Akhirnya Inter Buka Puasa di Liga Champions

Sudah enam musim Inter puasa tampil di Liga Champions dan akhirnya musim depan Nerazzurri berbuka puasa di kompetisi paling bergengsi di Eropa tersebut.

Wajar jika pemain dan pendukung Inter merayakan kemenangan atas Lazio bak memenangkan sebuah gelar juara, wajar jika suporter setia Inter menangis haru melihat tim kesayangannya tampil di Liga Champions musim depan, dan wajar jika seluruh penggemar tim Biru Hitam tak kenal lelah mendukung Mauro Icardi dkk saat melakoni laga hidup mati di giornata terakhir Serie A musim ini.

Musim 2017/2018 liga Italia resmi berakhir dengan Juventus sebagai juara bertahan dan Napoli di posisi runner-up. AS Roma dan Inter pun resmi melengkapi empat tim yang berhak mewakili Italia di kompetisi paling elit di Benua Biru yakni Liga Champions.

Bagi Inter, perjalanan musim ini terbilang berat. Posisi empat besar di klasemen akhir didapat dengan perjuangan super berat. Meski sempat tampil meyakinkan di awal musim dan digadang-gandang sebagai pesaing Juventus dan Napoli di jalur scudetto, namun akhirnya Inter harus bersusah payah hanya untuk lolos ke zona Liga Champions.

Bahkan kans merasakan gegap gempita persaingan merebut trofi Kuping Besar itu sempat menitipis di pengujung musim ini, beruntung Inter memiliki pelatih sekaliber Luciano Spalletti dan deretan pemain-pemain yang tampil luar biasa khususnya saat laga ‘final’ kontra Lazio di Olimpico Stadium, dini hari tadi.

Inter Style

Inter bermain dengan formasi andalah 4-2-3-1, skema permainan yang nyaris sama seperti laga-laga sebelumnya. Hanya Matias Vecino pemain cadangan yang jadi starter menggantikan Roberto Gagliardini yang belum siap tampil karena cedera. Selebihnya Inter turun dengan kekuatan penuh plus semangat berlipat untuk memenangkan pertandingan.

Gaya permainan Inter di tangan Luciano Spalletti musim ini mengutamakan penguasaan bola dan melakukan serangan lewat sisi sayap yang ditempati Candreva dan Ivan Perisic. Sejak kick off babak pertama, Inter menggebrak berusaha mengurung pemain Lazio di area pertahanannya. Namun petaka menimpa Nerazzurri di menit ke-9 saat sepakan Adam Marusic membentur wajah Ivan Perisic sehingga mengubah arah bola dan masuk mulus ke gawang Inter.

Tertinggal 1-0 memaksa Inter meningkatkan tempo permainan. Hasilnya menit ke-29 Danilo D’Ambrosio sukses menyamakan skor dengan memanfaatkan kemelut di depan gawang Lazio. Hasil imbang 1-1 belum membuat Inter aman, kemenangan masih menjadi target utama Samir Handanovic dkk.

Keasyikan menyerang membuat  lini pertahanan Inter kedodoran saat Lazio melakukan serangan balik, akibatnya skuat Biru Hitam kembali kecolongan di menit 41 lewat sepakan terukur Felipe Anderson. Tertinggal 2-1 membuat armada Ular Besar makin beringas, bayang-bayang kegagalan enam musim beruntun gagal tampil di Liga Champions mulai menghantui.

Dianulirnya penalti Inter oleh tayangan VAR di menit 72 membuat pertandingan semakin panas dan tensi permainan meningkat, enam menit setelahnya Inter kembali dapat penalti akibat pelanggaran Stevan De Vrij terhadap Mauro Icardi. Sang kaptern sendiri yang jadi eksekutor dan sukses menyarangkan gol ke-29-nya musim ini, skor imbang jadi 2-2.

Usaha Inter untuk memenangi laga terlihat muda setelah Lulic menerima kartu kuning keduanya akibat melanggar Ivan Perisic, dan tak butuh waktu lama untuk skuat La Beneamata unggul. Tandukan Matias Vecino memanfaatkan sepakan sudut Marcelo Brozovic berujung gol dan membawa Inter unggul 3-2.

Hingga peluit akhir babak kedua Inter sukses mengamankan tiga angka dan berhak ke Liga Champions musim depan. Meski koleksi kedua tim sama yakni 72 poin namun Inter unggul head to head berkat hasil imbang 1-1 di pertemuan pertama.

Kontroversi Stevan de Vrij

Sebelum laga Lazio kontra Inter, sosok bek tengah Lazio, Stevan de Vrij jadi sorotan. Banyak yang meragukan profesionalisme pemain asal Belanda itu dan menyarankan agar pemain yang musim depan bermain untuk Inter tersebut tidak diturunkan di laga tersebut, namun alenatore Lazio, Simone Inzaghi tetap memainkan De Vrij sebagai starter.

Kontroversi pun merebak selepas laga usai mengingat tekel keras pemain 26 tahun itu pada Icardi di menit 77 berujung hukuman penalti yang mengubah jalannya pertandingan. Suara-suara sumbang yang berpendapat bahwa bek Lazio membantu Inter pun merebak di ranah internet, meski isu tersebut coba ditepis Icardi dan mengatakan bahwa “semua pemain bermain profesional. Saya tidak berpikir dia melanggar dengan sengaja, dia hanya berusaha menghentikan saya mencetak gol.”

*****

Apapun itu, hasil akhir yang dramatis dan positif membuat seluruh skuat Inter optimis jika musim depan mereka bisa tampil lebih baik. Target lolos ke UCL sudah berhasil diwujudkan skuat Biru Hitam musim ini, tinggal bagaimana mereka mengarungi musim depan dengan rangkain jadwal pertandingan yang padat, salah satunya keikutsertaan mereka di kompetisi paling bergengsi antar klub-klub tangguh Eropa musim 2018/2019. Forza Inter

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE