Budaya Persiapan Pernikahan Adat Bugis

Tulisan ini diikutkan dalam tantangan Blog Bucket yang menjadi salah satu rangkaian kegiatan acara untuk menyambut #SewinduAM.

Saya selalu ingin menulis tentang budaya yang ada di kota Makassar dan sekitarnya, mungkin karena banyaknya ragam budaya yang ada di kota Anging Mammiri ini membuat saya bingung harus menulis tema budaya yang mana. Namun tantangan itu datang dari salah satu peserta Blog Bucket, @sriereeves atau sebut saja Sri Haryani Buna yang memilih tema budaya untuk saya selesaikan sebagai tantangan Blog Bucket kali ini.

Sejarah sebuah negara, kota atau daerah tidak lepas dari budaya atau adat istiadat yang melekat dalam kehidupan masyarakatnya, kata budaya menurut KBBI merupakan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan yang sukar untuk diubah, kebiasaan yang sudah mendarah daging dan dianggap wajar seperti kepercayaan, kesenian dan adat istiadat yang ada di suatu wilayah atau negara. Budaya juga merupakan warisan dari nenek moyang yang dilakukan secara turun temurun sehingga menjadi ciri khas yang membedakan suku satu dengan yang lain atau daerah satu dengan daerah yang lain.

Saya ingin belajar dan mengenal lebih jauh tentang budaya pernikahan suku Bugis karena saya lahir dari keturunan Jawa tepatnya di daerah Malang dan terbiasa dengan budaya pernikahan adat Jawa, namun setelah menetap cukup lama di kota Makassar saya sangat tertarik dengan proses pernikahan adat Bugis yang sering saya saksikan di lingkungan tempat tinggal saya. Entah kebetulan atau tidak, saya belajar sekaligus mempraktekkan mengingat tidak lama lagi saya akan mempersunting gadis asal daerah Camba dan prosesi pernikahannya tentu saja akan memakai adat Bugis.

Pada umumnya tahapan pernikahan terdiri dari tiga bagian, yaitu tahapan pra nikah, nikah dan setelah menikah. Saya baru menyelesaikan tahapan pra nikah yang terdiri dari beberapa proses sebelum berlanjut ke tahapan puncak dan sakral yaitu prosesi akad nikah. Berikut rangkaian tahapan pra nikah suku Bugis yang telah saya lalui. Tahap pertama disebut pendahuluan atau mammanu-manu yang bermakna seperti burung yang terbang kesana-kemari, pihak laki-laki mengutus seseorang untuk mengunjungi rumah calon mempelai perempuan tujuannya untuk mencari tahu keadaan, status dan rekam jejak keluarga sang gadis incaran tersebut.

Di jaman internet sekarang ini sudah banyak media sosial yang bisa dijadikan alat untuk mengetahui biodata dan status seseorang meskipun itu tidak menjamin 100% jadi sebaiknya gunakan juga pendekatan konvensional seperti berkunjung ke rumah sang gadis. Hal tersebut sekaligus untuk mempermudah komunikasi antara pihak keluarga calon mempelai laki-laki dengan pihak keluarga calon perempuan. Biasanya proses mammanu-manu ini dirangkaikan dengan proses mappese-pese, yaitu perwakilan dari pihak laki-laki menyatakan maksud kunjungannya yang ingin melamar sang perempuan. Setelah sang perempuan dan keluarganya setuju maka ditentukanlah kapan acara lamaran secara resmi akan dilaksanakan.

suasana mappetu ada

Tahap kedua dinamakan mappetu ada atau acara lamaran. Pada proses ini, keluarga dari pihak laki-laki datang secara resmi ke rumah calon mempelai perempuan dengan membawa bosara yang berisi kue-kue tradisional seperti onde-onde, barongko, kue lapis dan lain-lain. Pada kesempatan ini pula keluarga pihak laki-laki menyerahkan pattenre’ atau passio yang merupakan pengikat berupa cincin beserta sesuatu yang manis-manis seperti buah tebu atau buah nangka yang diibaratkan sebagai sebuah harapan dan kehidupan kedua pengantin berjalan lancar. Di acara mappetu ada kedua keluarga akan membicarakan tentang mahar atau mas kawin yang menjadi syarat sahnya perkawinan, setelah itu ada istilah dui menre atau dui balanca sebutan untuk uang belanja yang digunakan untuk membiayai pesta pernikahan calon mempelai perempuan.

Penentuan besaran dui menre (uang naik) atau dui balanca (uang belanja) beragam dan biasanya mengacu pada status sosial calon mempelai perempuan, semakin tinggi status sosial calon mempelai perempuan maka semakin tinggi pula dui menre atau dui balanca yang harus disiapkan oleh calon mempelai laki-laki. Biasanya keluarga pihak perempuan akan melihat berapa kemampuan keluarga dari pihak laki-laki, namun tidak jarang dialog panjang kedua keluarga terjadi ketika membahas tentang dui menre dan dui balanca ini. Setelah kedua keluarga sepakat perihal mahar, mas kawin dan uang belanja selanjutnya ada istilah tanra esso akkalaninengeng atau penentuan tanggal pernikahan.

Penyerahan dui balanca

Tahapan pernikahan suku Bugis yang saya lalui tidak seperti jaman dulu yang memiliki susunan lengkap dan semua harus dilewati. Pihak keluarga calon mempelai perempuan cukup luwes dalam menentukan tahapan-tahapan pra nikah dengan tujuan untuk efisiensi waktu dan menghemat biaya tanpa mengurangi nilai-nilai yang terkandung dalam budaya pra nikah tersebut. Budaya pra nikah merupakan awal dari sebuah proses sebelum memasuki tahapan selanjutnya yaitu pernikahan yang segala sesuatunya tentu butuh persiapan lebih dibanding ketika menggelar acara pra nikah.

Saya mempelajari nilai-nilai budaya yang terkandung dalam setiap tahapan pernikahan adat Bugis yang tujuannya beragam seperti mammanu-manu yang mengajarkan tentang adab sopan santun untuk mengenal dan mendekati seorang perempuan. Mappetu ada atau proses lamaran yang merupakan penghargaan bagi kaum perempuan dan upaya dari pihak laki-laki untuk memohon restu pada kedua orang tua dari calon mempelai perempuan. Pemberian dui menre atau dui balanca menjadi isyarat dan kemuliaan kaum perempuan yang diberikan oleh calon mempelai laki-laki. Selain itu ada nilai kekerabatan dan kegotongroyongan yang erat ketika dua keluarga bersama-sama melaksanakan tahapan pernikahan dari awal hingga akhir acara.

Referensi :
1. makassarnolkm.com
2. http://melayuonline.com
3. sanggartamalatejakarta.blogspot.com

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply to Triadi C Laksono Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE