Bahagia itu Sederhana

Saat pikiran suntuk oleh kerjaan yang tak kenal waktu, semangat pun tiba-tiba menurun drastis. Aku Larut dalam kesibukan yang membelenggu nadi seakan tak memberi jeda untuk sejenak menghela nafas panjang. Rutinitas yang menguras tenaga dan fikiran hingga rasa jenuh selalu mengintai dalam setiap langkah kaki. Ke mana penyemangat itu? Di mana senyum dan tawa itu? Tak ada yang tahu.

Kota ini sudah tak seperti dulu lagi, kota ini tak seramai ketika teman-teman seperjuangan masih ada di sini. Kota ini tak semeriah teriakan mimpi yang mereka dengungkan setiap pagi, kota ini tak lagi riuh oleh canda tawa mereka yang mampu mengikis penat dan lelah, mereka adalah teman, sahabat dan keluarga yang saling mengikat dan saling menyemangati namun kini harus terpisah demi mewujudkan mimpi dan cita-cita.

Bahagia itu sederhana. Ketika kita berkumpul dengan orang-orang terkasih, meleburkan perbedaan yang menjatuhkan persepsi, menjalankan roda kehidupan tanpa adanya iri dengki dan menjinakkan ego yang menyiksa hati semua akan terasa nyaman dan damai jika kita melakukannya secara ikhlas penuh kesabaran. Seiring waktu berlalu kebersamaan itu akan menemui garis akhir, seperti ada yang hilang dalam keseharian namun itulah kehidupan pasti akan tiba saatnya berakhir dan berganti dengan hal yang baru.

Bahagia itu selalu hadir dalam hati, entah itu melalui senyuman atau perasaan nyaman ketika melakukan sesuatu hal. Setiap manusia butuh penyemangat dan penyemangat itu lahir dari orang-orang terkasih dan orang-orang terdekat. Saat mereka tak lagi ada di sisi seketika itu juga semangat pun akan bergegas pergi, butuh waktu untuk menumbuhkan semangat itu lagi dan prosesnya tak pernah mudah karena bahagia itu selalu berawal dari kesukaran, sedih dan kecewa.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE