Ada Apa denganmu (Bangsa ku)

Lagu “Ada apa denganmu” milik Peter Pan, dulu sangat populer. Lagu itu menceritakan tentang gadis yang telah mengalami perubahan sikap, dan sang lelaki berusaha tahu apa yang menyebabkan sang gadis berubah. Namun gadis itu hanya diam hingga lelaki itu pun berkata “Ada apa denganmu.” Mungkin itu hanya gambaran atau kiasan untuk bangsa ini yang lagi cidera. Ya, bangsa ini telah dilanda cidera dengan krisis yang sangat menyengsarakan rakyatnya. Entah berapa lama rakyat harus bertahan dalam kehidupan yang tak nyaman, berapa lama rakyat harus menguras keringat hanya untuk merasakan kehidupan yang layak. Sungguh ironis nasib bangsa yang kaya dengan sumber daya alam dan limpahan material hasil bumi tapi rakyatnya hidup serba kekurangan.

Cerita lagu di atas bisa diibaratkan dengan keadaan bangsa ini, rakyat tak pernah lelah berteriak-teriak pada pemimpin bagsa ini, mengadu keadaan keluarga, anak dan saudara yang makin terhimpit kegetiran masa depan. Namun apa daya, sang pemimpin hanya diam hingga wajar bila rakyat pun berkata “ada apa dengan bangsaku?” kenapa rakyat berteriak? kenapa rakyat mengadu? Itu karena mereka tidak puas dengan kinerja pemimpin, mereka merasa teraniaya dengan kebijakan pemimpin yang tak berpihak pada mereka. Sungguh ironis.

Bangsa ini sedang cidera, dan rakyat yang paling merasakan sakit yang menahun dan tak kunjung sembuh. Kasus korupsi yang tak pernah tuntas dan merugikan bangsa triliunan rupiah, kebijakan konversi minyak tanah ke gas dan tak diimbangi dengan koordinasi dari pihak-pihak terkait, sehingga berakibat banyaknya ledakan gas, dan lagi-lagi rakyat yang menjadi korban. Belum lagi kinerja wakil rakyat yang “terhormat”, seakan menutup mata dan telinga dengan persoalan bangsa yang tak ada ujung pangkalnya.

Pemimpin bangsa ini seakan kebal dengan teriakan dan keluhan dari rakyatnya, curahan hati rakyatnya bak angin lalu yang tak butuh timbal balik dan perhatian dari sang pemimpin. Jadi wajar bila rakyat nekat melakukan aksi nyata untuk sekedar menggugah pemimpin yang terlena, seperti yang dilakukan artis senior Pong Harjatmo, mencoret atap gedung DPR/MPR dan menuliskan “jujur, adil dan tegas.” Itulah perwakilan rakyat yang lelah berteriak, mengadu, bahkan lelah dengan janji pemimpin yang hanya sebatas mimpi. Rakyat sudah mulai kritis dan bijak dengan keadaan bangsa ini, menuntuk kesejahteraan adalah hak rakyat dan kewajiban pemimpin untuk mewujudkannya.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE