu udah nemenin aku jalan-jalan di kota ini.” Suara Destia syahdu mengalun diantara riuh orang-orang yang berlalu.
“Iya sama-sama, makasih juga kamu mau datang di kotaku yang sederhana ini. Hampir dua tahun kita berteman di dunia maya, Akhirnya waktu mempertemukan kita di dunia nyata, seperti mimpi.”
Destia yang emang jahil tiba-tiba nyubit tangan Dimas.
“Aaaa, kamu apaan sih?” Teriak Dimas.
“Sakit kan? Artinya kamu nggak mimpi,” Mereka pun tenggelam dalam canda, hati Dimas makin gelisah seperti ingin mendepak nyalinya untuk mengatakan cinta.

“Destia….” Dimas menunduk seakan tak mampu menatap Destia.
“Ya, kenapa, Mas?”
“Hmhm, mmm,”
 “Kamu kenapa sih? Kayak bingung gitu. Lima menit lagi aku check in loh. Kamu mau ngasih sangu ta?” Canda Destia.
“Hahaha, tapi sangunya ada dalam hati, mau?”
“Apa?? Kamu mau ngasih aku hati?”
“Udah ah, nggak penting. Kamu masuk gih ntar telat.”
“Bener nih aku masuk, ya,” Destia pun berbalik dan pergi.

Selang beberapa langkah, tiba-tiba Dimas mengejar Destia dan berteriak.
“Destia…!!!” Destia menoleh.
Mereka saling menatap sejenak,
“Aku punya cerpen buat kamu, ntar kamu baca di blog aku ya?”
“Cerpen buat aku?” Destia mengernyitkan dahi.
“Iya, nanti kabari aku kalau kamu udah baca cerpennya.”
“Oke, ntar aku baca kalau udah di ruang tunggu.”
Dimas duduk di depan restoran cepat saji bandara, jantungnya berdegup kencang. Sesekali matanya melirik ke layar hape mungkin saja ada kabar dari Destia. Tak berapa lama dering sms bergetar di hape Dimas. “Aku udah baca cerpen kamu.” Dimas segera berlari menuju loket tiket, dan bergegas masuk ke ruang tunggu.

“Dimas… Kamu kok ada di sini?” Destia kaget melihat Dimas ada di ruang tunggu keberangkatan.
“Aku pengen ngelanjutin cerita yang ada di cerpen itu,” Wajah Dimas tegang.
“Maksud kamu?”
“Cowok yang di cerpen itu adalah aku, dan ceweknya adalah kamu. Dalam cerpen itu kamu nggak yakin dengan perasaan aku ke kamu, jadi aku putuskan untuk ikut kamu ke Semarang untuk bertemu dengan orangtua kamu. Aku akan melamar kamu. Aku nggak bisa janjikan apa-apa sama kamu tapi aku janji akan menjadi suami yang terbaik buat kamu. Apa kamu bersedia?” Dimas menunduk menanti jawaban Destia.

Sinopsis cerpen Dimas, menceritakan seorang cowok yang menyimpan perasaan pada cewek yang tak pernah ia lihat dengan kasat mata dan tak pernah bertemu secara nyata. Pertemanan mereka terjalin hanya di dunia maya, hingga waktu mempertemukan mereka di suatu acara dan saat itu juga sang lelaki menyatakan cinta pada cewek itu. Tapi cewek itu menolak dengan alasan masih belum yakin dengan perasaan cowok itu.

Bersambung….

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE