Andai Bisa Terbang Gratis, Inginnya Bulan Madu Di Kampung Halaman Ayah Dan Ibu

PENTAX Image

Salah satu view di kampung halaman

Tinggal jauh dari kampung halaman tentu ada suka dan duka, sukanya kita bisa menikmati suasana baru, lingkungan baru, dan bertemu dengan orang-orang baru. Namun dukanya ketika rindu menyapa hati dan berkumpul bersama keluarga di kampung halaman menjadi obat penawar rindu yang tak bisa ditawar-tawar lagi, tapi sayang ada jarak yang harus dilewati.

Saya kadang iri dengan orang-orang yang bisa berkumpul dengan keluarga setiap hari atau ketika weekend tiba, mereka menghabiskan waktu liburan di kampung halaman yang jaraknya bisa ditempuh lewat jalur darat. Terlebih saat lebaran tiba, mudik menjadi rutinitas tahunan yang selalu dinanti oleh orang-orang yang pergi merantau dan jauh dari kampung halaman. Mudik menjadi ajang silaturrahim bagi seluruh keluarga, tempat berbagi cerita, dan meleburkan rindu setelah sekian lama tak bertemu.

Hal itu bukan menjadi masalah bagi mereka yang tinggal tak jauh dari kampung halaman, setiap saat bisa mudik tak harus menunggu lebaran tiba. Namun bagi sebagian orang yang tinggal jauh dari kota kelahiran dan dipisahkan lautan atau samudera tentu berkumpul bersama keluarga menjadi sesuatu hal yang langka, okelah kalau orang itu lebih secara finansial jadi mereka bisa mudik kapanpun menggunakan pesawat. Tapi bagi yang berkantong pas-pasan tentu mereka harus menabung dulu untuk bisa pulang kampung dan moment paling pas untuk berkumpul dengan keluarga yaitu saat lebaran.

Saya merasakan bagaimana suka dukanya jauh dari kampung halaman, ikut bersama orangtua merantau di pulau Sulawesi tepatnya Makassar, Sulawesi Selatan. Ayah dan Ibu harus meninggalkan kota kelahirannya, Surabaya sejak tahun 1970 hingga sekarang kami sekeluarga masih menetap di Makassar. Dulu Ayah harus menabung agar bisa mudik naik kapal laut, kala itu jalur laut menjadi moda transportasi favorit bagi orang-orang yang berpenghasilan menengah ke bawah, jadi tak heran ketika menjelang lebaran pelabuhan Soekarno-Hatta di Makassar terlihat seperti lautan manusia yang ingin pulang ke tanah kelahirannya di pulau jawa.

*****

Seiring perkembangan transportasi baik itu darat, laut, dan udara yang semakin pesat serta kemudahan untuk mencari informasi tentang rute dan jadwal keberangkatan melalui perangkat telekomunikasi (smartphone) membuat orang-orang bisa pulang kampung kapan saja. Pesawat yang dulu hanya dinikmati oleh orang-orang yang berkantong tebal, kini banyak maskapai yang menawarkan harga tiket promo dan tentu saja biayanya lebih terjangkau. Jadi siapa saja bisa “terbang” ke kota kelahiran dari sabang sampai merauke, bahkan anda bisa terbang gratis seperti yang ditawarkan Traveloka, informasi lengkapnya bisa dilihat di sini.

Tak terasa hampir 30 tahun saya tinggal jauh dari kampung halaman, jarak Makassar – Surabaya jelas bukan rute yang singkat dan tidak setiap tahun saya bisa mudik untuk berkumpul bersama seluruh  keluarga di sana, selain waktu yang banyak tersita oleh kerjaan kondisi keuangan pun turut berperan sehingga mudik hanya tinggal impian. Terakhir kali saya pulang kampung ketika berumur 21 tahun, ketika itu saya menghadiri acara pemakaman kakek. Setelah itu saya tak pernah lagi mudik dan hanya bertukar kabar dengan keluarga di sana lewat telepon atau via media sosial.

Saya punya mimpi untuk bisa berkunjung ke kampung halaman bersama istri, istri saya yang asli Bugis juga ingin sekali berkeliling Surabaya oleh karena itu saya mencoba ikut kontes menulis yang diadakan Traveloka, semoga saja bisa dapat hadiah tiket gratis Citilink PP bebas pilih rute langsung domestik tentu tujuan saya Makassar – Surabaya PP. Di sana saya ingin mengajaknya bertemu saudara-saudara, berziarah ke makam kakek dan nenek juga mengunjungi tempat-tempat wisata yang eksotis seperti, mendaki gunung Bromo, berpesiar ke Monumen Kapal Selam, bermain air di Ciputra Waterpark dan masih banyak lagi tempat-tempat keren di Surabaya yang sayang untuk dilewatkan.

Agar lebih mudah, saya coba membuat itinerary perjalanan jika nanti bisa berkunjung ke kota Pahlawan. Saya memilih hari weekend yang kebetulan ditambah dengan tanggal merah pada 17 Agustus 2015 agar tak mengganggu aktivitas kerja. Maskapai penerbangan Citilink yang terkenal dengan tarif murah namun tetap memberikan pelayanan yang prima menjadi pilihan saya. Jadwal penerbangan yang on time juga menjadi nilai plus sehingga saya memilih armada Citilink. Untuk booking tiket, saya selalu menggunakan Traveloka app yang tersemat di smartphone Android. Penggunaan yang mudah serta respons yang cepat membuat waktu lebih efisien untuk menentukan rute dan jadwal pergi dan pulang.

Screenshoot pemesanan tiket Citilink UPG – SUB via Traveloka App :

Screenshot_2015-06-01-11-09-41 Screenshot_2015-06-01-11-10-44

Traveloka App juga memudahkan saya ketika ingin memesan kamar hotel Swiss-Belinn Manyar, Surabaya tinggal pilih hotel, tentukan tujuan, waktu check-in, durasi kemudian cari hotel yang diinginkan. Sangat mudah dan cepat. Swiss-Belinn merupakan hotel bintang tiga dengan harga terjangkau, fasilitas yang tawarkan juga lengkap dan berada di pusat kota Surabaya.

Screenshot_2015-06-01-11-17-32 Screenshot_2015-06-01-11-18-27
Itinerary perjalanan pun selesai dan semua semakin mudah dengan menggunakan Traveloka App. Harga tiket yang ditawarkan lebih murah dibanding situs tiket online yang lain, saya sudah membuktikannya ketika melakukan perjalanan dinas dari Makassar – Gorontalo dan harga tiket termurah bisa saya dapat di Traveloka App. Tampilan Traveloka App yang sederhana memudahkan siapa saja untuk menggunakannya dan tentu saja info seputar tiket promo dari berbagai maskapai perbangan sangat mudah diperoleh, cukup daftarkan saja email anda pada website Traveloka.
Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply to dWi Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE