BlackBerry tak lagi Trendy, BBM pun Tergadai

Siapa yang tak mengenal BlackBerry, produsen ponsel yang sempat menjadi primadona dikalangan pengguna perangkat telekomunikasi, bahkan menjadi semacam symbol kaum elit dan banyak dipakai oleh pebisnis. BlackBerry telah berhasil menguasai sebagian besar pasar ponsel tanah air yang sebelumnya dikuasai oleh Nokia yang lebih dulu unjuk gigi dengan merajai 40% market share sebelum kedatangan iPhone dan Android yang perlahan tapi pasti mendepak posisi sang raja dari singgasananya. BlackBerry memanfaatkan betul strategi bisnis untuk menguasai pasar dan menggoyah dominasi Nokia dengan membuat produk yang bisa menaikkan prestise penggunanya, jadi tidak heran jika harga ponsel BlackBarry kala itu dibenderol dengan harga tinggi namun tetap diminati dan diburu oleh masyarakat dari berbagai kalangan.

Tahun 2008 menjadi awal kejayaan BlackBerry dan tanpa diduga Barack Obama yang kala itu terpilih sebagai presiden Amerika Serikat ikut mempromosikan BlackBerry karena berhasil memanfaatkan jejaring social yang sedang booming dengan menggunakan ponsel BlackBerry untuk menjaring dukungan. Popularitas BlackBerry melesat dan perusahaan yang dulu bernama Research in Motion (RIM) menjadikannya perusahaan yang paling bernilai di Kadana dengan nilai USD 83 miliar. Tak dapat dipungkiri, smartphone BlackBerry membawa angin segar bagi industry ponsel tanah air. Dengan jaminan keamanan data tingkat tinggi serta personalisasi lebih luas pada jejaring social yang meledak saat itu serta layanan chatting BlackBerry Messenger (BBM) menjadikan BlackBerry makin berkibar.  

Salah satu fitur andalah BlackBerry adalah aplikasi BBM yang memungkinkan orang melakukan obrolan gratis via teks dengan terlebih dahulu saling berbagi PIN yang ada di ponsel BlackBerry. Nah, fitu ini yang paling diminati oleh pengguna BlackBerry, bahkan ada orang yang rela membeli BlackBerry hanya untuk merasakan fitur BBM tersebut. Merasa di atas angin, BlackBerry terlena dan merasa puas dengan performa bisnis yang telah mereka capai, perkembangan teknologi yang semakin hari semakin pesat tak direspon dengan cepat. Apple dengan produk iPhone serta Samsung dengan Android-nya perlahan mulai menggerus pasar BlackBerry.

Hingga pada akhir tahun 2012, Samsung dengan ponsel berbasis Android benar-benar menjadi penguasa industry ponsel tanah air bahkan dunia, disusul Apple dengan jajaran ponsel iPhone-nya. BlackBerry berusaha bangkit dengan melahirkan produk-produk baru untuk merebut kembali pasar mereka, namun pesaing mereka Samsung dan Apple terlalu perkasa untuk ditaklukkan, Manajemen BlackBerry mencari solusi agar mereka tatap bertahan dan bisa bersaing dalam industry ponsel secara global, produk BlackBarry yang dulu menjadi raja dan primadona kini dianggap ponsel biasa yang tak berdampak apa-apa pada penggunanya. Dulu orang dengan bangganya menenteng handset BlackBerry, tapi kini memiliki ponsel BlackBerry sudah dianggap lumrah dan wajar seperti layaknya ponsel merek lain.

Roda kehidupan terus berputar, revolusi dalam suatu masa adalah hal yang alami tergantung bagaimana kita menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman yang akan terus berjalan. Demi menjaga eksistensi dan bertahan hidup meski dengan tersengal-sengal, BlackBerry merelakan fitur andalannya BBM dinikmati oleh para pesaing, BlackBerry Messenger fitur chatting yang dulunya eksklusif hanya dimiliki oleh pengguna BlackBerry kini bisa digunakan oleh ponsel selain BlackBerry. Banyak kalangan yang mengatakan itu sebagai langkah berani atau sama saja ‘bunuh diri’ mengingat tidak ada lagi fitur yang bisa diandalkan oleh ponsel BlackBerry selain BBM. Kemampuan BlackBerry sama dengan smartphone lain yang telah memiliki fitur BBM, dan secara tak langsung pengguna BlackBerry akan memilih Android atau iPhone yang dianggap lebih mengikuti tren teknologi dan keinginan konsumen.

Prediksi pengamat industry telekomunikasi ternyata benar, sejak dibukanya akses BBM lintas platform apa lagi buat ponsel-ponsel Android dan iPhone yang banyak digandrungi masyarakat membuat produsen ponsel pesaing kegirangan, terlebih ponsel buatan China yang lebih dulu merasakan dampak sukses Android kini lebih bergairah setelah aplikasi BBM tersemat dalam produk mereka. Fitur BBM menjadi daya tarik tersendiri untuk meningkatkan volume penjualan dan memperluas pangsa pasar mereka. Bagaimana dengan nasib BlackBerry? Meski pihak manajemen BlackBerry mengatakan mereka baik-baik saja namun berita tentang BlackBerry yang merumahkan 40% tenaga kerjanya untuk menekan kerugian yang mencapai USD 1 miliar, hingga menjual BlackBerry pada pihak lain sedikit banyak akan mengusik kenyamanan konsumen yang masih setia dengan ponsel BlackBerry.

Apapun langkah strategis yang diambil oleh pihak BlackBerry jangan sampai mengorbankan kenyamanan konsumen yang loyal dengan produk BlackBerry. Di tengah gempuran ponsel Android dan iPhone yang membanjiri industry ponsel tanah air, ada sekitar 15 juta pelanggan aktif yang masih setia menggunakan layanan BlackBerry dari berbagai operator local. Ini mencerminkan masih ada kepercayaan pelanggan pada produk-produk BlackBerry dan menjadikan ponsel BlackBerry sebagai perangkat smartphone untuk menunjang kegiatan sehari-hari.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply to Triadi C Laksono Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE