Anjungan Losari, Kini Nggak Asyik

Salah satu view Anjungan Pantai Losari

Warga yang tinggal di perkotaan dan dikepung oleh bangunan gedung-gedung tinggi yang menjulang, tentu mendambakan ruang publik yang nyaman sebagai tempat untuk berkumpul bersama teman, sahabat dan keluarga. Ruang yang menjadi kebutuhan warga untuk sekadar menikmati suasana kota dari sisi yang berbeda, tanpa memikirkan kemacetan yang merajalela, polusi udara yang kian akut serta permasalahan kebersihan yang tak kunjung teratasi membuat warga kota sulit memiliki ruang publik yang benar-benar aman dan nyaman.

Di kota Makassar, ada beberapa public space yang bisa digunakan warga sebagai tempat menghabiskan waktu luang dan berkumpul bersama teman atau keluarga. Salah satunya Anjungan Pantai Losari yang letaknya berada di pesisir pantai Losari, bisa dikatakan anjungan Pantai Losari ini merupakan maskotnya kota Makassar. Pengunjung bisa menikmati sunset dan sunrise di anjungan yang kini sudah semakin luas dan indah dengan penataan atribut patung pahlawan asal Makassar serta beragam hiasan yang menjadi ciri khas kota yang dikenal dengan kota Anging Mammiri.

Beberapa hari yang lalu, saya bersama sahabat berkunjung ke anjungan tersebut. Sudah cukup lama saya tak menginjakkan kaki di kawasan yang selalu ramai oleh warga terlebih saat akhir pekan dan hari libur. Minggu sore menjadi hari yang pas untuk mengisi liburan dan melihat sunset, tapi cuaca mendung menghalangi niat saya untuk menikmati sunset di anjungan pantai Losari yang merupakan salah satu tempat terbaik bagi siapa saja yang ingin memandangi matahari kembali ke peraduan. Beragam aktivitas warga mulai dari jogging hingga bercengkerama dengan teman dan keluarga tersaji di anjungan Losari.

Masjid Terapung Saat Malam

Ketika waktu Magrib tiba, saya lalu bergegas ke Masjid terapung yang terletak di kawasan anjungan Losari. Masjid yang benama Amirul Mukminin itu berdiri di atas tiang pancang pantai Losari oleh karena itu masjid tersebut lebih dikenal dengan sebutan masjid terapung. Jamaah shalat Magrib memadati masjid hingga ke teras, angin laut berhembus sepoi-sepoi membuat jamaah larut dalam kekhusyukan beribadah. Selesai shalat, saya lalu kembali menyusuri kawasan anjungan yang kini lebih ramai oleh penjaja minuman ringan, makanan dan pengamen.

Suasana malam di anjungan pantai Losari memancarkan cahaya lampu yang benderang, lampu hias menerangi tiap sudut tempat membuat malam lebih semarak. Saya dan sahabat duduk menghadap laut sambil memandangi orang-orang yang sedang berkeliling di sekitaran pantai dengan perahu yang didayung berbentuk angsa. Tak berapa lama datang dua anak berumur sekitar 6 tahun bernyanyi dengan gitar kecil, saya pun memberinya uang seribuan. Selang beberapa menit datang lagi tiga anak ABG mengamen di samping saya, sahabat saya berusaha menolak dengan halus tapi anak itu tak juga pergi.

Anak pengamen itu bergumam, “hargai suara kami, kami ini manusia bukan binatang,” kata salah satu dari mereka. Saya dan sahabat hanya terdiam seolah tak peduli tapi mereka mendesak agar diberi uang, saya merasa tak nyaman akhirnya mengalah dan memberinya uang, mereka lalu pergi. Ternyata anak pengamen bukan hanya mereka tapi ada beberapa yang tampak menghampiri para pengunjung lain yang sedang asyik menikmati suasana malam di anjungan, meski si pengunjung sudah mengatakan “tidak” tapi pengamen itu tetap memaksa. Kehadiran pengamen yang meresahkan pengunjung tentu mengurangi kenyamanan dan rasa aman.

Suasan Anjungan Losari saat malam

Sudah banyak kejadian yang melibatkan pengunjung dan pengamen yang ada di anjungan pantai Losari bahkan sebelum anjungan tersebut direvitalisasi menjadi seperti sekarang. Bahkan kabarnya sampai jatuh korban, gara-gara pengunjung menolak memberi uang dan si pengamen naik pitam hingga menikam pengunjung tadi. Sangat disayangkan jika anjungan pantai Losari yang indah dan menjadi daya tarik wisatawan terkontaminasi oleh ulah oknum yang tak bertanggung jawab, pemerintah kota Makassar harus menertibkan pengamen-pengamen liar yang mengusik kenyamanan warga kota yang berkunjung di anjungan pantai Losari.

Jangan sampai anjungan pantai Losari sebagai maskot kota Makassar dan ruang publik favorit bagi warga punya kesan kurang baik di mata pengunjung dan wisatawan karena kehadiran pengamen yang sangat meresahkan dan mengganggu kenyamanan. Contohlah warga kota Jogja yang punya kreativitas dalam bermusik sehingga pengamen jalanan punya citra baik di mata warga dan wisatawan, mereka membentuk grup musik dengan mengkombinasikan alat-alat musik tradisional dan modern, suara mereka juga merdu sehingga pengunjung terhibur dan tak sungkan untuk mengeluarkan uang sebagai imbalan. Sebaiknya pengelola anjungan pantai Losari harus berbenah dan lebih kreatif agar warga merasakan manfaat ruang publik yang benar-benar aman dan nyaman.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE