Ceritaku Setahun Lalu

Masih teringat jelas waktu pertama kali saya tiba di kota ini, Gorontalo. 09 Januari 2013, mendarat seorang diri tanpa kekasih yang menemani (waktu itu lagi jomblo) sekarang? Tetap setia dengan status jomblo. Ah, gak penting. Yang penting sekarang sudah Januari 2014 kalau di kalender cuaca, bulan ini adalah bulan di mana hujan lagi semangat-semangatnya menerjang bahkan sampai mengundang banjir. Awal tahun identik dengan harapan baru, cita-cita baru dan resolusi apa yang akan dicapai ke depan, bukan ke belakang. Jadi ingat tagline salah satu cagub Sul-Sel ketika kampanye “Don’t look back” yang mengantar sang calon menjadi pemenang pilgub Sulawesi Selatan.

Kok nyerempet ke politik, itu cuma intro saja. Gak salah kan kalau kita belajar dari sisi positifnya. Politik itu bukan sesuatu yang harus dijauhi tapi harus dipahami maksud dan tujuannya demi kesejahteraan bersama. Loh, makin ngelindur nih. Oke, kembali ke pembahasan awal. Saya ingin berbagi pengalaman, kenapa pengalaman? Soalnya pengalaman adalah guru yang baik. Gak pernah ngasih PR (candaan jadul), tapi memang pengalaman adalah pelajaran hidup yang tak akan pernah redup, selama kita masih hidup maka pengalaman akan menjadi bahan bakar dalam menghadapi persoalan hidup.

Kunjungan pertama di kampus hijau

Tujuan saya berguru ke kota ini karena himpitan cita-cita, lebih tepatnya cita-cita ekspress. Cita-cita yang seketika melintas dan keadaan pun mendukung terwujudnya cita-cita itu. Singkatnya, saya pun menjalani hari-hari sebagai seorang dosen. Dosen? Iya, meskipun tampang saya rada gak pas dipanggil pak dosen (soalnya muka masih unyu-unyu gitu)..hehe. Pengalaman saya sebelumnya kerja di perusahaan swasta yang sejak pagi sampai mau pagi lagi plototin monitor (ah lebay), berhadapan sama printer juga bos yang galak. Tapi kini profesi saya menghadapi orang-orang yang berstatus mahasiswa.

Saya yang dulu pernah berstatus mahasiswa, tiba-tiba teringat masa-masa emas ketika menjadi pelajar tingkat tinggi. Kejahilan dengan berlagak sok pintar, rasa bangga yang berlebihan sebagai mahasiswa sehingga menganggap enteng wawasan dan kewibawaan dosen. Wah, jadi horor nih kalau dosa-dosa saya waktu masih jadi mahasiswa terulang ketika saya kini telah menjelma sebagai dosen. Tapi syukurlah, ketakutan saya gak terbukti. Mahasiswa di sini masih lugu, polos dan belum terkontaminasi oleh peradaban seperti di kota-kota besar yang kadang menepikan sisi rasional dalam menyikapi setiap permasalahan, ciee, serius amat.

Di suatu acara bersama rekan-rekan dosen

Mengingat pengalaman saya dalam mengajar masih dangkal (kalo gak mau dibilang cetek) jadi perlu belajar tentang cara mengajar yang baik dan benar. Saya kadang ngebayangin dosen-dosen saya dulu ketika mengajar, beragam tipe pengajaran mulai dari yang serius tingkat kabupaten hingga yang santai tingkat taman kanak-kanak. Pilihan hanya ada dua, jadi dosen killer bin kejam atau dosen ramah, baik hati dan gak sombong. Saya sebenarnya pengen pilih yang pertama (dosen killer) tapi berhubung wajah gak mendukung jadi mau gak mau saya terjerumus pada pilihan yang kedua.

Pertemuan pertama, ketika perkuliahan dimulai pukul 08.00 pagi. Selepas hujan namun gerimis masih berjejak di atas langit. Di kelas hanya satu mahasiswa cewek yang hadir, gimana nih? Ini kan bukan kelas privat yang cuma ngajar satu orang. Saya lalu menyuruhnya pulang daripada kami hanya saling tatap dan timbul rasa gimana gitu (maklum JOMBLO). Keesokan harinya, kelas sudah dipenuhi sekitar 30-an mahasiswa. Saya akan mengajar mata kuliah Pengantar Manajemen, sebelum masuk materi saya lebih dulu memperkenalkan diri. Dari beberapa pertanyaan yang diajukan mahasiswa, ada satu pertanyaan yang sulit saya jawab. Ketika mereka bertanya “Status bapak apa?” Dengan sedikit menahan haru, “Masih masuk daftar tunggu,” kata saya sambil tersenyum sinis.

Suasana ujian akhir semester

Gak terasa sudah dua semester saya lalui dengan beragam problematika dunia kampus yang kalau diceritakan semua bisa nyaingin sinetron “Tersanjung” yang sudah syuting puluhan episode. Saya belajar banyak tentang arti berbagi, berbagi ilmu dan pengalaman hidup, dosen bukan dewa yang tahu segalanya. Tak sedikit mahasiswa punya pengalaman lebih banyak dibanding dosennya mengingat gak sedikit mahasiswa saya yang berusia lebih tua daripada saya, dari mereka saya menimba ilmu tentang pergulatan hidup dalam meraih mimpi dan cita-cita serta bertukar pikiran tentang permasalahan yang terjadi dengan bangsa ini, oh so sweet.

Profesi mahasiswa saya (khusus di kelas karyawan), mulai dari pegawai, karyawan, pengusaha hingga pekerja serabutan namun punya semangat yang tinggi untuk menuntut ilmu. Ada yang rumahnya yang berada di sebelah gunung tetapi mereka tetap semangat kuliah karena itulah pengorbanan demi meraih cita-cita. Ada yang punya keterbatasan fisik namun semangat juangnya dalam belajar patut diacungi dua jempol. Ada mahasiswa yang gak pernah masuk kuliah tapi pas ujian akhir semester dia nongol (jangan dicontoh), ada yang rajin kuliah asal pacarnya juga hadir di kelas, pokoknya bermacam-macam kisah yang terurai selama saya mengajar di sini.

Senyum, tawa, sedih dan amarah bercampur dalam hati. Memasuki tahun 2014 gerbang perpisahan harus saya lalui, mencari kisah dan cerita di tempat lain. Kota ini begitu berkesan dengan keramahan dan keunikan masyarakatnya yang masih teguh dalam menjaga tradisi budaya nenek moyang, pengetahuan saya makin luas setelah menjelajahi banyak tempat wisata yang unik dan bersejarah di kota ini. Raga ini masih ingin menetap lebih lama di kota ini, namun hati sudah berontak tak sabar ingin kembali ke kota asal. Saya akan selalu merindukan kota ini, suasana alamnya dan tentunya mahasiswa-mahasiswa saya yang ceria dan penuh obsesi. Tetaplah semangat dalam meraih mimpi dan cita-cita kalian, selamat belajar.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE