CDMA Tinggal Kenangan

Layanan CDMA resmi berakhir, pengguna yang masih menggunakan layanan komunikasi murah tersebut bisa berganti ke jaringan 4G GSM yang disediakan Smartfren sebagai satu-satunya mantan operator CDMA yang masih eksis.

Sepak terjang layanan CDMA atau Code Divisio Multiple Acces awalnya menjadi opsi untuk pengguna GSM yang saat itu masih cukup mahal. Layanan CDMA memang punya beberapa keunggulan dibanding GSM di antaranya biaya telepon yang murah, penerimaan sinyal yang stabil meski berada di cuaca ekstrim sehingga kualitas suara yang dihasilkan tetap baik.

Selain itu layanan CDMA memiliki skema khusus dalam mentransmisikan suara ke dalam kode-kode khusus sehingga sulit dilacak dan masih banyak lagi kelebihan teknologi CDMA yang menjadikannya alternatif terbaik selain GSM.

Namun sayang, teknologi CDMA yang tak fleksibel membuatnya sulit tumbuh dan berkembang. Saya masih ingat saat pertama kali menggunakanan layanan CDMA dari operator Telkom yakni Flexi Trendy yang hanya bisa digunakan pada ponsel tertentu, itu pun cuma aktif di satu kota saja. Meski pada perkembangannya bisa dibawa ke kota lain namun harus diregistrasi ulang.

Desain ponsel CDMA juga sangat sederhana berbentuk batang khas ponsel murah dengan fitur seadanya mengingat fungsi utama layanan CDMA hanya untuk telepon dan SMS, untuk koneksi internet memang bisa namun harus melalui tahap-tahap yang cukup merepotkan.

Kenangan ponsel CDMA yang dulu saya pakai

Seiring berjalannya waktu, layanan CDMA mulai keteteran mengikuti perkembangan teknologi GSM yang semakin canggih. Tak hanya layanan suara, layanan data sekelas 4G kini bisa berjalan di jaringan GSM. Pilihan perangkatnya pun beragam, mulai dari smartphone, tablet, hingga modem portable bisa memanfaatkan layanan barbasis GSM tersebut.

Layanan CDMA bukannya tak berniat untuk mengimbagi laju GSM, diawal tahun 2003 pemain-pemain di layanan tersebut yakni Telkom dengan Flexi, Indosat dengan Star One, Smart, Mobile-8, serta Esia mampu melayani pengguna CDMA sebanyak 1,3 juta nomor hingga tahun 2004. Dengan iming-iming telepon murah serta harga ponsel yang terjangkau membuat pengguna menjadikan layanan CDMA sebagai pilihan kedua setelah merasakan teknologi GSM.

Popularitas CDMA mulai memudar sejak pemerintah menurunkan tarif interkoneksi untuk GSM di tahun 2011, biaya layanan suara lintas operator saat itu tak lagi mahal. Kekurangan layanan CDMA seperti cakupan jaringan yang terbatas, perkembangan teknologi yang berjalan lambat, serta ketersediaan perangkat yang itu-itu saja membuat orang lebih memilih layanan GSM yang lebih fleksibel terhadap perkembangan zaman.

Dampaknya di tahun 2013 beberapa operator layanan CDMA mulai kewalahan dan memilih untuk menghentikan layanan operasional. Sisanya memilih untuk menjalankan strategi akuisisi seperti yang dilakukan Smart Telecom pada Mobile-8 menjadi Smartfren yang mampu bertahan hingga sekarang. Teknologi yang digunakan Smartfren pun lebih kekinian yakni 4G LTE Advanced yang tentunya lebih baik dari layanan CDMA.

 

Hari ini layanan CDMA resmi ditutup oleh Smartfren yang merupakan satu-satunya pemain di layanan tersebut meski masih memiliki pelanggan cukup banyak. Pengguna CDMA disarankan untuk beralih ke jaringan 4G GSM Smartfren untuk menikmati layanan suara dan akses data yang lebih baik. Layanan CDMA mungkin sudah menjadi teknologi usang bagi perjalanan telekomunikasi di negeri ini, namun layanan tersebut tetap punya kenangan berupa cerita unik dan menarik bagi pengguna yang pernah menggunakannya.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE