Buah Dari Penantian

Selepas Magrib, aku bersiap menuju rumahmu yang sederhana. Hujan deras menemani laju kendaraanku yang berjalan perlahan, tak berapa lama hujan reda namun belum mampu menenangkan detak jantungku yang berdegup kencang. Ruas jalan yang kian sesak, deru kendaraan bersahutan dan lampu kota yang benderang seakan menemani perjalananku agar tak hanyut dalam lamunan. Ya, pikiranku menerawang pada kisah kita setahun yang lalu, ketika aku coba menyatukan rasa namun kau belum sigap untuk bersua. Saat aku ingin mengikrarkan janji setia namun kau belum siap untuk mencinta.

Hingga suatu hari, setelah aku shalat Magrib. Dering telepon mengejutkanku, di ujung sana terdengar suara yang belum aku kenal. Wajar saja, ternyata suara itu adalah saudara perempuanmu yang sulung. Dia bercerita tentang kau dan rasa yang dulu terhempas, dia coba meyakinkan jika kini kau telah berubah. Kini kau telah siap menerima cinta yang dulu aku tawarkan, aku terhenyak seakan tak percaya mengingat perangaimu sudah lama aku kenal hingga aku tahu kau tak akan semudah itu berubah pikiran. Namun aku tetap berprasangka baik karena tak mungkin saudaramu meniupkan kabar angin.

Seminggu berselang, aku sudah kembali ke kota asal. Tujuanku hanya satu, ingin memastikan apa yang sudah diceritakan oleh kakak perempuanmu adalah benar. Kini aku sudah berdiri di seberang jalan, tampak dihadapanku rumahmu yang sunyi namun lalu lalang kendaraan membuatnya terasa riuh. Aku melangkah dengan sejuta tanya dalam benak, semoga apa yang aku rencanakan sesuai dengan harapan. Di ruang tamu sudah menunggu mama dan kaka perempuanmu, mataku mencari sosokmu tapi tak ada. Ternyata kau ada di rumah tantemu yang sedang mengadakan arisan keluarga, tak lama lagi kau akan pulang, begitu kata kakakmu.

Tak berapa lama, kau datang dengan motor matic warna putih. Senyummu menyapaku dari jauh lalu kau berjalan mendekat dan kita pun bersalaman. Kemudian kau duduk di sebelah kakakmu sambil menyeruput teh hangat yang ada di atas meja. Akhirnya aku bertemu kau lagi setelah kejadian setahun yang lalu, tak ada yang berubah masih tetap memesona dengan senyum yang khas. Aku lalu membuka obrolan dengan meyakinkan mamamu jika aku masih menunggu kesiapanmu untuk dipinang. Tatapan mamamu menghujam ke arah kau yang tampak sigap, “terserah mama saja,” jawabmu singkat.

Aku menarik napas panjang lalu menahannya sejenak, aku hembuskan perlahan sambil mengucap rasa syukur pada yang Maha Kuasa. Penantianku selama hampir dua tahun akhirnya membuahkan hasil, penantian untuk melengkapi kepingan mimpi dan harapan. Meski aku pernah putus asa, rapuh dan jatuh namun aku percaya jika rasa itu tak akan pernah luruh. Rasa itu melekat kuat dalam hati hingga aku tak mampu untuk melupakannya meski harus tergerus oleh luka dan kecewa. Kini kita sudah saling menautkan hati, saling menggenggam jemari dan saling mencintai. Semoga untaian doa dalam bingkai mimpi masa depan kita diridhoi Sang Ilahi.

Makassar, 26/01/2014

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE