Blogger dalam Pasungan

Ilustrasi

Ngeblog sekarang tidak sesimpel dulu. Kalau zaman dulu, ngeblog dulu setelah itu baru dipikirkan. Sekarang, pikirkan dulu sebelum ngeblog.

Berkaca dari kasus Muhadkly atau akrab dipanggil Acho yang harus berurusan dengan aparat hukum, setelah tulisan di blog pribadinya yang berisi kekecewaan pada pengelola apartemen yang berujung pada tuntutan dari pihak pengelola yang tidak terima jika mereka dianggap mangabaikan hak-hak konsumen yang sudah seharusnya menjadi tanggung jawabnya.

Tulisan Acho bisa dibaca di sini, yang menurut saya sama sekali tidak ada unsur fitnah atau pencemaran nama baik seperti yang dituduhkan oleh pengelola apartemen. Tulisan tersebut murni bentuk kekecewaan seorang konsumen terhadap barang atau jasa yang telah ia beli namun berbanding terbalik dengan apa yang sebelumnya mereka tawarkan. Tulisan Acho juga dilengkapi fakta berupa foto dan juga kebijakan-kebijakan pengelola yang terkesan abu-abu.

Seiring perkembangan internet dan media sosial serta maraknya penyebaran ujaran kebencian, fitnah, dan berita palsu membuat pemerintah harus mengeluarkan undang-undang yang mengatur tentang penggunaan internet dan media sosial. Sejak awal lahirnya undang-undang tersebut sudah memicu polemik dan kontroversi, apalagi kalau bukan isi dari undang-undang ITE itu yang dianggap sebagai pasal karet yang sering dimanfaatkan orang-orang berduit dan punya kuasa untuk meredam kritik.

 

Ngeblog Dulu dan Sekarang

Tulisan Acho merupakan bentuk protes pada pengelola apartemen tempat tinggalnya yang dianggap tak sesuai ekspektasi, seperti pembukaan lahan terbuka hijau yang tak kunjung terealisasi, pembatasan area parkir untuk penghuni apartemen, hingga penetapan biaya PBB yang kurang transparan. Sebagai konsumen hal yang lumrah jika Acho merasa perlu untuk melayangkan protes mengingat pemberian hak-hak konsumen pun dilindungi oleh undang-undang.

Tapi kenyataannya tulisan Acho yang viral membawanya harus berurusan dengan hukum, pengelola berdalih omzetnya menurun karena tulisan Acho yang sudah menyebar di internet dan sedang ramai diperbincangkan. Kasus Acho bukan korban pertama sejak undang-undang ITE diberlakukan pemerintah, sebelumnya sudah banyak nama-nama yang harus berurusan dengan pihak berwajib bahkan mendekam di balik jeruji besi hanya karena status atau komentar di media sosial.

Khusus di dunia blogging, kasus Acho menyisakan pro dan kontra. Beberapa orang di grup WA yang saya ikuti bahkan menilai cara Acho menyampaikan komplain di blog adalah salah, kecuali yang bersangkutan punya beking yang kuat. Namun menurut saya justru blog atau media sosial lah wadah yang tepat untuk menyuarakan kritik atau kekecewaan agar didengar banyak orang, karena sebelumnya Acho sudah berusaha menghubungi pengelola namun tak digubris. Dan setelah tulisannya viral barulah pengelola seperti kebakaran jenggot.

Ngeblog zaman sekarang tak sesimpel dulu, jika dulu saya bisa menulis tanpa perlu memikirkan ini itu, apa yang ada di kepala secara spontan bisa menjadi sebuah tulisan. Kini sebelum menulis saya harus memeras otak memikirkan ini itu, jangan sampai ada pihak-pihak tertentu yang merasa keberatan dan menuntut saya hanya karena tulisan yang menurut saya remeh-temeh. Anehnya negara ini.

Blogger Siaga Satu

Kasus Acho secara tak langsung menciutkan nyali blogger-blogger ketika menyerukan protes dan lebih berhati-hati saat ingin mengungkapkan kekecewaan terhadap sesuatu di alam maya. Padahal sejatinya blogger punya peran penting dalam penyaluran informasi yang aktual dan murni dari dalam hati, dan mungkin juga belum terkontaminasi oleh intimidasi atau tekanan dari pihak-pihak tertentu.

Mencuatnya kasus Acho seolah membuka mata bagi para blogger-blogger atau pegiat dunia maya bahwa di era internet seperti saat ini, kebebasan berpendapat dan menyampaikan informasi yang sesuai fakta pun tak menjamin seseorang bebas dari sentuhan hukum. Indonesia memang merupakan negara hukum, namun alangkah bijaknya bila hukum dibuat tak hanya untuk mengatur namun juga melindungi masyarakat yang sebagian besar belum mengerti dengan hukum.

Jangan sampai hukum yang bertujuan untuk mengatur dan melindungi malah dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang punya uang dan kuasa untuk membungkam para pengkritik sehingga oknum tersebut terkesan selalu benar di mata hukum, dan menindas orang-orang yang tak mengerti hukum.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE