Buku “Kompasiana, Etalase Warga Biasa” Khas Indonesia

Kemajuan teknologi informasi berbasis online kini semakin tren dikalangan pemburu berita. Tak hanya jurnalis profesional, warga biasa pun mampu menghadirkan beragam informasi yang dikemas apik layaknya konten berita hasil tulisan wartawan profesional. Hasrat menulis warga biasa dalam menjaring opini dan gagasan yang ada di sekitar mereka sangatlah tinggi, ini terlihat dari banyaknya komunitas-komunitas menulis warga yang lahir dari kepedulian terhadap lingkungan tempat tinggal mereka dan sebagai ajang evaluasi sampai sejauh mana perkembangan daerah mereka jika dibandingkan dengan daerah-daerah lain.

Sudah sering kita mendengar istilah Citizen Journalism atau lebih populer disebut jurnalis warga, laporan berita atau informasi yang ditulis oleh warga dengan bahasa yang sederhana tanpa harus terpaku aturan baku penulisan layaknya jurnalis profesional. Kemajuan teknologi membawa dampak besar pada penyebaran informasi, istilah ngeblog sudah jamak terdengar di kalangan pengguna internet. Buku “Kompasiana, Etalase Warga Biasa” adalah sebuah terobosan yang dilahirkan oleh seorang Pepih Nugraha, wartawan Harian Kompas dalam menjaring opini dan gagasan warga yang tak semuanya dijangkau oleh media arus utama (mainstream media) karena keterbatasan waktu (time) dan ruang (space).

Kompasiana yang digagas oleh mas Pepih awal mulanya hanya dikhususkan pada jurnalis Harian Kompas, blog jurnalis untuk membangun keakraban dengan pembaca setia dan sebagai media untuk menampung ide atau gagasan para jurnalis yang tak semuanya bisa dimuat di Harian Kompas karena keterbatasan waktu dan tempat. Usaha mas Pepih melahirkan Kompasiana bukannya tanpa hambatan, banyak yang menganggap sebelah mata kehadiran Kompasiana dan akan bersinggungan dengan Kompas.com yang lebih dulu eksis. Dalam Rapat Redaksi, seorang redaktur muda mempertanyakan manfaat Kompasiana untuk Harian Kompas, “Kalau tidak ada manfaatnya, bahkan keberadaannya malah merusak citra Harian Kompas, tutup saja Kompasiana.” (Kutipan bab 1 halaman 3).

Namun dengan kegigihan dan tekad yang kuat, mas Pepih bisa membuktikan jika persepsi menulis dan beropini tak harus dimonopoli oleh kalangan jurnalis dan kolomnis. Ini tampak dari antusias warga dalam menyalurkan opini, gagasan ataupun catatan harian di Kompasiana. Warga sekarang semakin kritis dan cerdas dalam menyikapi setiap fenomena yang terjadi di lingkungan dan daerah mereka, sehingga mereka butuh wadah yang sesuai dengan perkembangan jaman untuk menampung semua aspirasi mereka. Kompasiana yang awalnya hanya eksklusif bagi jurnalis Harian Kompas perlahan mulai terbuka untuk publik. Warga bisa saling beriteraksi dengan mengirimkan tulisan, reportase, opini, catatan harian maupun fiksi serta menjalin pertemanan dengan bergabung sebagai anggota Kompasiana (Kompasianer).

Kompasiana adalah blog para jurnalis dan publik yang beralamat di http://kompasiana.com, diluncurkan 22 Oktober 2008. Hingga September 2013 memiliki jumlah anggota lebih 200.000 orang. Kompasiana menjadi pelopor lahirnya blog sosial yang berciri khas Indonesia dengan platform tegas MENULIS, konten-konten hasil tulisan dari warga harus asli buatan sendiri, bukan hasil plagiasi atau mengklaim tulisan orang lain. Perjuangan mas Pepih dalam melahirkan, merawat dan membesarkan Kompasiana adalah bentuk totalitas yang berkolaborasi dengan kreativitas dalam memajukan Harian Kompas. Seperti yang mas Pepih katakan dalam bukunya, “Menjadi pelopor meski cuma dilakukan satu kali, akan jauh lebih penting daripada seribu kali tetapi cuma menjadi pengekor.”

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE