Babak Baru Kehidupan

Adzan subuh berkumandang, udara dingin masih mendekap erat seakan tak merelakan diri ini untuk beranjak dari tempat tidur, saya pun bersiap menuju masjid yang jaraknya hanya sekitar lima langkah dari rumah. Subuh kali ini terasa lain dari biasanya, rumah yang dulunya sepi kini telah ramai oleh saudara dan keluarga yang berasal dari berbagai daerah. Beragam aktivitas mulai tampak sejak subuh hari, ibu-ibu menyiapkan masakan, bapak-bapak mengatur kursi-kursi yang ada di bawah tenda hingga merias isi rumah agar terlihat lebih indah. Selepas shalat Subuh, saya menyempatkan diri bersenda gurau dengan sepupu serta ponakan yang lucu-lucu. Melihat tawa mereka bisa sedikit meredam ketegangan dan rasa gugup yang ada di hati, semoga akad nikah hari ini berjalan lancar.

Hari ini saya akan menikah dengan kekasih tercinta, Mutmainnah Hamid. Wanita terindah yang saya kenal sejak lama, wanita istimewa yang dulu hanya saya anggap sebagai teman biasa, wanita luar biasa yang mengajarkan saya banyak hal tentang arti kehidupan hingga saya yakin jika ia adalah jodoh dan masa depan yang dititipkan Allah SWT pada saya. Setelah berbagai acara pra pernikahan dilalui tanpa ada hambatan yang berarti, kini puncak acara berupa akad nikah akan segera digelar. Sabtu, 8 November 2014 atau bertepatan dengan 15 Muharram 1436 H merupakan hari yang bersejarah dalam hidup kami, hari di mana dua hati akan disatukan dalam ikrar pernikahan yang suci, hari di mana dua insan manusia akan memasuki babak baru dalam kehidupan, hari di mana dua keluarga akan berbaur menjadi satu dalam hubungan kekeluargaan yang hakiki.

Matahari mulai beranjak dari peraduan, dengan setelah jas warna biru gelap saya masih berdiam diri dalam kamar. Lantunan doa-doa tak pernah lepas dari ucapan, semoga saya tak gugup dan bisa santai menghadapi moment sekali seumur hidup. Di luar kamar terdengar riuh beragam kesibukan seluruh penghuni rumah, suara tangis anak kecil hingga bunyi piring makan yang saling bersahutan berbanding lurus dengan degup jantung yang tak beraturan. Waktu menunjukkan pukul delapan pagi, masih ada sekitar satu setengah jam lagi untuk mempersiapkan diri sebelum berangkat ke tempat prosesi akad nikah. Saya menyempatkan diri sarapan nasi goreng sembari bercengkerama dengan Adly, ponakan yang super bandel. Ia kelihatan gagah dengan setelan jas mini yang membungkus tubuhnya yang kurang berisi.

Jarum jam sudah mendekat ke angka sembilan lewat tiga puluh menit, semua orang telah bersiap-siap berangkat menuju ke tempat acara akad nikah, tak terkecuali saya dengan wajah tegang dan ekspresi wajah datar membuat senyum seakan sulit dihempas. Pakde yang diamanahkan oleh bapak untuk mendampingi saya kemudian masuk ke dalam kamar,”Sudah siap?” tanyanya. Saya mengangguk sambil mengucap Insya Allah. Sebelum ke luar kamar, saya bersimpuh dihadapan Bapak dan Ibu memohon doa dan meminta maaf atas segala kesalahan yang telah lalu. Suasana harupun menyelimuti isi kamar kemudian dengan ucapan Bismillah, saya melangkahkan kaki menuju mobil dan bergegas ke rumah calon mempelai wanita untuk melakukan prosesi akad nikah.

Sekitar satu jam perjalanan, akhirnya rombongan tiba di rumah calon mempelai wanita. Saya masih diam terpaku di dalam mobil kemudian tak berapa lama datang wanita paruh baya menjemput dan mengajak saya masuk ke dalam rumah. Saya lalu duduk di belakang meja kecil di dampingin oleh pakde, kepala KUA dan di depan saya ada saudara tertua dari calon mempelai wanita yang bertindak sebagai wali nikah bersama seorang saksi. Suasana khidmat makin terasa ketika lantunan ayat suci Al Quran dibacakan, setelah itu pak KUA memberi nasihat pernikahan kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan surat nikah serta kelengkapan administrasi lainnya.

Semakin mendekati acara inti, detak jantung semakin cepat berlari seakan membuyarkan konsetrasi dan sulit untuk menenangkan hati. Saat jemari menjabat erat kemudian diikuti dengan ikrar janji suci pernikahan membuat suasana semakin haru, meski sempat tersendat di awal namun dengan sekali tarikan napas saya pun mengucapkan ijab kabul dengan lantang dan penuh penghayatan. Alhamdulillah, saya resmi menjadi seorang suami dan imam bagi Mutmainnah sang istri tercinta. Rasa syukur terucap dalam doa kami bersama seluruh undangan yang hadir atas segala kemudahan dan kelancara yang diberikan oleh Allah SWT. Insya Allah saya siap memasuki babak baru kehidupan bersama istri tercinta hingga usia tak lagi mampu menopang tubuh kami yang renta.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE