Akhirnya Ke Surabaya

Sudah cukup lama tak berkunjung ke kampung halaman orang tua, dan kali ini bisa ke sini lagi bersama seluruh keluarga.

Perjalanan dimulai pukul 15.00 WITA, saya dan rombongan yang berjumlah delapan orang termasuk satu bayi dan anak-anak bersiap menuju bandara Internasional Sultan Hasanuddin dengan pesawat Sriwijaya Air menuju Surabaya. Jadwal keberangkatan sempat tertunda yang awalnya pukul 17.45 WITA namun baru take off pukul 18.45 WITA, sudah jadi hal yang biasa kalau maskapai tanah air sering delay tanpa memberikan informasi yang jelas dan kadang juga tanpa sepengetahuan calon penumpang.

Setelah check ini kami diarahkah ke gate 2, namun hingga pukul 18.00 belum ada informasi tentang keberangkatan untuk Sriwijaya Air tujuan Surabaya. Nanti setelah istri saya bertanya ke petugas maskapai barulah kami tahu kalau rute tersebut dipindahkan ke gate 6. Tanpa informasi via speaker atau biasanya petugas berkeliling ke seluruh gate untuk memberitahukan perubahan tersebut, tentu hal ini bisa merugikan calon penumpang.

Setelah tiba di gate 6 ternyata orang-orang sudah antre untuk naik ke pesawat. Bagaimana andai istri saya tidak proaktif bertanya pada petugas maskapai tentang jadwal penerbangan yang berubah itu, tentu kami akan ketinggalan pesawat. Sepertinya ini merupakan masalah klasik yang sering terjadi pada penerbangan tanah air, terkhusus lagi pada maskapai yang menawarkan tarif tiket murah namun diimbangi dengan pelayanan yang juga ikut berkurang.

Selama satu jam lima belas menit mengudara, akhirnya saya dan rombongan tiba di bandara Internasional Juanda, seperti bandara-bandara besar lainnya. Kini bandara Juanda terus bersolek menjadi lebih baik, dibanding bandara Sultan Hasanuddin tentu saja Juanda punya nilai lebih dari segi penataan yang lebih rapi dan kebersihan yang lebih terjaga.

Oh ya, satu lagi tentang sopir-sopir taksi di bandara Juanda yang tak seagresif bandara Sultan Hasanuddin, kalau kita sudah bilang “tidak” maka sopir-sopir itu akan pergi. Beda dengan Makassar, kata “tidak” sepertinya belum cukup ampuh menghentikan mereka yang terus menawarkan jasanya.

depan hotel Chiaro

Pukul 20.00 WIB saya dan rombongan bergerak menuju hotel, tepatnya hotel Chiaro yang berlokasi di jalan Trunojoyo 17 Sidoarjo. Untuk ukuran hotel murah meriah, tempat ini lumayan bagus. Area parkir yang cukup luas, kamar standar yang nyaman dan bersih, meski akses wifinya sedikit lemot dan kadang sulit diakses, serta tak disediakan perlengkapan mandi seperti sikat dan pasta gigi. Namun secara keseluruhan hotel Chiaro saya rekomendasikan bagi anda yang mencari penginapan murah dan nyaman di kota Sidoarjo.

Letaknya pun tak jauh dari alun-alun kota yang setiap malam selalu dipadati pengunjung untuk sekedar menghabiskan malam dengan berkumpul bersama sahabat atau kerabat. Tak jauh dari alun-alun terdapat penjual Rawon Ratu yang katanya rendah kolesterol, meski dijajakan di pinggir jalan dengan konsep ala pedagang kaki lima namun rasanya cukup pas dengan lidah saya. Setelah makan dan berkeliling sebentar, saya dan keluarga pun kembali ke hotel untuk istirahat menyiapkan stamina buat esok.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE