Awal Musim Inter Kurang Gereget? Jangan Kaget

inter.it

Hanya meraih satu kemenangan dalam tiga laga mungkin sudah biasa jika menilik perjalanan tim Biru Hitam dalam beberapa musim terakhir.

Apalagi lawan La beneamata didua laga awal Serie-A musim ini hanya tim yang di atas kertas seharusnya Mauro Icardi dkk bisa meraih poin penuh. Namun nyatanya, Sassuolo mampu menjungkalkan Inter di laga perdana Serie-A dengan skor 0-1 dan di laga selanjutnya Inter hanya meraih hasil imbang 2-2 setelah lebih dulu unggul 2-0 kala menjamu Torino di Giuseppe Meazza.

Nanti di giornata ketiga saat bersua Bologna, Inter baru bisa meraup tiga angka dan saat ini bertengger di posisi tujuh klasemen sementara dengan koleksi empat poin.

Musim ini skuad Luciano Spalletti memang terbebani ekspektasi tinggi dari para fans mengingat performa Inter musim lalu yang berhasil finish di peringkat empat dan berhak lolos ke Liga Champions, selain itu aktivitas transfer yang cukup agresif dengan mendatangkan nama-nama beken membuat fans seolah tak terima jika di awal musim ini penampilan Nerazzurri biasa-biasa saja.

Di bursa transfer musim panas 2018 ini Inter sukses mendaratkan pemain-pemain seperti Radja Nainggolan, Lautaro Martinez, Matteo Politano, Keita Balde, Kwadwo Asamoah, Sime Vrsaljko, dan Stefan De Vrij.

Meski ditiga laga awal Serie-A hanya Stefan De Vrij yang selalu bermain penuh sedangkan Asamoah dan Politano bermain penuh didua laga saja, sisanya pemain-pemain baru tersebut dipasang bergantian sesuai dengan taktik dan formasi yang diinginkan sang pelatih.

Musim ini Spalletti masih meraba-raba formasi yang tepat untuk Inter, hal itu terlihat dari tiga laga resmi yang sudah dilakoni Milan Skriniar dkk dengan tiga formasi yang berbeda. Pelatih berusia 59 tahun itu belum mematenkan satu formasi andalan untuk mengarungi musim 2018/2019. Apakah Spalletti kurang percaya diri dengan stok pemain yang ada sekarang?

Menilai performa sebuah tim yang baru memainkan tiga laga kompetitif memang tak adil,  padahal masih ada 35 laga lagi yang bisa dijadikan ajang pembuktian jika sebuah tim ingin dikatakan sukses menjalani sebuah kompetisi.

Spalletti pastinya juga sadar jika ingin memadukan pemain baru dan pemain lama butuh proses, tak cukup hanya pada pertandingan persahabatan yang tentu saja euforianya berbeda dengan pertandingan resmi. Butuh kekuatan mental dan fisik apalagi buat pemain yang baru meniti karier di liga tertinggi Italy, tentu butuh proses adaptasi yang tak sebentar.

Mungkin karena itulah Spalletti lebih memercayakan pemain baru yang punya jam terbang tinggi di Serie-A seperti De Vrij eks pemain Lazio, Asamoah yang sebelumnya memperkuat Juventus, dan Politano mantan pemain Sassuolo untuk mengisi pos-pos yang dianggap kurang gereget.

Memang hasil sekali kalah, sekali imbang, dan sekali menang bukanlah hasil yang buruk untuk Handanovic dkk namun jika dibadingkan dengan Juventus yang berhasil menyapu tiga laga awal dengan kemenangan, tentu bikin Inter wajib mengevaluasi diri. Target mengusik dominasi si Nyonya Tua yang musim lalu meraih scudetto ketujuh secara beruntun bisa gagal jika sejak awal Inter tak tampil prima.

Apalagi musim ini La Beneamata bakal melakoni jadwal padat setelah musim lalu berhasil lolos ke Liga Champions, tentu ujian sebenarnya akan tersaji saat skuad Biru Hitam berhadapan dengan tim-tim top Eropa seperti Barcelona, Tottenham Hotspur, dan PSV Eindhoven yang merupakan lawan mereka di grup B Liga Champions.

Sebagai fans layar kaca saya tentu ingin hasil yang terbaik untuk tim kesayangan, namun di sisi lain harapan itu juga harus realistis. Keikutsertaan Inter di turnamen bergengsi seperti Liga Champions setelah hampir enam musim absen tentu menyisakan sedikit keraguan, sampai sejauh mana skuad Ular Besar besar bisa melangkah.

Kekuatan tim-tim besar Eropa saat ini pasti jauh berbeda jika dibandingkan saat Inter meriah titel juara Liga Champions 2010 lalu, begitu pun dengan penggawa Nerazzurri yang tentu saja butuh suntikan mental dan fisik lebih saat berlaga di turnamet sekelas Liga Champions.


Namun sikap optimis itu perlu untuk membangun semangat tim agar selalu tampil spartan di setiap laga. Meski terlihat berat, Inter bukanlah tim guram. Mereka punya sejarah panjang dan masih pantas dicap sebagai salah satu tim besar dunia dan tentu saja pernah juga merasakan sukses di Eropa. Musim kompetisi baru saja bergulir, masih banyak waktu bagi Inter untuk membuktikan diri apakah akan berakhir bahagia atau nestapa. Forza Inter.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE