Apa itu Egois?

Menurut teori kepribadian psikodinamika oleh Sigmund Freud, bahwa kepribadian manusia terdiri dari tiga sistem utama : id, ego dan superego. Sifat egois pada manusia berbeda-beda tingkat sensitifitasnya, dan tak mudah mengatur ego yang kadang terbalut dengan emosi. Dan menurut “Oxford Advanced Learner Dictionary, egoism atau selfishness itu artinya hanya mempedulikan diri sendiri, tidak mempedulikan orang lain.” (dikutip dari http://3lien.blogspot.com). Sangat alamiah bila setiap manusia memiliki egoism yang tinggi, karena banyak faktor yang mempengaruhi hingga sifat egoism kadang tak terkendali. Salah satunya, kecewa karena keinginannya tak tercapai hingga melampiaskan dengan memaksakan kepentingannya dan tak peduli dengan perasaan orang lain.

Faktor kejiwaan mempengaruhi besar tidaknya keegoisan seseorang, emosi yang labil membuat perasaan sakit hati dan berdampak ingin menang sendiri dan menganggap apa yang dilakukan selalu benar. Tak heran, kalau banyak pertengkaran yang timbul baik itu antara pasangan kekasih, partner kerja dan dalam keluarga sekalipun yang sebagian besar karena sifat egois. Maka dari itu dibutuhkan pengendalian emosi bila kita sedang menghadapi suatu masalah yang berat, mencoba berfikir positif adalah langkah tepat untuk mengurangi sifat egois yang merajalela dalam diri kita.

Pria dan wanita memiliki kadar sensifitas keegoisan yang berbeda, hal ini berdasarkan dari karakteristik pria dan wanita itu sendiri. Pria bertindak berdasarkan akal dan emosi, sehingga dalam menyikapi setiap permasalahan, pria cenderung cepat emosi. Tapi itu tak berpengaruh dengan sifat egois yang ada dalam diri pria, karena kekuatan mental pria mampu menekan sifat egois yang muncul dalam emosi. Lain halnya dengan wanita, wanita bertindak dengan memprioritaskan perasaan dan hati. Sehingga wanita terlihat lebih tenang dalam menghadapi suatu masalah, namun kapan saat perasaan wanita sudah kehilangan batas kesabaran, disitulah egois muncul dan akan mengalahkan rasa emosi wanita.

Tak ada manusia yang sempurna, tapi manusia bisa menutup celah kekurangan itu dengan jiwa besar dan rasa saling memaafkan. Tak seharusnya pertengkaran atau perselisihan karena egois mengakhiri hubungan silaturahmi antar sesama manusia. Sikap bijaksana dengan mengucapkan “maaf” adalah solusi yang paling ampuh untuk menenangkan hati yang sedang galau. Semoga apa yang kita lakukan akan selalu dalam ridho Tuhan Yang Maha Esa.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply to triadicl Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE