30

Pagi yang cerah meski awan tersamar oleh jejak mendung, mentari pun masih enggan menyapa. Aku tergugah lebih cepat dari biasanya, padahal hari ini tak ada aktivitas yang menuntutku untuk bangun lebih pagi. Aku meraih ponsel di bawah bantal, tiga pesan singkat nampak di layar. Pengirimnya dari ayah, ibu dan saudara perempuanku. “Selamat ulang tahun dengan bertambahnya usia Insya Allah kamu selalu sehat, sukses serta bijak dalam mengambil keputusan untuk kebaikan bersama, Amin.” Ucap Mama. Kemudian disusul papa, ” Selamat hari ulang tahun, semoga sukses dan apa yang dicita-citakan segera terwujud.”

Hasil karya @Ryztha07

Sekejap saja rindu merangkul raga, rindu yang tak mampu lagi terbendung, hanya luapan air mata yang berjejak sebagai tanda jika rindu ini begitu tinggi menggunung. Untuk kali pertama aku menerima ucapan selamat ulang tahun dari keluarga melalui pesan singkat, jarak jelas merupakan penyebab. Aku terpisah ratusan kilometer dari kota asal, kota di mana seluruh keluarga tercinta berkumpul, kota di mana aku lahir dan tumbuh bersama curahan kasih sayang mereka. Aku merindukan saat-saat ketika bangun dan melihat senyum ceria mereka, merasakan peluk hangat mereka dan menikmati kebersamaan penuh cinta.

Kini aku harus mampu memendam rasa rindu itu, rasa yang kadang membuatku luluh dan rapuh pada sepenggal cita-cita yang coba aku raih. Rindu yang kadang menciutkan nyali setiap untaian mimpi-mimpi yang akan aku wujudkan sepenuh hati, rindu yang menguras angan dan khayal untuk segera kembali berkumpul bersama mereka. Tiga puluh bukanlah usia yang singkat untuk menimba pengalaman hidup, bukan waktu yang sesaat untuk belajar arti dari sebuah kegagalan. Tiga puluh adalah awal perjuangan demi meraih harapan dan cita-cita di masa yang akan datang.

Suka Artikel ini? Silakan berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE